Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan harga pupuk dunia melonjak. Produksi pangan global pun semakin terancam.
04 Mar 2026 14:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
AFP
Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang berujung penutupan Selat Hormuz berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas utama global. Selain minyak, harga pupuk juga mulai merangkak naik. Hal ini berpotensi memperburuk krisis pangan di tengah berbagai tekanan sistem pangan global yang sedang terjadi.
Sejak Sabtu (28/2/2026), AS dan Israel secara agresif terus melancarkan serangan ke berbagai wilayah di Iran. Operasi militer yang kemudian diberi nama Operation Epic Fury atau Operation Lion’s Roar tersebut telah mengakibatkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi pertahanan Iran gugur.
Iran pun membalas dengan meluncurkan berbagai serangan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) yang menyasar ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah serta ibu kota Israel, Tel Aviv. Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim, serangan tersebut telah menyebabkan sedikitnya 650 tentara AS tewas atau terluka.
Selain melakukan serangan balasan, IRGC juga memblokade Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur strategis perdagangan dunia.
Selat yang terletak di utara Iran dan selatan Oman serta Arab Saudi itu menjadi jalur utama bagi distribusi minyak bumi, terutama yang berasal dari negara di kawasan Teluk. Sekitar 26 persen kebutuhan minyak mentah dunia diangkut melalui jalur tersebut.
Akibat konflik dan blokade Selat Hormuz, harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Berdasarkan data Bloomberg, dalam 72 jam pertama setelah serangan AS-Israel ke Iran, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 13 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/dd14400adabffd1f1c5235338f1cad89-24022026_ANU_AFP_Jalur_Penting_Selat_Hormuz_mumed.jpg)
Pada perdagangan Selasa (3/3/2026), harga minyak mentah Brent ditutup di level 82 dolar AS per barel setelah berada di harga 72,87 dolar AS per barel pada perdagangan Jumat (27/2/2026) atau sebelum serangan di Iran terjadi.
Sementara itu, harga minyak mentah ringan yang diproduksi AS jenis West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan Selasa dijual di harga 74,80 dolar AS per barel atau naik sekitar 5 persen dibandingkan hari sebelumnya. Tertinggi sejak Januari 2025 yang mencapai 76,6 dolar AS per barel.
Tidak hanya kenaikan harga minyak, konflik yang terjadi di Timur Tengah juga berisiko menghambat produksi pangan global. Hal ini karena kawasan Teluk Persia merupakan salah satu pusat produksi pupuk nitrogen terbesar di dunia.
Berdasarkan analisis Bloomberg Intelligence, sekitar 45 persen atau hampir separuh kebutuhan pupuk urea global diekspor dari wilayah tersebut, dengan Qatar dan Iran masing-masing mengendalikan 10-12 persen dari perdagangan urea global.
Sementara itu, perusahaan analisis perdagangan Kpler memperkirakan 3 juta-4 juta atau 33 persen bahan pupuk dunia diangkut melalui Selat Hormuz. Rinciannya, urea sebanyak 1,2 juta-1,5 juta ton, sulfur mencapai 1,5 juta-1,8 juta ton, serta amonia dan fosfat masing-masing berkisar 400.000-500.000 ton.
Artinya, guncangan sedikit saja yang terjadi di kawasan tersebut akan sangat berdampak pada fluktuasi harga pupuk dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/ef212f7c411ce508d7f5585d6b966e01-cropped_image.jpg)
Pada Senin (2/3/2026) untuk pertama kalinya dalam sejarah, Qatar menutup produksi gas alam cair (LNG) di fasilitas ekspor terbesarnya setelah serangan drone yang diluncurkan Iran. Gangguan pasokan tersebut mengakibatkan harga gas acuan Eropa melonjak hingga 39 persen dalam sehari. Menjadi kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir.
Kenaikan harga gas tersebut secara otomatis meningkatkan ongkos produksi pupuk. Selain itu, terganggunya pelayaran akibat blokade yang terjadi di Selat Hormuz membuat pasokan menyusut dan harga pupuk menjadi terdorong lebih tinggi.
Berdasarkan data Green Markets yang dikelola Bloomberg, harga pupuk urea granular dari Timur Tengah telah menembus 522,5 dolar AS per ton pada Senin (2/3/2026). Harga tersebut melonjak sekitar 7,95 persen dari perdagangan Jumat yang sebesar 484 dolar AS per ton.
Pupuk urea granular merupakan jenis pupuk nitrogen padat dengan kandungan mencapai 46 persen. Urea granular dihasilkan dari amonia dan karbon dioksida. Umumnya digunakan sebagai bahan baku untuk campuran pupuk tanaman NPK (nitrogen, fosfat, dan kalium).
Akibat kenaikan harga tersebut, keseimbangan pasar pupuk domestik di setiap negara berpotensi terguncang. Negara-negara pengimpor pupuk dengan kapasitas besar seperti Brasil dan India akan langsung menerima dampak yang cukup signifikan, baik dari segi harga maupun ketersediaan.
Bank koperasi terkemuka internasional Rabobank memproyeksikan, dalam kurun tiga bulan ke depan, harga pupuk urea di India berisiko melonjak sekitar 80 persen. Sementara itu, lonjakan harga pupuk urea di Brasil diperkirakan lebih tinggi, mencapai 100 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/4917bc6fd0c72d23170065fea6d7f756-20260304_GKT_Harga_Pupuk_1_mumed.jpg)
Melonjaknya harga pupuk akibat konflik turut menambah tekanan sistem pangan global menjadi semakin kompleks. Hal ini karena di sisi lain dunia juga belum mampu mengatasi berbagai masalah yang mengancam keberlanjutan pangan, seperti perubahan iklim dan rantai pasok yang terhambat.
Dalam sistem pertanian modern, terutama untuk komoditas pangan utama, seperti padi, jagung, dan gandum, pupuk sangat menentukan tingkat hasil setiap luas lahan. Kenaikan harga pupuk berpotensi menurunkan penggunaan input untuk mengurangi tekanan biaya produksi.
Dalam banyak studi, hal tersebut kemudian berkorelasi terhadap menurunnya kuantitas dan kualitas hasil panen. Penurunan hasil 3–5 persen mungkin terdengar kecil. Namun, dalam skala global, angka itu dapat mencapai jutaan ton produksi pangan yang hilang.
Dampaknya tidak hanya pada hasil produksi. Harga pangan global pun cenderung sangat sensitif, terutama jika ditambah dengan faktor lain, seperti gangguan pasokan dan kenaikan biaya energi. Ketika faktor-faktor tersebut terjadi secara bersamaan, volatilitas harga pangan meningkat lebih tajam. Negara-negara berpendapatan rendah yang bergantung pada impor pangan menjadi pihak yang paling rentan.
Di sisi lain, terhambatnya produksi dan kenaikan harga pangan juga berisiko memperburuk krisis pangan yang mengakibatkan bencana kelaparan di beberapa negara, salah satunya di Afrika. Laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis pada November 2025 menunjukkan sebanyak 375.000 orang di Sudan mengalami bencana kelaparan per September 2025 (Kompas, 4/11/2025).
Sementara itu, berdasarkan data dari lembaga Program Pangan Dunia PBB, hingga Februari 2026 tercatat hampir 350 juta orang di seluruh dunia mengalami bentuk kelaparan yang paling ekstrem. Dari jumlah tersebut, hampir 49 juta orang berada di ambang kelaparan. Konflik adalah penyebab utama bencana kelaparan tersebut.
Dalam konteks Indonesia, dampak konflik tersebut memberikan tekanan berat secara langsung. Hal ini karena Indonesia masih harus melakukan impor guna memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, kebutuhan pupuk nasional pada tahun 2022 berkisar 22,57 juta-26,18 juta ton per tahun.
Sementara kapasitas produksi yang mampu dihasilkan oleh PT Pupuk Indonesia (Persero) hanya sebesar 14,6 juta ton per tahun. Itu pun beberapa bahan baku utama pupuk tersebut masih harus diimpor dari luar negeri, seperti jenis pupuk NPK, unsur P (Phosphate) dan K (Kalium) masih harus didatangkan dari Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/e328eb2a0a5b0ae68cd940261cc33f4d-20260304_GKT_Harga_Pupuk_2_mumed.jpg)
Ke depan, kebutuhan pupuk dalam negeri pun diperkirakan akan terus melonjak seiring dengan bergulirnya program Astacita Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan. Ketersediaan dan keterjangkauan harga pupuk menjadi sebuah keniscayaan agar biaya produksi pertanian tidak semakin tinggi, yang pada akhirnya dapat membuat harga pangan melonjak.
Selain itu, Indonesia juga masih mendistribusikan sekitar 9,55 juta ton pupuk bersubsidi dengan anggaran mencapai Rp 44,14 triliun per tahun. Artinya, jika harga pupuk dunia terus melonjak, tekanan fiskal untuk menjaga stabilitas harga domestik akan meningkat karena subsidi yang membengkak.
Oleh karena itu, solusinya bukan hanya pada respons reaktif dengan memperhatikan kesiapan anggaran semata. Lebih dari itu, perlu solusi konkret yang bertumpu pada inovasi untuk memperkuat produksi pupuk dalam negeri. Dengan begitu, cita-cita swasembada pangan bisa diwujudkan tanpa harus bergantung pada uluran negara lain. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
M Faesal Fakih, Budiawan Sidik AEditor:
Budiawan Sidik APenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar