Peran Berganda Pelatih Pebulu Tangkis Belia

Jadi orangtua, kakak, dan teman curhat, para pelatih atlet-atlet belia sering kali harus memegang beragam peranan lain. Mereka aktor utama membentuk fondasi atlet.

19 Jul 2025 13:49 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Ketika anak-anak asuhannya sedang beristirahat dalam program latih tanding pada Jumat (11/7/2025), Roy Djojo melangkah meninggalkan area latihan di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah. Pertanyaan “Koh Roy mau ke mana?” pun menyerbu pelatih tunggal putri U-13 dan U-11 PB Djarum ini. Langkah Roy kemudian sejenak terhenti. 

Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan oleh anak-anak asuhannya secara bergantian. Terkesan posesif. Namun, karena muncul dari anak-anak yang usianya berada pada rentang 10 sampai 12 tahun ini, pertanyaan itu justru terdengar menggemaskan. 

Mereka bagai anak yang tak mau ditinggal “induk”-nya barang sedetik pun. Ke mana pelatihnya pergi, mereka harus tahu. Padahal, Roy hanya hendak menuju area asrama, menunjukkan Kompas bagaimana tempat anak-anak itu tinggal. 

Menurut Roy, sikap yang terkesan posesif dari para atlet belia itu muncul karena kedekatan yang sudah terjalin di antara mereka. Kedekatan itu terbangun melalui berbagai cara dan kegiatan, termasuk perayaan ulang tahun kecil-kecilan yang rutin mereka gelar. 

“Setiap ada anak ulang tahun, biasanya kami merayakan, minimal tiup lilin. Ada yang memang orangtuanya nitip untuk dibelikan atau dibuatkan ini-itu, ada juga yang tidak. Namun, kami selalu buat perayaan meski kecil-kecilan, ini salah satu yang bikin kami dekat,” kata Roy. 

Pelatih tunggal putri kelompok umur 11 dan 13 tahun PB Djarum, Roy Djojo, memberikan evaluasi di sela-sela latihan di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (12/7/2025).

Roy melatih delapan anak pada kategori usia terbawah di PB Djarum. Atlet paling tua kelahiran 2013, artinya baru menginjak usia 12 tahun. Adapun atlet termuda baru berusia 10 tahun, kelahiran 2015. Saat seleksi lewat Audisi Umum PB Djarum pada 2024, usia anak tersebut bahkan baru sembilan tahun. 

Sebagai seorang pelatih, Roy merasa wajib dekat dengan anak-anak asuhannya karena itu akan memudahkan proses latihan. Bagi Roy, itu juga merupakan bagian dari memahami faktor nonteknis atlet yang punya porsi besar dalam perkembangan mereka.

Kedekatan juga akan memperlancar pembangunan fondasi atlet yang memang dimulai dari kelompok umur tersebut. Untuk itu, sering kali pelatih tidak sekadar melatih, tetapi juga “merelakan” dirinya untuk menjalankan peranan lainnya, mulai dari orangtua, kakak, hingga teman. 

Seperti kebanyakan anak-anak, kata Roy, atlet-atlet yunior ini terkadang mempunyai karakter manja, kurang disiplin, dan masih ingin bermain. Peran sebagai pelatih sekaligus orangtua membuat Roy harus tegas ketika ada anak yang melanggar aturan atau tidak serius berlatih. 

“Saya juga menganggap mereka sebagai anak-anak sendiri. Kalau salah, saya benar-benar tegur, tidak ada toleransi, apalagi ini berkaitan dengan fondasi mereka, tetapi setelah itu merangkulnya lagi. Kami pelatih ini ibarat orangtua mereka di sini,” ucap Roy. 

Suasana istirahat latihan pebulu tangkis putri kelompok umur 11 dan 13 tahun PB Djarum di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (12/7/2025).

Dengan peran sebagai orangtua itu, Roy juga harus siaga sepanjang hari untuk mengurus anak-anaknya. Saat ada atletnya sakit, misalnya, Roy biasanya jadi orang pertama yang menangani dan membawanya ke rumah sakit. Untuk itu, dia tinggal tak jauh dari asrama. 

Pelatih pun terkadang berperan sebagai kakak atau bahkan teman sebaya. Dengan begitu, atlet merasa nyaman menceritakan pengalaman ataupun persoalan-persoalan sehari-hari yang dihadapi. “Bahkan mereka cerita di sekolah seperti apa, jajan apa, dan lainnya. Lucu pokoknya,” tutur Roy yang menghabiskan hampir seluruh 8 tahun waktunya di PB Djarum untuk melatih atlet-atlet belia. 

Pelatih tunggal putra U-13 PB Djarum, Andreas Aditya Warman, juga merasakan hal yang sama. Kendati intensitasnya tidak tinggi, para atlet putra juga menceritakan hal-hal lain di luar latihan kepadanya. Dalam kondisi ini, Aditya menempatkan diri sebagai kakak atau teman sebaya. 

Di luar itu, kata Aditya, dia berperan sebagai pelatih dan orangtua yang memastikan anak-anak asuhannya disiplin. Tidak hanya disiplin ketika berlatih, tetapi juga ketika bersekolah dan tinggal di asrama. 

”Kita membentuk fondasi mereka, tidak hanya untuk bertanding di lapangan, tetapi juga menjalani kehidupan,” ujar Aditya.

Atlet putri belia kelompok umur 11 dan 13 tahun PB Djarum berlatih di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (12/7/2025).

Para atlet PB Djarum menghabiskan waktu sehari-hari mereka untuk berlatih dan belajar. Biasanya, mereka memulai hari dengan latihan pagi pada pukul 07.00 sampai 09.00. Selanjutnya, mereka bersekolah hingga maksimal pukul 13.30. Mereka akan kembali berlatih sore atau malam. 

Pada waktu-waktu tertentu, seperti Rabu dan Jumat, atlet biasanya hanya berlatih sekali. Mereka kemudian harus mengikuti les mata pelajaran yang sengaja diprogramkan PB Djarum, yakni matematika dan bahasa Inggris. 

Tak cuma jadwal kegiatan, cara mereka tinggal di asrama juga diatur ketat. Di pintu asrama dipasang sejumlah aturan yang yang berkaitan dengan kebersihan, sopan santun, hingga waktu keluar asrama. Pelatih masing-masing juga mengatur waktu penggunaan telepon genggam di asrama dan tempat latihan.

“Kalau handphone itu saya betul-betul batasi. Paling hanya beberapa jam sehari, sebelum atau sesudah latihan. Kalau tidak dibatasi, akan berlebihan dan itu tidak bagus. Apalagi, berkaitan juga dengan fokus anak,” kata Aditya. 

“Karena ini fasenya pendasaran, pembentukan fondasi, jadi betul-betul diatur semuanya. Kalau dari kecil fokusnya sudah terganggu, akan sulit nantinya ketika usianya bertambah. Jadi, saya lebih arahkan mereka untuk mengerjakan hal-hal lain, seperti ikut belajar menganyam senar raket atau kegiatan yang menambah fokus mereka,” ucapnya lagi. 

Pelatih tunggal putri kelompok umur 11 dan 13 tahun PB Djarum, Roy Djojo, memantau atletnya berlatih di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (12/7/2025).

Di sisi lain, kata Aditya, pelatih pun tetap berusaha memberi mereka hiburan agar tidak jenuh. Aditya, misalnya, kerap mengajak para pemain makan bersama di luar kota. Kegiatan ini juga dilakukan agar mengobati kerinduan atlet terhadap kampung halaman atau mengatasi kesedihan ketika harus berjauhan dari orangtua. 

Aditya juga bersyukur, sebagian besar anak-anak asuhannya tidak kesulitan hidup di asrama dan berjauhan dari orangtua. Sebab, mereka sudah “tersaring” lewat audisi, terutama ketika karantina. 

Setelah terpilih lewat audisi, para atlet akan masuk asrama untuk menjalani tahap karantina selama empat minggu. Koordinator Tim Pencari Bakat Atlet Putra Audisi Umum PB Djarum 2025 sekaligus Manajer Tim PB Djarum, Fung Permadi, mengatakan, pada tahap inilah konsistensi dan ketahanan atlet belia benar-benar diuji. 

Mereka yang lolos di tahap karantina akan mendapatkan Djarum Beasiswa Bulu Tangkis dan bergabung bersama PB Djarum. ”Kalau soal semangat juang, kan, mudah saja. Mereka bisa menunjukkannya saat audisi, dengan euforia pertandingan. Namun, ketika sudah berlatih berminggu-minggu, di sini akan terlihat tekad mereka,” ujar Fung Permadi, tunggal putra Indonesia peraih medali perak Kejuaraan Dunia 1999.

Peserta Audisi Umum PB Djarum berbaris menunggu pengumuman pebulu tangkis yang lolos ke tahap karantinas lewat "super tiket" pilihan Tim Pencari Bakat, Kamis (6/7/2023).

Aditya dan Roy mengatakan, melatih atlet-atlet muda itu penuh tantangan. Pada satu waktu, mereka bisa saja dibuat “darah tinggi” karena anak-anak asuhannya melanggar aturan atau bermalas-malasan saat latihan. Namun, di lain waktu, mereka juga dibuat tertawa karena tingkah mereka yang ada-ada saja. 

Terlepas dari itu, mereka sepakat, melatih para atlet belia ini adalah tantangan yang menyenangkan meski harus menjalani multi-peran. Walau terkadang bikin pusing, mereka pada akhirnya hanya bisa berkata, ”Namanya juga anak-anak…”


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase