Ribuan keluarga yang terisolasi di Kabupaten Agam, Sumbar, berpotensi kelaparan jika tidak ada suplai logistik. Distribusi bantuan masih tersendat.
01 Des 2025 18:37 WIB · Nasional
KOMPAS/YOLA SASTRA
AGAM, KOMPAS — Para penyintas dan warga yang terimbas bencana banjir bandang dan longsor di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengeluhkan distribusi bantuan yang tersendat serta dinilai tidak tepat sasaran. Masyarakat di sejumlah nagari juga terancam kelaparan karena terisolasi akibat putusnya jalan dari berbagai arah.
Musra Putra Desal (54), warga Nagari Salareh Aia, Senin (1/12/2025), mengatakan, keluarganya yang kini tinggal di pengungsian menghadapi berbagai kesulitan. Meski lokasi pengungsian dapat dijangkau kendaraan roda empat, keluarganya merasa kekurangan makanan.
”Kalau melihat bantuan yang masuk, pengungsi sepertinya dapat makan sepuasnya. Namun kenyataannya, untuk makan saja, kadang (porsinya) tidak cukup. Hanya sekadar makan,” kata Musra.
Musra pun mempertanyakan distribusi bantuan yang dinilai tidak tepat sasaran. Bantuan seharusnya diprioritaskan untuk korban yang rumahnya dihantam bencana dan warga yang terisolasi. ”Kadang terpikir hendak memindahkan keluarga ke tempat lain. Biarlah kami pakai biaya sendiri,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/83995aa515b0f54a6e7d5b1f4cae569f-1000911322.jpg)
Suwirman (55), warga Nagari Salareh Aia lainnya, mengatakan, ia dan keluarganya kesulitan air bersih di tempat pengungsian. Baru pada Minggu (30/11/2025) kemarin, suplai air dari mobil tangki masuk, tetapi tidak mencukupi, terutama untuk kebutuhan mandi cuci kakus (MCK).
”Pernah kami minta tank air, tetapi belum ada. Di pengungsian, kami minta air ke sumur rumah tetangga yang tidak terdampak,” kata pria yang rumahnya rusak dihantam banjir bandang dari Sungai Nanggang pada Kamis (27/11/2025) lalu.
Ketua Kelompok Siaga Bencana (KSB) Nagari Tigo Koto Silungkang Nasril (51) mengatakan, selain dihantam banjir bandang, sejumlah kampung di nagarinya terimbas akibat akses jalan putus dari sejumlah arah, termasuk jalan provinsi. Ribuan keluarga terisolasi.
Nasril menyebut, bantuan di posko tidak disalurkan dengan baik. Kini, atas kebijakan wali nagari, ia dan warga lainnya jemput bola dan mengawal distribusi bantuan hingga ke kampung. Di titik terakhir jalan dapat diakses, para sukarelawan mengangkut bantuan dengan berjalan kaki.
”Bantuan hanya terfokus di lokasi bencana, sedangkan yang akan mati banyak di atas (kampung terisolasi),” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/4ca0373017f5b314cb50c6dc8c31b913-1000911300.jpg)
Nasril berharap, bantuan dapat disalurkan dengan baik ke lokasi terisolasi, kalau perlu pakai helikopter. Ia juga meminta agar akses jalan dari berbagai arah, terutama Bukittinggi dan Lubuk Basung, dapat segera dibuka atau diperbaiki.
Kepala Polres Agam Ajun Komisaris Besar Muari mengatakan, sedikitnya ada empat nagari terisolasi di Kecamatan Palembayan, yaitu Baringin, Sungai Puar, Ampek Koto, dan Sipinang. Akses dari arah Lubuk Basung, Bukittinggi, dan lainnya terputus.
”Di sana ramai, ada pasar dan toko. Namun, kalau berhari-hari mereka di dalam, tidak ada pasokan sembako yang naik, kemungkinan besar akan terjadi kelaparan kalau akses jalan tidak segera diperbaiki,” kata Muari.
Muari sudah menyampaikan persoalan ini kepada bupati dan meminta akses jalan segera dibuka atau diperbaiki. Pada Senin ini, ada tiga ekskavator yang dikerahkan menuju arah Polsek Palembayan untuk memperbaiki akses jalan dari arah Lubuk Basung.
Di Nagari Salareh Aia dan Nagari Salareh Aia Timur, sejumlah jembatan ke perkampungan di seberang sungai terputus. Jembatan darurat dengan bambu dan tali dibangun untuk akses distribusi bantuan dan keluar-masuk warga, termasuk pasien, dengan berjalan kaki.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/a277f23eb9e3e0199dfc5da45a601381-1000911284.jpg)
Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam Rahmad Lasmono mengatakan, pihaknya masih kesulitan menyalurkan bantuan logistik dan makanan bagi penyintas bencana dan masyarakat terimbas. Hal ini karena akses jalan banyak terputus.
”Kami sampai sekarang masih terus berupaya membuka dan memperbaiki akses jalan agar daerah-daerah tersebut tidak lagi terisolasi,” ujar Rahmad.
Di sana ramai, ada pasar dan toko. Namun, kalau berhari-hari mereka di dalam, tidak ada pasokan sembako yang naik, kemungkinan besar akan terjadi kelaparan kalau akses jalan tidak segera diperbaiki.
Adapun tim SAR gabungan dari sejumlah instansi masih berupaya mencari korban. Data dari Posko Penanggulangan Bencana Alam Polres Agam di Nagari Salareh Aia mencatat korban jiwa banjir bandang di Palembayan mencapai 116 orang hingga Senin sore.
”Korban banjir bandang di Palembayan diperkirakan 300 orang lebih. Sekarang baru ditemukan 116 orang. Yang lainnya belum ditemukan. Ada 202 rumah hanyut akibat banjir bandang,” kata Muari.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul