Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa negara-negara Teluk jadi sasaran balasan Iran?
- Dilema apa yang dihadapi negara-negara Teluk dalam perang Iran?
- Seberapa efektif negara Teluk menangkis serangan Iran?
- Meski merugikan, mengapa negara-negara Teluk memilih menutup fasilitas minyak dan gas mereka?
- Balasan Iran tak juga mereda, mengapa negara-negara Teluk justru berbicara dengan Rusia?
Mengapa negara-negara Teluk jadi sasaran balasan Iran?
Setelah hampir dua bulan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya merealisasikan ancamannya terhadap Iran. Pada Jumat (2/1/2026), Trump pertama kali melontarkan ancaman untuk menyerang Iran jika negara itu bertindak keras terhadap pemrotes antipemerintah.
Lalu, pada Sabtu (28/2/2026), AS bersama sekutunya, Israel, menyerang Teheran dan sejumlah kota lain di Iran dengan berbagai alasan. ”Beberapa waktu lalu, militer AS memulai operasi tempur besar di Iran,” kata Trump dalam pidato yang disiarkan di media sosial.
Tak lama setelah serangan AS-Israel, Iran langsung membalas. Sasarannya wilayah Israel dan beberapa pangkalan AS di Timur Tengah.
Kantor berita Iran, Fars, mengungkapkan, rudal menyasar pangkalan militer AS di Teluk, yakni Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Al-Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), dan pangkalan AS Kelima di Bahrain.
”Semua aset dan kepentingan Amerika dan Israel di Timur Tengah telah menjadi target yang sah. Tidak ada garis merah setelah agresi ini, dan semuanya mungkin terjadi, termasuk skenario yang sebelumnya tidak dipertimbangkan,” kata seorang pejabat Iran kepada Al Jazeera.
Hal inilah yang membuat negara-negara, baik di kawasan maupun global, cemas. Apalagi, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah melontarkan peringatan keras bahwa serangan AS akan memicu perang regional di Timur Tengah.
Reuters menyebutkan, ini tanda bahwa konflik telah melampaui perbatasan Iran, sebagaimana diperingatkan Teheran. ”Yang sekarang telah terbukti adalah kita, bukan Amerika Serikat, berada di garis tembak,” kata Ebtesam al-Ketbi, Presiden Emirates Policy Center.
Ia menambahkan, serangan Iran ke negara-negara Teluk yang disebut menjadi rumah bagi pangkalan militer AS menunjukkan bahwa tidak ada sekutu AS di kawasan yang tidak dapat dijangkau. ”Bahayanya adalah kesalahan perhitungan apa pun dapat mendorong kawasan dari pertukaran sinyal menjadi perang terbuka,” ujar Ketbi.
Dilema apa yang dihadapi negara-negara Teluk dalam perang Iran?
Sebagaimana diduga, akibat serangan AS-Israel atas Iran, kini negara-negara Teluk berkalang dengan mimpi buruk. Selama ini, mimpi buruk itu tak terbayangkan akan benar-benar terjadi. Sejak AS dan Israel menyerang Iran, 28 Februari lalu, stabilitas dan keamanan kawasan Teluk diuji.
Selain ke Israel, serangan balasan Iran juga menyasar pangkalan militer dan kantor-kantor perwakilan AS di Teluk. Sejumlah kepentingan terkait AS terimbas, termasuk infrastruktur energi di kawasan itu.
Selain mengenai Kedutaan Besar AS di Kuwait dan Arab Saudi, drone-drone yang diduga milik Iran atau proksinya mengenai fasilitas minyak Qatar Energy dan Ras Tanura milik Aramco. Dari Bahrain dan Uni Emirat Arab, pusat data Amazon AWS juga jadi sasaran serangan. AWS diketahui melayani militer Israel dan AS. Terbaru kilang minyak di pelabuhan Oman pun tak luput dari hantaman drone bunuh diri.
Sudah ratusan rudal pencegat diluncurkan untuk menghadang rudal dan pesawat nirawak Iran. Dalam riuhnya pertarungan Iran melawan serangan AS-Israel, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), seperti Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Oman, harus bertahan dan perlu membela diri.
Harian Al Jazeera menyebutkan negara-negara Teluk menghadapi pilihan sulit. Jika membalas Iran, mereka berisiko dianggap berperang bersama Israel. Sebaliknya, jika tetap pasif, mereka bisa habis diserang.
Meski sepakat merespons agresi jika perlu, tetap saja ada yang meminta mereka menahan diri dan mengingatkan negara-negara Teluk tidak boleh ditarik ke dalam perang yang tidak diinginkan. Ini perang AS dan Israel serta Iran. Negara-negara Teluk hanya terjepit di tengah-tengah konflik tiga negara.
Seberapa efektif negara Teluk menangkis serangan drone dari Iran?
Iran menyerang Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, dengan pesawat nirawak (drone), Selasa (3/3/2026) dini hari waktu setempat. Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebutkan, serangan dua pesawat nirawak itu menyebabkan ”kebakaran terbatas” dan kerusakan kecil di kantor tersebut.
Ini kedutaan besar AS kedua di negara-negara Arab Teluk yang diserang di tengah pembalasan Iran terhadap perang yang dilancarkan AS dan Israel. Pada Senin (2/3/2026), Kedutaan Besar AS di Kuwait juga terbakar saat Iran melancarkan serangan balasan dengan menyasar fasilitas-fasilitas AS dan Israel.
Akibat serangan pesawat nirawak tersebut, hari Selasa Washington menutup kantor kedutaannya di Arab Saudi. Adapun Kedutaan Besar AS di Kuwait telah ditutup hingga waktu yang tidak ditetapkan, dan seluruh layanan konsuler dibatalkan.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi tidak menjelaskan secara detail serangan drone Iran ke Kedutaan Besar AS di Riyadh. Kepada kantor berita AFP, dua saksi mata mengungkapkan, mereka melihat kobaran api di sekitar kantor kedutaan besar AS.
Kejadian awalnya, terlihat asap mengepul di gedung kedutaan besar AS dan terdengar ledakan di kawasan diplomatik, lokasi kantor-kantor kedutaan negara asing di Riyadh. Sumber yang dekat dengan militer Arab Saudi yang tak mau disebut identitasnya kepada AFP mengungkapkan, pertahanan udara Arab Saudi menangkis empat drone yang menyasar kawasan diplomatik itu.
Serangan drone Iran di Arab Saudi itu terjadi bersamaan dengan gelombang serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran ke negara-negara Arab Teluk. Seorang diplomat di Kuwait yang tak mau disebut namanya mengatakan, pada Senin (2/3/2026), Kedutaan Besar AS di Kuwait City diserang oleh sejumlah drone.
Di Abu Dhabi, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengungkapkan, mereka tengah menangani serangan rudal-rudal balistik dari Iran. Di Doha, melalui pernyataan tertulis, Kementerian Pertahanan Qatar menyebutkan menangkis dua rudal balistik pada Selasa dini hari.
Sejumlah fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah menghentikan operasi sebagai langkah antisipasi seiring serangan Israel dan AS serta aksi balasan Iran. Uni Eropa menggelar rapat darurat untuk mengantisipasi kelangkaan bahan bakar.
Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG) pada Senin (2/3/2026) setelah sebuah fasilitas energi milik Qatar Energy diserang dua pesawat nirawak Iran. Arab Saudi juga menutup kilang domestik terbesarnya, Ras Tanura. Mengutip seorang sumber, kantor berita Reuters melaporkan, kilang ditutup setelah serangan drone.
Menurut laporan televisi milik pemerintah, otoritas Arab Saudi mencegat drone Iran yang menyerang kilang Ras Tanura di dekat Dammam. Serangan menimbulkan kebakaran.
Sebuah sumber yang dekat dengan Pemerintah Arab Saudi mengatakan, serangan Iran secara terkoordinasi terhadap infrastruktur minyak Saudi dapat memicu respons militer dari Kerajaan.
”Arab Saudi akan menargetkan fasilitas minyak Iran jika Iran melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Aramco,” kata sumber tersebut, seperti dikutip dari AFP.
Gangguan produksi meluas dari Teluk hingga Mediterania Timur. Oman melaporkan, sebuah perahu drone bermuatan bom menghantam tanker minyak berbendera Kepulauan Marshall di Teluk Oman pada Senin. Serangan ini menewaskan seorang awak kapal.
Di Kurdistan Irak, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah itu menghentikan produksi sebagai langkah pencegahan. Kawasan tersebut pada Februari mengekspor minyak sekitar 200.000 barel per hari melalui pipa menuju pelabuhan Ceyhan, Turki.
Perusahaan yang menghentikan kegiatan operasionalnya antara lain DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy. Tidak ada kerusakan yang dilaporkan.
Balasan Iran tak juga mereda, mengapa negara-negara Teluk justru berbicara dengan Rusia?
Selain seruan deeskalasi, sejumlah negara mulai menawarkan diri sebagai mediator guna meredakan ketegangan di Timur Tengah. Rusia yang dekat dengan Iran juga mencoba bergerak sebagai perantara.
Melalui telepon, Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dengan para pemimpin di negara Teluk Arab, yakni Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar, Senin (2/3/2026). Pangkalan militer dan properti AS di negara-negara itu diserang rudal dan pesawat nirawak Iran sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Sejauh ini, Rusia terus menjalin kontak dengan Pemerintah Iran. Moskwa mengecam serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat militer tinggi, serta menyebutnya ”agresi tanpa provokasi”.
Kremlin menyatakan, Putin berbicara dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed al-Nahyan. Pada kesempatan itu, ia menawarkan diri untuk menyampaikan keluhan UEA tentang serangan Teheran.
”Kedua belah pihak menekankan perlunya gencatan senjata segera dan kembalinya proses politik dan diplomatik,” demikian bunyi pernyataan Kremlin.
Dalam percakapan Putin dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, mereka membahas kekhawatiran tentang meluasnya konflik. Selain itu, keduanya berbicara tentang risiko keterlibatan negara ketiga. Sementara itu, Putin menyampaikan kepada Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifa bahwa Rusia siap melakukan segala hal yang bisa dilakukan untuk menstabilkan situasi kawasan.
Dalam panggilan terakhir, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memberi tahu Putin bahwa Rusia dapat memainkan peran stabilisasi mengingat persahabatannya dengan Iran dan negara-negara Teluk. Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga berbicara dengan rekan sejawatnya dari Arab Saudi.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Mengapa negara-negara Teluk jadi sasaran balasan Iran?
- Dilema apa yang dihadapi negara-negara Teluk dalam perang Iran?
- Seberapa efektif negara Teluk menangkis serangan Iran?
- Meski merugikan, mengapa negara-negara Teluk memilih menutup fasilitas minyak dan gas mereka?
- Balasan Iran tak juga mereda, mengapa negara-negara Teluk justru berbicara dengan Rusia?
Mengapa negara-negara Teluk jadi sasaran balasan Iran?
Setelah hampir dua bulan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya merealisasikan ancamannya terhadap Iran. Pada Jumat (2/1/2026), Trump pertama kali melontarkan ancaman untuk menyerang Iran jika negara itu bertindak keras terhadap pemrotes antipemerintah.
Lalu, pada Sabtu (28/2/2026), AS bersama sekutunya, Israel, menyerang Teheran dan sejumlah kota lain di Iran dengan berbagai alasan. ”Beberapa waktu lalu, militer AS memulai operasi tempur besar di Iran,” kata Trump dalam pidato yang disiarkan di media sosial.
Tak lama setelah serangan AS-Israel, Iran langsung membalas. Sasarannya wilayah Israel dan beberapa pangkalan AS di Timur Tengah.
Kantor berita Iran, Fars, mengungkapkan, rudal menyasar pangkalan militer AS di Teluk, yakni Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Al-Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al-Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), dan pangkalan AS Kelima di Bahrain.
”Semua aset dan kepentingan Amerika dan Israel di Timur Tengah telah menjadi target yang sah. Tidak ada garis merah setelah agresi ini, dan semuanya mungkin terjadi, termasuk skenario yang sebelumnya tidak dipertimbangkan,” kata seorang pejabat Iran kepada Al Jazeera.
Hal inilah yang membuat negara-negara, baik di kawasan maupun global, cemas. Apalagi, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah melontarkan peringatan keras bahwa serangan AS akan memicu perang regional di Timur Tengah.
Reuters menyebutkan, ini tanda bahwa konflik telah melampaui perbatasan Iran, sebagaimana diperingatkan Teheran. ”Yang sekarang telah terbukti adalah kita, bukan Amerika Serikat, berada di garis tembak,” kata Ebtesam al-Ketbi, Presiden Emirates Policy Center.
Ia menambahkan, serangan Iran ke negara-negara Teluk yang disebut menjadi rumah bagi pangkalan militer AS menunjukkan bahwa tidak ada sekutu AS di kawasan yang tidak dapat dijangkau. ”Bahayanya adalah kesalahan perhitungan apa pun dapat mendorong kawasan dari pertukaran sinyal menjadi perang terbuka,” ujar Ketbi.
Dilema apa yang dihadapi negara-negara Teluk dalam perang Iran?
Sebagaimana diduga, akibat serangan AS-Israel atas Iran, kini negara-negara Teluk berkalang dengan mimpi buruk. Selama ini, mimpi buruk itu tak terbayangkan akan benar-benar terjadi. Sejak AS dan Israel menyerang Iran, 28 Februari lalu, stabilitas dan keamanan kawasan Teluk diuji.
Selain ke Israel, serangan balasan Iran juga menyasar pangkalan militer dan kantor-kantor perwakilan AS di Teluk. Sejumlah kepentingan terkait AS terimbas, termasuk infrastruktur energi di kawasan itu.
Selain mengenai Kedutaan Besar AS di Kuwait dan Arab Saudi, drone-drone yang diduga milik Iran atau proksinya mengenai fasilitas minyak Qatar Energy dan Ras Tanura milik Aramco. Dari Bahrain dan Uni Emirat Arab, pusat data Amazon AWS juga jadi sasaran serangan. AWS diketahui melayani militer Israel dan AS. Terbaru kilang minyak di pelabuhan Oman pun tak luput dari hantaman drone bunuh diri.
Sudah ratusan rudal pencegat diluncurkan untuk menghadang rudal dan pesawat nirawak Iran. Dalam riuhnya pertarungan Iran melawan serangan AS-Israel, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), seperti Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Oman, harus bertahan dan perlu membela diri.
Harian Al Jazeera menyebutkan negara-negara Teluk menghadapi pilihan sulit. Jika membalas Iran, mereka berisiko dianggap berperang bersama Israel. Sebaliknya, jika tetap pasif, mereka bisa habis diserang.
Meski sepakat merespons agresi jika perlu, tetap saja ada yang meminta mereka menahan diri dan mengingatkan negara-negara Teluk tidak boleh ditarik ke dalam perang yang tidak diinginkan. Ini perang AS dan Israel serta Iran. Negara-negara Teluk hanya terjepit di tengah-tengah konflik tiga negara.
Seberapa efektif negara Teluk menangkis serangan drone dari Iran?
Iran menyerang Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, dengan pesawat nirawak (drone), Selasa (3/3/2026) dini hari waktu setempat. Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebutkan, serangan dua pesawat nirawak itu menyebabkan ”kebakaran terbatas” dan kerusakan kecil di kantor tersebut.
Ini kedutaan besar AS kedua di negara-negara Arab Teluk yang diserang di tengah pembalasan Iran terhadap perang yang dilancarkan AS dan Israel. Pada Senin (2/3/2026), Kedutaan Besar AS di Kuwait juga terbakar saat Iran melancarkan serangan balasan dengan menyasar fasilitas-fasilitas AS dan Israel.
Akibat serangan pesawat nirawak tersebut, hari Selasa Washington menutup kantor kedutaannya di Arab Saudi. Adapun Kedutaan Besar AS di Kuwait telah ditutup hingga waktu yang tidak ditetapkan, dan seluruh layanan konsuler dibatalkan.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi tidak menjelaskan secara detail serangan drone Iran ke Kedutaan Besar AS di Riyadh. Kepada kantor berita AFP, dua saksi mata mengungkapkan, mereka melihat kobaran api di sekitar kantor kedutaan besar AS.
Kejadian awalnya, terlihat asap mengepul di gedung kedutaan besar AS dan terdengar ledakan di kawasan diplomatik, lokasi kantor-kantor kedutaan negara asing di Riyadh. Sumber yang dekat dengan militer Arab Saudi yang tak mau disebut identitasnya kepada AFP mengungkapkan, pertahanan udara Arab Saudi menangkis empat drone yang menyasar kawasan diplomatik itu.
Serangan drone Iran di Arab Saudi itu terjadi bersamaan dengan gelombang serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran ke negara-negara Arab Teluk. Seorang diplomat di Kuwait yang tak mau disebut namanya mengatakan, pada Senin (2/3/2026), Kedutaan Besar AS di Kuwait City diserang oleh sejumlah drone.
Di Abu Dhabi, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengungkapkan, mereka tengah menangani serangan rudal-rudal balistik dari Iran. Di Doha, melalui pernyataan tertulis, Kementerian Pertahanan Qatar menyebutkan menangkis dua rudal balistik pada Selasa dini hari.
Sejumlah fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah menghentikan operasi sebagai langkah antisipasi seiring serangan Israel dan AS serta aksi balasan Iran. Uni Eropa menggelar rapat darurat untuk mengantisipasi kelangkaan bahan bakar.
Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG) pada Senin (2/3/2026) setelah sebuah fasilitas energi milik Qatar Energy diserang dua pesawat nirawak Iran. Arab Saudi juga menutup kilang domestik terbesarnya, Ras Tanura. Mengutip seorang sumber, kantor berita Reuters melaporkan, kilang ditutup setelah serangan drone.
Menurut laporan televisi milik pemerintah, otoritas Arab Saudi mencegat drone Iran yang menyerang kilang Ras Tanura di dekat Dammam. Serangan menimbulkan kebakaran.
Sebuah sumber yang dekat dengan Pemerintah Arab Saudi mengatakan, serangan Iran secara terkoordinasi terhadap infrastruktur minyak Saudi dapat memicu respons militer dari Kerajaan.
”Arab Saudi akan menargetkan fasilitas minyak Iran jika Iran melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Aramco,” kata sumber tersebut, seperti dikutip dari AFP.
Gangguan produksi meluas dari Teluk hingga Mediterania Timur. Oman melaporkan, sebuah perahu drone bermuatan bom menghantam tanker minyak berbendera Kepulauan Marshall di Teluk Oman pada Senin. Serangan ini menewaskan seorang awak kapal.
Di Kurdistan Irak, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah itu menghentikan produksi sebagai langkah pencegahan. Kawasan tersebut pada Februari mengekspor minyak sekitar 200.000 barel per hari melalui pipa menuju pelabuhan Ceyhan, Turki.
Perusahaan yang menghentikan kegiatan operasionalnya antara lain DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy. Tidak ada kerusakan yang dilaporkan.
Balasan Iran tak juga mereda, mengapa negara-negara Teluk justru berbicara dengan Rusia?
Selain seruan deeskalasi, sejumlah negara mulai menawarkan diri sebagai mediator guna meredakan ketegangan di Timur Tengah. Rusia yang dekat dengan Iran juga mencoba bergerak sebagai perantara.
Melalui telepon, Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dengan para pemimpin di negara Teluk Arab, yakni Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar, Senin (2/3/2026). Pangkalan militer dan properti AS di negara-negara itu diserang rudal dan pesawat nirawak Iran sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Sejauh ini, Rusia terus menjalin kontak dengan Pemerintah Iran. Moskwa mengecam serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat militer tinggi, serta menyebutnya ”agresi tanpa provokasi”.
Kremlin menyatakan, Putin berbicara dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed al-Nahyan. Pada kesempatan itu, ia menawarkan diri untuk menyampaikan keluhan UEA tentang serangan Teheran.
”Kedua belah pihak menekankan perlunya gencatan senjata segera dan kembalinya proses politik dan diplomatik,” demikian bunyi pernyataan Kremlin.
Dalam percakapan Putin dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, mereka membahas kekhawatiran tentang meluasnya konflik. Selain itu, keduanya berbicara tentang risiko keterlibatan negara ketiga. Sementara itu, Putin menyampaikan kepada Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifa bahwa Rusia siap melakukan segala hal yang bisa dilakukan untuk menstabilkan situasi kawasan.
Dalam panggilan terakhir, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memberi tahu Putin bahwa Rusia dapat memainkan peran stabilisasi mengingat persahabatannya dengan Iran dan negara-negara Teluk. Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga berbicara dengan rekan sejawatnya dari Arab Saudi.