Berpacu dengan Waktu Menyelamatkan Korban Gempa Myanmar

Seiring berjalannya waktu, peluang untuk menyelamatkan korban gempa Myanmar yang terjebak di tumpukan puing menipis. Namun, petugas penyelamatan enggan menyerah.

31 Mar 2025 14:41 WIB · Internasional

Oleh Antonius Tomy Trinugroho

Pada hari Senin (31/3/2025), harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat dari reruntuhan di kota Mandalay, Myanmar, menipis. Gempa dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar dan negara tetangganya, Thailand, telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Kota Mandalay, dengan penduduk lebih dari 1,7 juta jiwa, kini mengalami duka mendalam di tengah puing-puing bangunan yang hancur.

Kondisi semakin sulit ketika suhu mencapai sekitar 40 derajat celsius, kondisi yang membuat upaya penyelamatan sangat sukar. Panas yang menyengat mengakibatkan kelelahan luar biasa pada tim penyelamat, sementara proses identifikasi korban kian terhambat akibat pembusukan yang berlangsung lebih cepat. Di tengah derita dan keputusasaan, setiap detik menjadi sangat berharga bagi mereka yang masih berjuang untuk bertahan hidup di antara reruntuhan.

Quote

Meskipun waktu 72 jam dianggap kritis bagi korban yang masih hidup, para penyelamat tidak menyerah. Setiap detak jam menjadi pengingat bahwa meskipun keadaan tampak suram, masih ada secercah harapan untuk menyelamatkan nyawa di antara puing-puing yang berserakan.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Myanmar pada Jumat (28/3/2025). Guncangan gempa terasa hingga Bangladesh, India, Laos, Thailand, dan China.

Di Mandalay, upaya pencarian dan penyelamatan dilakukan oleh tim secara intensif meski menghadapi keterbatasan alat berat dan akses yang tersendat akibat infrastruktur yang rusak. Para petugas harus menelusuri tumpukan puing dengan penuh kehati-hatian.

Mereka mengandalkan pengalaman dan insting untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan. Selangkah demi selangkah, mereka menggali reruntuhan sambil berhadapan dengan kondisi alam yang tak bersahabat, menjadikan setiap upaya sebagai perjuangan melawan waktu.

Kisah memilukan terjadi ketika seorang perempuan hamil terjebak di bawah puing selama lebih dari 55 jam. Dalam upaya membebaskannya, tim penyelamat bahkan melakukan amputasi pada kakinya demi membuka jalan menuju keselamatan.

Namun, meskipun segala upaya telah dilakukan, wanita tersebut dinyatakan meninggal dunia akibat kehilangan darah yang sangat banyak. Peristiwa tragis ini mencerminkan betapa beratnya tantangan yang harus dihadapi oleh para penyelamat dalam kondisi darurat yang ekstrem.

Shalat Idul Fitri

Sementara itu, pada saat yang sama, kegiatan keagamaan berlangsung. Jemaah Muslim berkumpul di dekat masjid yang hancur untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, menandai akhir bulan Ramadhan. Di tengah reruntuhan dan duka, kegiatan ibadah ini menjadi simbol kekuatan iman dan harapan. Musibah telah merenggut begitu banyak nyawa, tetapi kehadiran umat yang beribadah menunjukkan semangat untuk tetap bersatu serta mencari kedamaian di saat-saat tergelap.

Umat ​​Islam menjalani shalat Subuh, Senin (31/3/2025), di Mandalay, Myanmar, untuk merayakan Idul Fitri, menandai berakhirnya bulan puasa Ramadhan.

Jumlah korban yang meninggal terus bertambah seiring ditemukannya jenazah di berbagai lokasi terdampak bencana. Pemerintah militer Myanmar menyatakan, lebih dari 1.700 orang kehilangan nyawa, sementara ribuan lainnya luka-luka dan ratusan orang masih dinyatakan hilang. Angka resmi tersebut dikhawatirkan hanya sebagian kecil dari realitas penderitaan mengingat skala kehancuran yang terjadi di wilayah-wilayah terdampak bencana.

Kehancuran infrastruktur mempersulit upaya evakuasi dan distribusi bantuan kemanusiaan. Jembatan, jalan raya, dan fasilitas publik rusak parah sehingga menghambat pergerakan tim penyelamat dan logistik bantuan. Kondisi ini semakin memberatkan beban masyarakat yang telah kehilangan tempat tinggal dan harta benda sehingga membuat situasi darurat kian kompleks dan membutuhkan respons cepat dari semua pihak.

A patient lies on a bed surrounded by medical workers in the compound of Mandalay General Hospital in Mandalay on March 31, 2025, three days after the deadly Myanmar earthquake. Hopes were fading of finding more survivors in the rubble of Mandalay, where some residents spent a third night sleeping in the open after a massive earthquake killed at least 1,700 people in Myanmar and neighbouring Thailand. (Photo by Sai Aung MAIN / AFP)

Di tengah situasi bencana, konflik internal yang telah berlangsung sejak kudeta militer tahun 2021 turut menambah kompleksitas penanganan gempa. Konflik bersenjata dan ketidakstabilan politik membuat akses ke beberapa daerah terdampak sangat sulit. Ribuan warga yang telah mengungsi akibat perang kini harus menghadapi ancaman bencana alam sehingga penderitaan dan ketidakpastian semakin mendalam di negeri yang tengah dilanda krisis.

Bangkok

Sementara itu, di Bangkok, Thailand, dampak gempa juga menimbulkan kerusakan signifikan. Sebuah gedung yang sedang dibangun mengalami keruntuhan total, menelan korban jiwa terutama di kalangan pekerja konstruksi. Menurut laporan pihak berwenang, setidaknya 18 orang tewas, 33 orang terluka, dan 78 orang masih dilaporkan hilang. Suasana panik menyelimuti lokasi kejadian, sementara upaya penyelamatan terus dilakukan dengan harapan menemukan korban hidup.

Tim penyelamat bekerja keras menggunakan alat berat, anjing pelacak, dan teknologi pencitraan termal untuk mencari tanda-tanda kehidupan di balik puing. Meskipun waktu 72 jam dianggap kritis bagi korban yang masih hidup, para penyelamat tidak menyerah. Setiap detak jam menjadi pengingat bahwa meskipun keadaan tampak suram, masih ada secercah harapan untuk menyelamatkan nyawa di antara puing-puing yang berserakan.

Seorang wanita Kamboja menyeka air matanya sambil menunggu kabar tentang saudara laki-laki dan saudara iparnya yang hilang, di lokasi runtuhnya bangunan yang sedang dibangun, di Bangkok, Thailand, Senin (31/3/2025).

Pejabat setempat menegaskan, pencarian tidak akan dihentikan meski tantangan semakin besar. Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt menyatakan keyakinannya bahwa setiap nyawa yang berhasil diselamatkan merupakan kemenangan bagi seluruh bangsa. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ini, kolaborasi antara aparat, relawan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bantuan kemanusiaan pun mulai berdatangan dari berbagai negara tetangga dan lembaga internasional. China dan India mengirim tim penyelamat serta logistik untuk mendukung upaya tanggap darurat. Organisasi kemanusiaan internasional, termasuk Palang Merah, berupaya menggalang dana lebih dari 100 juta dollar AS guna meringankan beban penderitaan masyarakat yang terdampak gempa.

infografik Myanmar dan Gempa Bumi Besar di Wilayah Tersebut Sejak Tahun 1980

Krisis yang melanda Myanmar dan Thailand bukan hanya soal bencana alam, melainkan juga mencerminkan kerentanan sosial dan politik yang telah lama mengakar. Konflik internal, ketidakstabilan pemerintahan, dan lemahnya infrastruktur dasar menjadi faktor-faktor yang memperparah dampak gempa. Di tengah upaya penyelamatan nyawa, tantangan untuk membangun kembali kehidupan yang hancur menjadi semakin rumit, serta menguji ketangguhan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi cobaan berat. (AFP/AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono