Makanan yang tersaji dalam MBG di Empat Lawang yang sempat disetop karena diduga basi dan berulat, akhirnya dilanjutkan kembali.
25 Feb 2025 20:03 WIB · Nusantara
PALEMBANG, KOMPAS — Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, akhirnya kembali dilanjutkan setelah ada jaminan perbaikan dari penyelenggara. Kepolisian pun mengawasi untuk pastikan perbaikan berjalan konsisten.
”Kami akan terus mengecek perbaikan yang sudah dilakukan. Pada prinsipnya, kami sangat mendukung MBG yang merupakan program unggulan dari Presiden Prabowo Subianto. Kami ingin memastikan program ini berjalan dengan baik,” kata Ajun Komisaris Besar Abdul Aziz Septiadi, Kepala Kepolisian Resor (Polres) Empat Lawang, dalam konferensi pers di Markas Polda Sumsel, Palembang, Selasa (25/2/2025).
Menurut Abdul, pengawasan harus terus dilakukan. Ini supaya jangan sampai terulang kasus delapan siswa SD yang sakit perut dan muntah-muntah seusai menyantap menu MBG yang diduga basi dan berulat. Sebagaimana diketahui, program MBG di Empat Lawang sempat dihentikan Rabu (19/2/2025) dan Kamis (20/2/2025) setelah terjadi insiden 8 pelajar sakit perut dan muntah seusai makan MBG. Para siswa SD Negeri 7 Tebing Tinggi itu pun dilarikan ke puskesmas untuk perawatan medis.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Empat Lawang lalu melakukan sejumlah perbaikan dalam penyediaan dan pendistribusian menu MBG. Atas jaminan penyelenggara, program MBG kembali diselenggarakan pada Jumat (21/2/2025).
Abdul melanjutkan, sejumlah bentuk perbaikan yang dijamin oleh penyelenggara, antara lain, proses pengantaran menu dari dapur ke sekolah-sekolah dilakukan dengan lebih cepat. Tujuannya agar menu masih segar saat diterima dan akan disantap oleh para siswa. ”Dari hasil sidak (inspeksi mendadak) kemarin, kami melihat penyelenggara MBG telah melakukan sejumlah perbaikan. Sekarang, mereka bekerja lebih cepat dibandingkan sebelumnya, antara lain, dalam pendistribusian menu,” ujarnya.
Menurut Aziz, pihaknya akan terus mengawasi untuk pastikan perbaikan berjalan konsisten. Kalau kasus serupa sampai terulang, lanjutnya, itu akan menjadi citra buruk untuk program tersebut. ”Perbaikan juga berguna untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat. Maksudnya, agar masyarakat, baik orangtua siswa maupun siswa, tidak trauma atau resisten terhadap MBG,” tutur Aziz.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/25/ec611f92-cd8b-479c-b787-05571ac9e231_jpg.jpg)
Berdasarkan informasi yang diterima Kompas, menu MBG di Empat Lawang disediakan oleh Yayasan Vieki Indira. Yayasan itu berada di bawah naungan Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Sumsel. Seusai mencuat kasus delapan siswa SD Negeri 7 Tebing Tinggi yang sakit perut dan muntah-muntah itu, mereka tetap dipercaya sebagai penyedia menu MBG di Empat Lawang.
Ketua DPD PPJI Sumsel Evie Hadenli sempat menduga ada unsur kesengajaan di balik temuan menu MBG yang diduga basi dan berulat tersebut. Pasalnya, mereka mengklaim sudah menjalani standar operasional prosedur (SOP) yang diaur serta sampel menu yang mereka simpan terbukti tidak basi ataupun berulat.
Atas dasar itu, Evie saat mengirim pesan melalui Whatsapp, Senin (24/2/2025), menyatakan, pihaknya berusaha lebih ketat dalam mengawasi pendistribusian menu dari dapur ke sekolah-sekolah. ”Evaluasinya (dari peristiwa kemarin), makanan harus tetap ditunggui sampai betul-betul aman. Yang pasti, pengamanan distribusi makanan lebih diperkatat lagi. Makanan betul-betul dipastikan sampai ke penerimanya dan dibuktikan dengan dokumentasi serah terima,” terangnya.
Mengenai perkembangan kasus, Aziz menuturkan, pihaknya masih dalam tahap pengembangan penyelidikan. Aparat memintai keterangan sejumlah saksi. Sejauh ini, sudah enam saksi, antara lain, pihak dapur, pengantar makanan, hingga penerima makanan di sekolah. Dalam waktu dekat, mereka pun akan memintai keterangan pihak yayasan.
Selebihnya, kepolisian masih menanti hasil uji laboratorium sampel menu MBG hari kedua yang sudah diterima oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Palembang, Rabu (19/2/2025) pagi. Hasil uji laboratorium itu dikabarkan akan keluar dalam pekan ini. ”Mudah-mudahan, uji laboratorium itu segera tuntas. Hasilnya akan menjawab penyebab munculnya peristiwa kemarin (menu MBG diduga basi dan berulat),” ujar Aziz.
Dalam kesempatan itu, Aziz meminta semua pihak untuk tidak berspekulasi mengenai penyebab munculnya peristiwa menu MBG yang diduga basi dan berulat. Pasalnya, penyelidikan oleh kepolisian masih berlangsung. Di sisi lain, kasus itu harus dibuktikan dengan data dan fakta. ”Kami mohon jangan ada yang berspekulasi macam-macam agar tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan semua pihak,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dalam acara Agrinnovation Conference dan Rapat Kerja Nasional Pemuda Tani 2025 di Jakarta Convention Center Senayan, Jakarta, Sabtu (22/2/2025), mengatakan, mengenai kasus menu MBG di Empat Lawang yang diduga ada belatung atau ulat, itu tidak mungkin terjadi.
Pasalnya, belatung atau ulat tidak mungkin hidup di luar makanan. Sementara itu, video yang beredar menunjukkan belatung berada di luar makanan atau bertebaran di wadah makanan. ”Saya ahli entomologi (ilmu yang mempelajari serangga dan kaitannya dengan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan). Jadi, saya paham betul, tidak mungkin belatung hidup di luar omprengan (wadah makanan),” kata Dadan yang disiarkan kanal Youtube Edufarmers.
Lebih lanjut, Dadan menjelaskan, pihaknya selalu menyimpan sampel makanan yang telah didistribusikan. Dari sampel menu pada hari munculnya berita menu MBG di Empat Lawang, diduga ada belatung tersebut, pihak SPPG setempat tidak menemukan ada belatung dalam semua menu yang disediakan.
Kalau ada belatung (di luar makanan), itu pasti sudah mati.
Kenapa demikian, itu karena mereka selalu menjaga kebersihan. ”Kalau ada belatung (di luar makanan), itu pasti sudah mati. Kemudian, waktu ada belatung pada buah pepaya, tidak mungkin belatungnya keluar karena mereka pasti akan terus makan di dalam buah. Tetapi, itu justru belatungnya ditemukan di luar buah,” tuturnya.
Maka itu, Dadan menuturkan, pihaknya harus lebih waspada. Caranya dengan meningkatkan SOP. Biasanya, SPPG hanya menyimpan sampel menu selama 24 jam untuk alat bukti kalau ada hal yang tidak diinginkan. Sekarang, SPPG diminta untuk mendokumetasikan menu setiap mau dikirimkan, baik dengan cara divideokan maupun difoto.
Dokumentasi itu akan menjadi alat bukti kalau kasus seperti di Empat Lawang kembali terjadi. ”Kalau ada video dan fotonya, kita bisa buktikan kalau tiba-tiba begitu sampai di sekolah, ada belatung di menu atau omprengannya. Itu artinya ada hal yang tidak normal,” ujarnya.
Terlepas dari itu, menurut Dadan, semua peristiwa yang terjadi menjadi bahan evaluasi untuk terus meningkatkan SOP mereka. ”Setelah paginya memberikan pelayanan, sorenya kami melakukan rapat dengan semua SPPG di seluruh Indonesia. Tujuannya, untuk terus meningatkan standar kami. Jadi, program ini sangat terkontrol,” katanya.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Irma Tambunan