Pensiun Mini, Tren Baru di Kalangan Pekerja Gen Z

Pensiun mini merujuk pada aksi mengambil jeda sejenak dari pekerjaan. Gen Z melakukannya untuk menjaga kesehatan mental.

03 Feb 2025 15:38 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Sebuah gebrakan baru muncul di kalangan generasi Z, terutama di negara-negara Barat. Di dunia kerja, pekerja muda mengambil pensiun mini atau micro-retirement. Dengar-dengar, aktivitas ini untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan.

”Saat kamu menjauh dari pekerjaan, masa pensiun membebaskan pikiranmu,” kata Adama Lorna, seorang site reliability engineer (SRE) di perusahaan hiburan dan kreator konten asal London, Inggris, kepada People edisi Jumat (31/1/2025).

Lorna yang berusia 20-an tahun menganjurkan kepada pengikutnya untuk pensiun mini. Dia mempunyai 36.000 pengikut di Tiktok dan 140.000 pengikut di Youtube. ”Daripada menunggu hingga berusia 60 atau 70 tahun untuk menjelajahi dunia, kamu melakukannya selagi masih muda, berenergi, dan sehat,” ujarnya.

Di Ohio, Amerika Serikat, Morgan Sanner (28) turut melakukan pensiun mini gara-gara ketagihan jalan-jalan ke luar negeri. Lantaran bekerja di bagian manajemen sumber daya manusia sebuah perusahaan otomotif, ia susah untuk libur berminggu-minggu. Sanner jadi tertarik ikut mengambil jeda di sela-sela pekerjaan seperti rekan-rekannya.

”Menurut saya, gen Z tertarik pada model ketenagakerjaan yang tidak terlalu tradisional. Kami cenderung lebih banyak bekerja lepas atau bekerja kontrak dibandingkan generasi sebelumnya. Saya harap seiring dengan semakin banyaknya jumlah tenaga kerja, pensiun mini menjadi lebih mudah dilakukan dan lebih lazim,” tutur Sanner.

Lorna dan Sanner adalah beberapa dari banyak anak muda gen Z yang menerapkan pensiun mini. Apa itu pensiun mini?

Menurut The Cut, istilah pensiun mini (mini-retirement atau micro-retirement) dipopulerkan oleh Tim Ferriss, investor asal AS. Ia menulisnya dalam buku The 4-Hour Workweek (2007). Belakangan, pensiun mini menjadi daya tarik di kalangan anak muda. Mereka meluangkan waktu untuk menjauh sejenak dari pekerjaan daripada menunggu saat pensiun usia 60-an tahun.

(FILES) In this file photo taken on October 17, 2018 employees work in Facebook's "War Room," during a media demonstration, in Menlo Park, California. - Facebook said November 5, 2018, it had blocked some 30 accounts on its platform and 85 accounts on photo-sharing network Instagram over concerns they may be linked to foreign entities and aimed at interfering in US midterm elections. (Photo by NOAH BERGER / AFP)

Konsep istirahat dari pekerjaan sebenarnya bukanlah hal baru. Di bidang pendidikan, misalnya, akademisi biasa mengambil cuti panjang. Beberapa orang juga menyebut pensiun mini sebagai menganggur sementara atau tahun jeda dewasa.

”Baik itu untuk bepergian, beristirahat sejenak, maupun menekuni hobi lain, tren pensiun mikro menjadi perbincangan terkini di dunia kerja korporat. Orang muda lebih mengutamakan kesehatan mental, kepuasan pribadi, dan pengalaman yang bermakna daripada sekadar fokus pada keberlangsungan dan kemajuan karier,” ungkap Guy Thornton, pendiri Practice Aptitude Tests, dikutip Forbes.

Thornton melanjutkan, media sosial menjadi salah satu pendorong tren pensiun mini. Ditambah lagi, survei oleh Standard Life kepada 6.000 responden pada 2024 menemukan, 45 persen berharap dapat bekerja melewati usia pensiun rata-rata. Sementara tiga dari empat orang ternyata hanya melakukan sedikit atau tidak sama sekali perencanaan keuangan pensiun.

Hasil statistik itu memperlihatkan, orang-orang mulai menyadari mereka dapat bekerja hingga usia 70-an tahun. ”Itulah sebabnya, mereka merencanakan istirahat berkala daripada menunda semua waktu luang hingga tahun-tahun berikutnya,” kata Thornton.

Tren pensiun mini memang belum ramai di Asia, termasuk Indonesia. Tahun lalu, di China ramai fenomena anak muda berhenti kerja karena tuntutan tinggi dan gaji yang tidak sesuai ekspektasi.

Republican presidential hopeful and former UN Ambassador Nikki Haley poses for a photo with a group of young women at Brown’s Lobster Pound in Seabrook, New Hampshire, on January 21, 2024. (Photo by Joseph Prezioso / AFP)

Persiapan matang

Ketersediaan dana krusial bagi pelaku pensiun mini. Brittany Foley (26), konsultan asal Boston, AS, memutuskan untuk rehat dari kerja. Dia tidak suka dengan pekerjaannya dan ingin menulis buku.

”Dengan orang lain seusiaku, ada begitu banyak tekanan untuk mengejar siklus promosi dan kenaikan gaji, dan semua orang sangat kelelahan. Aku pikir ini sebenarnya waktu terbaik untuk mengambil jeda kerja, saat aku tidak punya anak atau tanggungan lainnya,” tutur Foley.

Selama enam bulan, Foley menabung rutin untuk biaya hidup setahun. Ia menyisihkan sepertiga dari gaji bersih bulanan, sekitar 6.000 dollar AS (setara 98,9 juta), plus bonus. Foley hidup hemat agar tabungannya cukup.

Beberapa bulan setelah berhenti kerja, Foley mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai pelayan restoran demi penghasilan tambahan. Dia lalu membeli polis asuransi kesehatan mandiri dan pindah ke apartemen yang lebih murah.

Setelah setahun berlalu, Foley selesai menulis buku dan sedang menghubungi agen. Namun, tabungannya sekarang hampir habis. Jadi, ia berencana mulai mencari kerja lagi pada musim gugur. 

”Aku harap menjadi pelayan atau melakukan pekerjaan nonkorporat tidak dicemooh. Bekerja paruh waktu untuk menghidupi diri sendiri dan mengejar minat yang lain seharusnya tidak menjadi hambatan,” kata Foley.

Cara Nicole (28), manajer program di perusahaan teknologi asal North Carolina, juga berniat istirahat sejenak. Ia tidak ingin mengalami hal yang sama dengan orang-orang di sekitarnya.

”Saya mengenal beberapa orang di keluarga yang merencanakan masa pensiun selama puluhan tahun, tetapi meninggal sebelum atau sesudahnya. Atau mereka jatuh sakit sehingga tidak dapat bepergian sesuai keinginan,” tutur Nicole. 

Nicole menyadari, konsekuensi dari pensiun mini adalah tidak punya penghasilan tetap dalam jangka waktu tertentu. Karena itu, penting agar tidak menghabiskan uang tanpa tujuan. ”Tetapi, Anda juga harus menerima kenyataan bahwa Anda akan meninggal suatu hari nanti dan uang tidak bisa dibawa,” katanya.

A group of people participated in a meditation activity organized by the Indonesian Tergar meditation community in Jakarta, Thursday (6/2/2020). Doing meditation is one way to maintain one’s mental health.

Kesehatan mental

Memasuki dunia kerja di masa penuh gejolak, generasi Z tampaknya sangat tidak bahagia. Laporan survei dari Cigna International Health pada 2023 menemukan stres tidak terkendali pada kelompok kerja usia 18-24 tahun. Sebanyak 91 persen merasa stres dan 98 persen mengalami gejala kelelahan kerja (burnout). Penyebab terbesar stres pekerja adalah prospek ekonomi.

Pensiun mini dapat berdampak positif pada kesehatan mental. Psikolog di Northwell Health, Christopher Fisher, mengatakan, pekerja yang mengambil pensiun mini merasa punya kendali dalam hidup mereka.

”Mampu mengurangi burnout, mengambil jeda, kembali ke komitmen lain, dan mungkin akhirnya kembali dengan pemulihan yang hebat, fokus baru, serta energi baru dapat membuat orang merasa lebih produktif, lebih lengkap, dan puas secara pribadi,” kata Fisher.

Selain itu, istilah pensiun mini memberi persepsi berbeda ketimbang istilah liburan panjang. ”Bahasa dan pembingkaian sangat berkaitan dengan bagaimana kita menafsirkan dan bagaimana perasaan kita tentang hal-hal tertentu. Ini tidak seperti pensiun tradisional: sesuatu yang kita upayakan yang mungkin tidak akan pernah kita capai,” ujarnya.

Paul J McCarthy III, pendiri firma penasihat investasi Kisco Capital, menuturkan, pensiun mini memberi pekerja waktu untuk membangun keterampilan yang tidak mereka miliki sebelumnya. Keterampilan ini bisa menjadi daya tawar kuat untuk kesempatan kerja berikutnya.

”Anda dapat memanfaatkan waktu luang untuk belajar dan mengembangkan keterampilan baru dalam pekerjaan. Tetapi, itu tergantung bagaimana Anda menggunakan waktu. Mungkin itu akan merugikan, mungkin juga tidak,” ucap McCarthy.

Namun, anak muda harus berhati-hati dengan pensiun mini. Mereka bisa kehilangan momentum membangun karier jika mengambil waktu jeda panjang. ”Mengambil cuti panjang bisa menempatkan Anda di posisi belakang dibandingkan dengan rekan-rekan Anda,” ujar McCarthy.

Fisher menambahkan, waktu jeda dapat mengorbankan konsep konsistensi dan struktur pada pekerja yang menjadi dasar bagi pertumbuhan profesional dan pribadi. ”Seseorang bisa kehilangan motivasi dan kesempatan jika mereka tidak memiliki rasa stabilitas dan struktur yang membantu menjaga tetap fokus dan berada di jalur yang benar,” katanya.

Penting bagi pekerja untuk menggunakan waktu pensiun mini dengan bijak, demikian saran Fisher.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W