Lima laga Liga Inggris sudah dijalani Alexander Isak bersama Liverpool. Namun, belum satu gol pun dia ciptakan untuk "The Reds". Asis? Sejauh ini juga baru satu.
30 Nov 2025 08:00 WIB · Kolom
AP
Isak digadang-gadang memperkuat lini depan Liverpool di musim kompetisi 2025-2026. Kehadirannya diyakini bakal menambah daya gedor ”The Reds” dalam misi mempertahankan gelar juara Liga Inggris. Terlebih, sejumlah kekuatan di lini serang Liverpool sudah dilepas pelatih Arne Slot, salah satunya Luis Diaz.
Pilihan Slot terhadap Isak, tentu setelah melihat performanya di Newcastle United. Selama tiga musim tergabung di ”The Magpies”, Isak menyumbang 54 gol dari 86 penampilannya. Ia hampir selalu menjadi pemain mula bagi Newcastle, dan sebagai kompensasi atas kepercayaannya itu, Isak menyumbangkan gol-gol jitu.
Pada laga pertama musim 2023-2024, misalnya, Isak mencetak dua gol pada laga melawan Aston Villa, 12 Agustus 2023, yang berakhir dengan 5-1. Tak berselang terlalu lama, pada 27 September 2023, Isak mencetak gol satu-satunya ke gawang Manchester City dalam laga Piala Liga (Carabao Cup). Selain sangat bermakna karena membawa kemenangan bagi "The Magpies", gol itu juga penanda kemenangan perdana Newcastle atas City dalam 11 pertemuan terakhir.
Produktivitas Isak terus berlanjut hingga menjelang akhir musim itu. Pada 14 April 2024, Isak membukukan dua gol yang menjadi gol ke-16 dan ke-17 musim itu, dalam laga melawan Tottenham Hotspur saat Newcastle menang telak, 4-0. Dengan total 17 gol dalam satu musim itu, Isak menyamai rekor Zlatan Ibrahimovic, sebagai sesama pesepak bola Swedia yang menciptakan 17 gol dalam semusim di Liga Inggris.
Rekor itu kemudian dia pecahkan saat mencetak dua gol pada laga 28 April melawan Sheffield United, dalam laga yang berakhir 5-1 di St James Park. Isak lantas menyudahi musim 2023-2024 sebagai musim keduanya di Newcastle sebagai pencetak gol terbanyak dengan 21 gol, hanya kalah dari Erling Haaland (Manchester City) dan Cole Palmer (Chelsea). Haaland dengan 27 gol dan Palmer 22.
Keunggulan Isak di depan gawang lawan, dengan aksi dribel menawan, naluri mencetak gol yang tinggi dan penyelesaian akhir mematikan, berlanjut pada musim 2024-2025 dengan torehan 23 gol. Aksinya yang impresif ini lanjutan dari kisah sebelumnya, ketika kurun 2019-2011 dia tergabung di Real Sociedad, dan menyumbang 33 gol dari 105 laga.
Ketajaman Isak inilah yang membuat Slot tertarik merekrutnya ke Anfield. Banderolnya? Tak tanggung-tanggung, Isak diikat dengan nilai transfer 125 juta pound sterling, atau setara dengan Rp 2,7 triliun. Banderol transfer ini menjadi yang ketiga termahal setelah Neymar yang direkrut dengan nilai 200 pounds dari Barcelona ke Paris St Germain (PSG), dan Kylian Mbappe dari Monaco, juga ke PSG, seharga 165,7 pounds.
Kecenderungan mejannya penyerang baru Liverpool bukan kali ini saja terjadi. Sejumlah nama lain yang meroket dengan ketajamannya di klub lama, ternyata tumpul di lini depan Liverpool. Sebut saja Andy Carroll, Christian Benteke, Mario Balotelli, dan Darwin Nunez.
Persis dengan Isak, Andy Carroll sebelumnya juga melesat bersama Newcastle United. Saat membela ”The Magpies” kurun 2006-2011, Carrol mencetak 31 gol dari 80 penampilan. Aksi mengesankan itu membuat Liverpool tertarik dan merekrut striker jangkung ini dengan banderol 35 juta pound sterling atau sekitar Rp 760 miliar. Apa daya, Carroll terdata hanya menyumbangkan enam gol bagi ”The Reds” dari 44 laga, selama di Anfield kurun 2011 hingga 2013.
Adapun Christian Benteke, awalnya gemilang di Aston Villa. Selama 2012-2015 saat di Villa, Benteke membukukan 42 gol bagi klubnya dari 89 pertandingan. Liverpool yang terpana dengan produktivitas gol dan ketajaman Benteke, merekrut pesepak bola Belgia ini dengan banderol 32,5 pounds (Rp 711 miliar). Setali tiga uang dengan Carroll, total kontribusi gol Benteke juga di bawah 10, yakni hanya sembilan gol dari 29 laga.
Mario Balotelli? Sebelum di Liverpool, pemain temperamental ini sudah ”berkelana” di Inter Milan, Manchester City, dan AC Milan. Dalam kariernya di Milan, Balotelli yang kontroversial membukukan 26 gol dalam 43 laga. Malang bagi Liverpool, dalam 16 kali aksinya bersama ”The Reds”, Balotelli hanya menyumbang satu gol. Iya, satu gol saja!
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/21/642a9cb9b4ef3deb352d88e0b2276a77-Britain_Soccer_League_Cup_127303957.jpg)
Darwin Nunez, selama tiga musim di Liverpool (2022-2025), menciptakan 25 gol bagi ”The Reds”. Untuk pemain berposisi striker, produktivitas itu tentu jauh dari harapan. Apalagi, sebelumnya dia direkrut Liverpool karena ketajaman di klub sebelumnya, Benfica, dengan 32 gol dari 57 laga. Tak kurang-kurang berbagai kritik mengiringi penampilan Nunez, terutama pada musim pertamanya.
Salah satunya artikel Gary Rose di BBC Sport yang berjudul ”Darwin Nunez: Are Liverpool Striker's Missed Chances A Blip or Cause for Concern?”, yang dipublikasikan 30 Desember 2022. Meski menang 2-1 atas Leicester City, tetapi tercatat sejumlah peluang oleh Nunez, yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menambah keunggulan. Dua gol Liverpool itu sendiri juga berkat gol bunuh diri Wout Faes, bek Leicester.
Sejumlah peluang emas Nunez dalam laga itu tercipta pada babak kedua. Namun, dua kans di antaranya menghasilkan bola sepakan melenceng beberapa sentimeter dari gawang lawan. Adapun satu peluang lagi membuat bola melambung di atas gawang, kendati posisi sudah ideal.
Mengapa fenomena penyerang mejan di Liverpool terus berulang? Mulai dari Carroll, Benteke, Balotelli, hingga Nunez, dan kini Isak? Faktor tekanan mental rasanya krusial. Nama besar Liverpool seakan siap menunggu pembuktian bintang-bintang baru yang baru saja direkrut, terutama mereka yang dihadirkan dengan banderol mahal seperti Isak.
Pelatih senior Carlo Ancelotti, dalam artikel Mike Carson berjudul ”The Art of One-on-One” menilai penting pendekatan orang per orang, atau dari hati ke hati, oleh pelatih terhadap pemain sehingga arahan pelatih tak cukup hanya melalui uraian taktik di hadapan tim. Namun, mesti diupayakan juga melalui dialog dari hati ke hati.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/15/a88f7d39c4d187305d27d1c9d8896ba8-wires_photo_77_.jpg)
Bagi Ancelotti, pesepak bola bukan cuma aset klub, tetapi lebih dari itu, mereka juga manusia. ”Manusia punya emosi, prioritas-prioritas, keyakinan, perspektif, dan kecemasan. Menemukan hal-hal ini saja, bisa menjadi tugas serius. Mengatasi dan menanganinya kemudian, itu tahap berikut yang tak mudah juga,” demikian kata Ancelotti, seperti ditulis Carson dalam buku ”The Manager, Inside The Minds of Football's Leaders”.
Saat melatih AC Milan, Ancelotti berkisah, seorang pemain top di klub elite Italia itu pernah curhat kepadanya bahwa si pemain sedang ada masalah pribadi. Keduanya lantas berdiskusi untuk mencari solusi, yang kemudian ditemukan. Bagi Ancelotti, kesediaan si pemain untuk menuturkan problem kepadanya, itu teramat penting.
Problem relokasi pemain, apakah itu pemain pindah klub sehingga pindah negara domisili, atau sekadar pindah kota, seperti Isak dari Newcastle ke Liverpool, diulas di buku ”Soccernomics” karya Simon Kuper dan Stefan Szymanski. Namun, meski buku ini sudah terbit sejak 2009, atau sudah 16 tahun berselang, tetapi sepertinya masih banyak klub yang belum menganggap ihwal relokasi ini sebagai urusan penting.
Penyerang asal Pantai Gading, Didier Drogba, menuturkan pengalamannya hijrah dari Olympique Marseille di Marseille, Perancis, ke Chelsea di London, Inggris. Ia menuliskan, ”Saya terperosok ke dalam berbagai permasalahan yang terkait dengan status saya sebagai pekerja ekspatriat. Chelsea benar-benar lepas tangan waktu itu”.
Tak seorang pun dari klub, tulis Kuper dan Szymanski, yang dapat membantu mencarikan sekolah untuk anak-anak Drogba. Yang dilakukan Chelsea untuk membantu Drogba mendapatkan rumah, hanya menghubungi agen real estat yang kemudian menawarkan rumah seharga 18 juta dollar AS atau Rp 300 miliar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/64cdddb7dd968823095c54bce80729be-Britain_Champions_League_Soccer_134342163.jpg)
Drogba, yang mengumpamakan awal-awal dia di Chelsea sebagai ”berminggu-minggu yang amat menyebalkan”, pada akhirnya harus jungkir balik mencari rumah setelah selesai berlatih dengan Chelsea. Sementara anak-istrinya harus sekian lama tinggal di hotel.
Mereka yang spesialis bekerja seperti ini kemudian disebut konsultan relokasi. Seorang perempuan konsultan relokasi di sebuah klub Jerman menuturkan, ”Saya menjadi ibu para pemain, perawat mereka, agen real estat mereka, tukang bersih-bersih mereka, segalanya bagi mereka. Mereka tidak punya mobil, mereka tidak bisa berbahasa Jerman”. Apakah semua ini membantu para pemain tampil lebih baik? ”Pasti,” jawab si konsultan.
Banyak hal berpengaruh terhadap performa pemain di lapangan hijau. Selain aspek teknik dan strategi, urusan mental yang sangat dipengaruhi hal remeh-temeh termasuk adaptasi di kota tempat tinggal baru, terbukti sangat krusial. Klub mana pun yang baru saja merekrut bintang, perlu memastikan si bintang hidup nyaman di kota basis klub.
Jika kenyamanan belum didapat, penampilan impresif yang diharapkan, bisa jadi tak juga terwujud. Akankah Isak terus terisak karena terus mejan, atau segera tajam? Manajemen Liverpool yang harus menjawabnya, terutama pelatih Arne Slot.
Penulis:
Adi PrinantyoEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase