Penyebab Antiklimaks Lini Serang Mewah Tim Perancis

Kehadiran Mbappe dan Dembele yang sedang berapi-api tidak cukup untuk "menggendong" Perancis. Ada masalah pendekatan di lini serang Perancis yang sangat mewah.

21 Mar 2025 19:18 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Tim nasional Perancis seolah menjanjikan pertunjukan kembang api yang meriah dengan talenta luar biasa di lini serang. Namun, ledakan Kylian Mbappe dan rekan-rekan ternyata tidak lebih besar dari petasan banting. Mereka hanya mewah di atas kertas, tetapi belum terbukti di lapangan.

Kesimpulan sementara itu bisa dipetik setelah Perancis takluk dari tuan rumah Kroasia, 0-2, di Stadion Poljud, Split, pada Jumat (21/3/2025) dini hari WIB. Di laga pertama perempat final Liga Nasional Eropa 2024-2025 itu, sanjungan terhadap lini serang ”Si Biru” berubah menjadi keraguan.

Dibandingkan Perancis, tidak ada negara di dunia yang punya talenta penyerang lebih mewah saat ini. Tim asuhan pelatih kepala Didier Deschamps menatap jeda internasional dengan kehadiran enam penyerang kelas dunia yang bermain di liga-liga terbesar Eropa.

Mereka adalah Mbappe (Real Madrid), Michael Olise (Bayern Muenchen), Randal Kolo Muani (Juventus), serta trio Paris Saint-Germain Ousmane Dembele, Bradley Barcola, dan Desire Doue. Enam pemain tersebut total menciptakan 105 gol dan 45 asis di klub pada musim ini.

Lalu, mengapa Perancis gagal menciptakan satu gol pun ke gawang Kroasia? Deschamps bahkan sangat tidak puas dengan penampilan tim asuhannya. ”Pendekatan di laga ini tidak bagus. Kualitas lawan menghukum kami. Kami terlalu banyak membuat kesalahan teknis,” kata sang pelatih.

TOPSHOT - France's forward #10 Kylian Mbappe (R)  fights for the ball with Croatia's midfielder #10 Luka Modric   during the UEFA Nations League quarter-final first-leg football match between Croatia and France at the Poljud Stadium in Split, on March 20, 2025. (Photo by FRANCK FIFE / AFP)

Antiklimaks Perancis disebabkan oleh trisula lini depan yang tidak efektif. Deschamps menurunkan para pemain andalannya dalam beberapa tahun ke belakang, yaitu Mbappe, Muani, dan Dembele. Formasi yang diturunkan tidak biasa, 4-3-1-2. Dembele berada di belakang duet Mbappe dan Muani.

Pendekatan di lapangan ternyata berbeda jauh. Formasi Perancis lebih mirip 4-3-3. Dembele bergeser ke kanan, Mbappe ke kiri, sementara Muani di posisi sentral. Trisula itu tampil bersama selama 64 menit, sebelum Muani akhirnya digantikan Barcola. ”Si Biru” bermain lebih baik setelah itu.

Kegagalan trisula awal Perancis cukup beralasan. Di klub, Mbappe dan Dembele lebih sering mengisi posisi sentral sebagai penyerang tengah yang diberikan kebebasan bergerak. Mbappe sudah menciptakan 30 gol dan 4 asis di Madrid, sementara Dembele denggan 30 gol dan 6 asis di PSG.

Keduanya justru digeser ke sisi sayap. Deschamps lebih memercayai Muani sebagai ujung tombak. Padahal, Muani belum mencetak gol lagi di klub sejak awal Februari selama delapan pertandingan beruntun. Dia dipilih di antara para penyerang lain yang sedang ”berapi-api”.

Terbukti serangan Perancis lebih berbahaya pada setengah jam terakhir, seusai Muani ditarik dan Mbappe bermain lebih sentral. “Kami jauh lebih baik setelah jeda, tetapi laga ditentukan dari paruh pertama yang penuh kesalahan. Saya mungkin harus membuat perubahan,” jelas Deschamps.

France's forward #07 Ousmane Dembele (L) is tackled by Croatia's defender #04 Josko Gvardiol  during the UEFA Nations League quarter-final first-leg football match between Croatia and France at the Poljud Stadium in Split, on March 20, 2025. (Photo by FRANCK FIFE / AFP)

Kerumitan Deschamps

Deschamps memang memiliki banyak opsi di lini serang. Namun, sebagai konsekuensi, dia juga harus mengorbankan pemain berbakat untuk duduk di bangku cadangan. Olise yang menjadi andalan Bayern sepanjang musim ini hanya diturunkan saat waktu normal tersisa enam menit.

Doue yang sering mengejutkan dari bangku cadangan PSG, tidak diberikan kesempatan sama sekali. Padahal, dia bisa bermain di dua sisi sayap dan terbukti mampu unjuk gigi dalam laga besar. Doue adalah salah satu pemain terbaik PSG ketika mengalahkan Liverpool di 16 besar Liga Champions.

Penempatan posisi menjadi persoalan lain. Deschamps harus memfasilitasi Dembele dan Mbappe di posisi sentral. Mbappe bisa membuat ”Si Biru” lebih tajam ketika di tengah, saat Dembele menjadikan serangan timnya lebih sulit ditebak.

Dembele bukan penyerang murni. Ketika diturunkan sebagai ujung tombak, dia lebih menjalankan peran ”penyerang palsu”. Pemain 27 tahun itu bergerak bebas ke dua sisi sayap, termasuk menusuk dari lini kedua. Peran baru tersebut yang membuat Dembele sedang dalam musim terbaiknya.

Deschamps tampaknya perlu lebih mengikuti evolusi para pemain di klub masing-masing. Mbappe dan Dembele memang masih berperan sebagai penyerang sayap murni ketika tampil di Piala Eropa 2024, tetapi semua sudah berbeda saat ini. Mereka sudah berkembang.

France's midfielder #11 Michael Olise kicks the ball  during the UEFA Nations League quarter-final first-leg football match between Croatia and France at the Poljud Stadium in Split, on March 20, 2025. (Photo by FRANCK FIFE / AFP)

Perancis masih punya kesempatan membalikkan keadaan atas Kroasia pada laga kedua di depan publik sendiri, di Stadion Stade de France, Senin dini hari WIB. Gelandang veteran ”Si Biru” Adrien Rabiot mengatakan, laga kandang akan jauh berbeda dari sebelumnya.

”Kami tidak putus asa. Duel ini ditentukan dengan dua pertandingan. Kami hanya harus tetap tenang dan menegakkan kepala. Kami yakin akan hal itu. Kami ingin menunjukkan nilai sebenarnya dari tim Perancis. Mereka hanya unggul dua gol, bukan lima gol,” tegas Rabiot.

Selain menemukan racikan pas di serangan, Perancis juga harus membenahi kerapuhan di pertahanan. Lini belakang yang dipimpin duet bek Ibrahima Konate dan William Saliba merupakan penyebab utama kekalahan dari Kroasia. Percuma mencetak gol, jika kemasukan lagi. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase