Perang di Ukraina, Gaza, dan ketegangan di Selat Taiwan berpengaruh besar kepada produksi senjata di dunia.
02 Des 2024 08:20 WIB · Internasional
STOCKHOLM, SENIN — Penjualan senjata.global meningkat di tahun 2023. Peningkatan itu dipicu oleh konflik di Ukraina, Gaza, dan belanja pertahanan sejumlah negara. Nilai total penjualan dari 100 perusahaan persenjataan adalah 632 miliar dollar AS atau naik 4,2 persen dibandingkan dengan angka penjualan di tahun 2022.
Data itu tercantum di dalam laporan terbaru Institut Kajian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) yang berbasis di Swedia. Laporan dikeluarkan pada Senin (2/12/2024) di laman resmi lembaga tersebut.
Penjualan senjata meningkat di semua kawasan dunia, terutama di Rusia dan Timur Tengah. SIPRI mengategorikan penyebabnya menjadi empat, yaitu perang di Ukraina, perang di Timur Tengah, meningkatnya ketegangan di Asia Timur, dan peningkatan kapasitas pertahanan sejumlah negara.
SIPRI menyurvei 100 perusahaan pembuat persenjataan. Sebanyak 41 perusahaan berada di Amerika Serikat. Sejak penelitian SIPRI tahun 2018, lima besar perusahaan pembuat senjata global selalu di AS.
Mereka menemukan bahwa perusahaan-perusahaan kecil ternyata lebih cepat tanggap menyiasati meningkatnya permintaan. ”Tren ini berlanjut sepanjang 2024,” kata peneliti SIPRI, Lorenzo Scarazzato.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/02/cd14b9f0-ad55-4a00-b4a6-e255d885e51b_jpg.jpg)
Bahkan, ia mengungkapkan, kenaikan produksi itu sesungguhnya belum memenuhi jumlah permintaan yang membeludak. Di 41 perusahaan AS, terjadi kenaikan penjualan di 30 perusahaan. Namun, Lockheed Martin dan RTX justru mengalami penurunan.
Direktur Program Belanja Militer dan Produksi Persenjataan SIPRI Nan Tian menjelaskan, hal ini karena Lockheed Martin dan RTX perusahaan berukuran besar. Ragam komoditas persenjataan yang mereka produksi banyak sehingga bergantung pada rantai pasok yang lebih panjang dan rumit. Penurunan produksi terlihat paling signifikan di pembuatan rudal dan sistem pertahanan udara.
Sebanyak 27 perusahaan berada di Eropa, kecuali Rusia. Meskipun secara persentase peningkatan penjualan mereka hanya 0,2 persen, perusahaan-perusahaan ini membuat sistem persenjataan yang sangat canggih. Pada saat yang sama, mereka juga tetap membuat senjata tradisional karena banyak permintaan dari Ukraina.
Sementara itu, dua perusahaan Rusia bersama-sama meraup kenaikan omzet 49 persen. Mayoritas diperoleh oleh Rostec, badan usaha milik Pemerintah Rusia yang memproduksi mayoritas persenjataan untuk dipakai di Perang Ukraina.
Sisa 23 perusahaan berada di Asia Timur dan Asia Selatan serta enam di Timur Tengah (Asia Barat). Di Asia Timur, ada program peremajaan dan peningkatan pertahanan. Produk-produk Korea Selatan juga mulai merambah memenuhi permintaan dari Eropa. NCIST yang berada di Taiwan mencatat kenaikan penjualan 27 persen karena meningkatnya tensi di Selat Taiwan.
Bagi enam perusahaan di Timur Tengah, tiga berada di Israel dan tiga di Turki. Produksi mereka bertambah dengan adanya perang Gaza. Turki juga meningkatkan pertahanan dalam negeri karena melihat konflik di Ukraina yang berjarak dekat dengan mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/04/0a94f891-d783-4451-9ef3-4a0b486eba71_jpg.jpg)
Bagi produsen senjata di AS, Taiwan adalah salah satu pelanggan terbesar mereka. Jumat lalu, Washington mengegolkan penjualan persenjataan ke Taiwan dengan nilai 385 juta dollar AS. Tembusnya izin ini hanya beberapa jam sebelum pengumuman Presiden Taiwan William Lai Ching-te akan melawat ke negara-negara Pasifik, termasuk Hawaii di AS.
Departemen Pertahanan AS mengatakan, produk-produk yang dijual ke Taiwan mencakup sistem radar dan suku cadang untuk pesawat tempur F-16.
”Penjualan ini mengirim sinyal yang salah kepada kelompok separatis Taiwan dan menegasikan hubungan bilateral AS-China,” kata pernyataan Kementerian Luar Negeri China. Beijing menentang transaksi tersebut dan mengecam perbuatan AS.
AS dan China terikat Prinsip Satu China yang mengatakan bahwa Taiwan adalah wilayah otonom di bawah kedaulatan China. Namun, AS memiliki hubungan erat dengan Taiwan yang mempraktikkan demokrasi. AS juga terikat berbagai perjanjian dengan Taiwan untuk selalu membantu mereka jika terancam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/23/74828317-63b9-4e21-9828-ac2da95e1eb9_jpg.jpg)
Pada saat yang sama, China dikritik Jerman atas tuduhan membantu Rusia. Padahal, China adalah anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kritik dikeluarkan oleh Menlu Jerman Annalena Baerbock. Ia akan melawat ke Beijing pekan depan.
Negara lain yang membantu Rusia adalah Korea Utara. Mereka mengirim setidaknya 13.000 anggota pasukan ke wilayah garis depan Kursk. Sebagai gantinya, Rusia mengguyur Korut dengan minyak. BBC memperoleh citra satelit truk-truk Korut mengantre di perbatasan Rusia untuk mengambil barel minyak.
”Perkiraannya, Rusia memasok 1 juta barel minyak ke Korut per tahun. Padahal, minyak Rusia dijatuhi sanksi,” kata Menlu Inggris David Lammy.
Selain itu, laporan Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan mengatakan, Rusia juga memasok persenjataan ke Korut. Memang bukan persenjataan canggih berbasis komputer, melainkan efektif untuk menghentikan pesawat nirawak yang memasuki wilayah Korut. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan