Selain tenang dalam menjalankan aksinya, pelaku diduga hendak mengganggu penyelidikan dengan menyebarkan identitas pelaku yang dipastikan palsu di media sosial.
16 Mar 2026 17:21 WIB · Kriminalitas
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
JAKARTA, KOMPAS — Para pelaku penyiraman air keras kepada Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau Kontras Andrie Yunus diduga terlatih. Selain tenang dalam menjalankan aksinya, mereka diduga hendak mengganggu penyelidikan dengan menyebarkan identitas pelaku yang dipastikan palsu di media sosial.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir, warga sempat disajikan beredarnya foto wajah pelaku di tempat kejadian perkara.
”Foto tersebut membuat wajah para pelaku ini seolah-olah terpublikasi,” ujarnya, Senin (16/3/2026).
Kenyataannya, gambar di media sosial berupa wajah pelaku dan identitas pelaku dipastikan tidak benar. Alasannya, gambar itu diduga hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).
”Kami menduga, cara ini dilakukan jaringan pelaku untuk mengaburkan informasi, mengaburkan arah, dan mengaburkan fakta-fakta hukum,” ujar Iman.
Hal ini, kata Iman, menandakan pelaku mulai panik saat aksinya mulai terkuak. Mereka berupaya mengaburkan proses penyelidikan dengan menyebarkan gambar atau sketsa AI.
”Kami berharap hasil penyelidikan dan penyidikan dapat terjaga dan hasilnya disampaikan dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Dia memastikan, proses penyidikan tidak akan terganggu karena alat bukti yang diperoleh, termasuk kamera pengawas (CCTV), terbilang cukup lengkap. ”Kami bersyukur beberapa CCTV memiliki resolusi yang tinggi sehingga tampilan rekaman sangat jelas,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/c7ff976b5ec1faf33897421483e647af-Screenshot_2026_03_16_165219.png)
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan, apa yang dilakukan pelaku merupakan penyesatan sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk proses penyelidikan. Dia memastikan, proses penyelidikan dan penyidikan akan berlangsung secara obyektif dan didasari pada fakta hukum yang ada di lapangan.
”Ada upaya mengganggu fokus penyidik. Kami juga menyampaikan kepada masyarakat agar tetap tenang. Peristiwa ini menjadi prioritas utama Mabes Polri dan Polda Metro Jaya untuk mengungkap pelaku yang sebenarnya,” tegas Budi.
Budi juga berharap warga yang melihat, mendengar, mengetahui, bahkan mengalami peristiwa di lapangan bisa memberikan informasi sehingga bisa mengerucut ke kesimpulan yang tepat dari hasil penyelidikan dan penyidikan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/8cbed96c96891eff11470057ac8d9d6b-IMG_4813.jpeg)
Dia menjamin saksi yang memberikan informasi terkait kasus ini akan mendapatkan perlindungan. ”Kami pasti akan menjaga keamanan dan kerahasiaan informasi,” tegas Budi.
Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Reynold EP Hutagalung mengatakan, sejak menerima kabar tentang kasus ini, penyidik langsung meminta keterangan para saksi, termasuk korban Andrie Yunus.
Olah tempat kejadian perkara juga dilakukan secara rinci, mulai dari pengumpulan barang bukti seperti baju milik korban, helm milik pelaku, hingga cairan air keras yang tertinggal. Selain itu, penyidik juga memeriksa lokasi tempat penyiraman terjadi.
Hingga saat ini, pihaknya sudah memeriksa tujuh saksi. Empat saksi di antaranya adalah pemilik CCTV, warga yang menolong korban, dan saksi yang turut mengejar pelaku.
Reynold mengatakan, pihaknya sudah membawa sejumlah alat bukti, termasuk helm, yang ditemukan di Jalan Salemba menuju RS Cipto Mangunkusumo.
”Helm itu cocok dengan helm yang digunakan pelaku saat mengendarai motornya,” kata Reynold. Saat ini, helm tersebut sudah dibawa ke Puslabfor Bareskrim Polri untuk diteliti sidik jari dan DNA-nya.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar