Daya beli masyarakat yang melemah masih menjadi tantangan, salah satunya terhadap penyaluran KPR.
10 Jun 2025 18:56 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Tren penyaluran kredit pemilikan rumah atau KPR diperkirakan tumbuh melambat di bawah 10 persen pada 2025. Hal ini, antara lain, dipicu oleh kondisi perekonomian yang melemah dan belum pulihnya daya beli masyarakat.
Mengutip data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI), kredit properti pada April 2025 mencapai Rp 967,59 triliun atau tumbuh sebesar 8,89 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2024 yang tumbuh 11,96 persen secara tahunan.
Kondisi serupa juga terjadi pada penyaluran KPR yang pada April 2025 mencapai Rp 742,47 triliun atau tumbuh 8,67 persen secara tahunan. Capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan posisi April 2024 yang tumbuh hingga 13,96 persen secara tahunan.
Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan memperkirakan, tren tersebut akan bertahan hingga enam bulan ke depan, apabila kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat tidak kunjung pulih. Di sisi lain, perbankan juga masih perlu menjaga likuiditas.
”Pengetatan KPR tergantung pada strategi bank, kebutuhan KPR dan kualitas pembayaran KPR. Pertumbuhannya kemungkinan akan single digit atau berkisar 7-9 persen pada 2025,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (10/6/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/0d394d61-8dfe-46db-96a7-46ebf97041e5_png.png)
Penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen dapat mendorong penyaluran kredit ke depan. Namun, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah meningkatkan daya beli atau ekonomi masyarakat, seperti pembukaan lapangan kerja baru dan insentif yang meringankan beban masyarakat.
Senada, pengamat perbankan Moch Amin Nurdin berpendapat, tren KPR pada 2025 akan tumbuh di bawah level 10 persen. Ini terutama disebabkan oleh ekonomi yang melambat pada triwulan I-2025, melemahnya daya beli masyarakat, serta skala prioritas kebutuhan masyarakat untuk kebutuhan pokok dan biaya pendidikan.
Kredit konsumer juga terkena imbas secara umum, termasuk KPR, cicilan bukan menjadi prioritas utama masyarakat atau nasabah.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, produk domestik bruto (PDB) RI pada triwulan I-2025 tumbuh 4,87 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,02 persen dan triwulan I-2024 yang tumbuh 5,11 persen.
Sejalan dengan itu, porsi konsumsi rumah tangga terhadap PDB juga menyusut, dari triwulan I-2024 sebesar 54,9 persen menjadi 54,5 persen pada triwulan I-2025. Mesin utama pertumbuhan ekonomi ini pun hanya tumbuh 4,89 persen, lebih rendah ketimbang triwulan IV-2024 yang tumbuh 4,98 persen dan triwulan I-2024 yang tumbuh 4,91 persen.
”Kredit konsumer juga terkena imbas secara umum, termasuk KPR. Cicilan bukan menjadi prioritas utama masyarakat atau nasabah,” ujar Amin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/05/0e3b0c68-a37d-4c41-a085-d37c111caaab_png.png)
Selain itu, rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) KPR cenderung merangkak naik. Data SSKI menunjukkan, NPL KPR pada April 2025 mencapai 3,01 persen atau naik dibanding posisi akhir 2024 yang sebesar 2,56 persen dan April 2024 yang mencapai 2,46 persen.
Menurut Amin, kenaikan NPL KPR tersebut bukan hanya karena nasabah yang menunggak cicilan bertambah, melainkan juga didorong oleh saldo kredit yang secara umum tidak meningkat signifikan. Akibatnya, tren NPL dalam setahun terakhir pun cenderung meningkat.
Oleh sebab itu, perbankan diharapkan dapat menempuh beberapa strategi untuk meningkatkan pertumbuhan KPR. Langkah ini, antara lain, dengan menurunkan suku bunga atau promo bunga rendah untuk periode 1-5 tahun pertama.
”Selain itu, bank juga dapat menerapkan bundling (paket) program dengan jenis kredit atau produk lain yang menarik. Di sisi lain, bank perlu lebih selektif dalam memilih calon debitor,” kata Amin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/13/f1a0c7a2-327f-4559-a07f-73ed6f79c320.jpg)
Di sisi lain, industri perbankan tetap optimistis penyaluran KPR dapat mencatatkan kinerja yang positif pada 2025. Hal ini, antara lain, didukung dengan program pemerintah, seperti penyaluran KPR bersubsidi.
Corporate Secretary PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Ramon Armando menyampaikan, manajemen BTN telah menerapkan beberapa inisiatif dengan mengembangkan pedoman portofolio (portofolio guideline).
Pengembangan tersebut dilakukan secara lebih prudent, proses evaluasi dan penilaian risiko (risk underwriting) secara otomatis, serta peningkatan proses bisnis (business process improvement) pada area penagihan. Itu semua dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan NPL, terutama pada KPR.
”Kami tetap optimistis prospek penyaluran KPR tahun ini akan tetap positif, terutama untuk KPR Subsidi yang menjadi core business BTN,” ujar Ramon.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/30/2c192a3f-bad5-457c-8b56-e967647ff269_png.png)
Ke depan, ia melanjutkan, BTN juga akan mengembangkan pusat pemrosesan kredit secara nasional, atau National Loan Processing Center (NLPC), guna meningkatkan kualitas kredit dan meningkatkan fungsi kontrol, analisis, serta pemantauan.
Berdasarkan laporan keuangan pada triwulan I-2025, BTN membukukan laba bersih senilai Rp 904 miliar atau tumbuh 5,1 persen secara tahunan. Ini utamanya ditopang oleh penyaluran kredit yang mencapai Rp 363,11 triliun atau tumbuh 5,5 persen secara tahunan sehingga pangsa pasarnya hampir separuh dari total penyaluran KPR oleh perbankan nasional.
Pada triwulan I-2025, penyaluran kredit BTN didorong oleh bisnis KPR, baik skema subsidi maupun nonsubsidi. Hingga Maret 2025, penyaluran KPR subsidi BTN mencapai Rp 179,70 triliun atau naik 7,6 persen secara tahunan, sedangkan KPR nonsubsidi BTN tumbuh 8,1 persen secara tahunan menjadi Rp 106,80 triliun.
Selain itu, BTN juga mencatatkan pertumbuhan di segmen kredit bermargin tinggi, yakni Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Agunan Rumah (KAR), dan Kredit Ringan (KRING), dengan total penyaluran mencapai Rp 16,4 triliun atau tumbuh 9,5 persen secara tahunan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/01/22/9529a9d0-3a26-4103-8b46-195a31c11532_jpg.jpg)
Secara terpisah, Executive Vice President Corporate Communication and Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F Haryn menyatakan, kinerja industri perbankan akan sejalan dengan kondisi perekonomian. Hingga saat ini, tren pertumbuhan kredit di BCA masih terjaga.
”BCA terus mendorong penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor, termasuk KPR, dalam rangka mendukung perekonomian nasional. Adapun penyaluran KPR BCA tercatat naik 10,5 persen secara tahunan hingga Rp 135,3 triliun per Maret 2025,” katanya.
Dalam meningkatkan portofolio KPR, BCA turut menyediakan berbagai pilihan kombinasi skema suku bunga guna memberikan fleksibilitas bagi nasabah. Inovasi ini menjadi bagian dari strategi BCA dalam menjaga daya beli serta mendukung kebutuhan jangka panjang nasabah.
Hera menambahkan, BCA juga terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta memperkuat proses penilaian kredit dan pemantauan untuk menjaga kualitas kredit yang diberikan. Selain itu, solusi proaktif juga diberikan untuk menghindari potensi kredit macet sehingga NPL tetap terjaga di level rendah dan terkendali.
”BCA berkomitmen menjaga pertumbuhan kredit sehat dan berkelanjutan serta tetap optimistis penyaluran kredit masih memiliki ruang untuk tumbuh, dengan tetap senantiasa mendukung kebijakan dan inisiatif pemerintah dalam menjaga stabilitas sektor properti mendorong terciptanya pasar KPR yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul