Peran Perempuan dalam Secangkir Kopi

Pengelolaan pertanian kopi di Uganda melibatkan partisipasi aktif perempuan.

15 Mei 2025 07:59 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Meridah Nandudu berusaha mengingat masa kecilnya. Perempuan muda ini lahir dan dibesarkan oleh keluarga petani kopi di Uganda. Masa kecilnya dihabiskan di area perkebunan kopi milik keluarganya di Distrik Sironko, sebuah desa terpencil di dekat perbatasan Kenya.

Kopi adalah sumber kehidupan bagi masyarakat di daerahnya. Sejak kecil dia sudah terlibat dalam dunia kopi. Bersama saudara-saudara perempuannya, Nandudu membantu ibunya merawat perkebunan kopi berhektar-hektar. Mereka biasanya menanam, menyiangi, dan bekerja keras dengan rutinitas pascapanen yang meliputi pemulsaan, fermentasi, pencucian, dan pengeringan kopi.

Wanita memanen ceri kopi di sebuah peternakan di Mbale, Uganda, 15 Maret 2025.

Uganda adalah salah satu dari dua produsen kopi teratas di Afrika. Kopi menjadi andalan ekspor sekaligus pendapat utama negara tersebut. Negara di Afrika Timur itu mengekspor lebih dari 6 juta karung kopi antara September 2023 dan Agustus 2024. Menurut Otoritas Pengembangan Kopi Uganda, ekspor ini menghasilkan pendapatan sebesar 1,3 miliar dollar AS.

Pendapatan tersebut meningkat karena produksi yang menurun di Brasil, produsen kopi teratas dunia. Brasil menghadapi kondisi kekeringan hingga menyebabkan gagal panen.

Ia ingat betul, di daerahnya, setiap musim panen selalu bersamaan dengan lonjakan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Pasangan suami istri berebut berapa banyak penghasilan yang dibawa pulang oleh para lelaki dari penjualan kopi dan berapa banyak yang tidak.

”Ketika (para lelaki) pergi dan menjual kopi, mereka tidak bertanggung jawab. Ibu-ibu kami tidak bisa bertanya, ’Kami tidak punya makanan di rumah. Kamu menjual kopi. Bisakah kamu membayar biaya sekolah anak ini?’” katanya.

Meridah Nandudu, pendiri Bayaya Specialty coffee menunjukkan buah kopi usai panen di Mbale, Uganda, 15 Maret 2025.

Bertahun-tahun kemudian, Nandudu meraih gelar sarjana ilmu sosial dari universitas negeri di Uganda pada 2015. Biaya kuliahnya berasal dari penjualan kopi. Selepas lulus kuliah, Nandudu punya ide untuk meluncurkan perusahaan yang akan memprioritaskan kebutuhan perempuan petani kopi.

Dia menganggap proyeknya sebagai semacam persaudaraan dan memilih Bayaaya sebagai nama perusahaannya.

Perusahaan ini diluncurkan pada 2018. Bayaaya beroperasi seperti perusahaan lain, membeli kopi langsung dari petani dan mengolahnya untuk diekspor.

Namun, Bayaaya memiliki keunikan tersendiri dalam operasinya di Mbale, kota terbesar di Uganda timur. Perusahaan ini fokus pada perempuan dan menginisiasi koperasi simpan pinjam yang dapat disumbangkan dan dipinjam oleh para anggotanya.

Phoebe Nabutsale menyortir biji kopi di Darling coffee di Mbale, Uganda, 14 Maret 2025.

Meridah Nandudu membayangkan persaudaraan kopi di Uganda. Ia memiliki strategi sederhana, yaitu dengan membayar harga yang lebih tinggi per kilogram saat petani perempuan membawa biji kopi ke tempat pengumpulan.

Itu berhasil. Semakin banyak pria yang biasanya mengantar kopi mengizinkan istri mereka pergi.

Kelompok usaha Nandudu kini mencakup atau menjangkau lebih dari 600 perempuan meningkat dari hanya puluhan orang pada tahun 2022. Jumlah itu sekitar 75 persen dari petani terdaftar Bayaaya Specialty Coffee miliknya di daerah pegunungan di Uganda timur. Bayaaya Specialty Coffee memproduksi biji kopi arabika berharga dan menjualnya kepada eksportir.

Barista menimbang biji kopi di Darling coffee di Mbale, Uganda, 14 Maret 2025.

Satu dekade lalu, harga kopi yang dibeli oleh seorang perantara dari seorang petani Uganda sekitar 8.000 shilling Uganda, atau lebih dari Rp 32.000 per kilogram. Sekarang harganya sekitar Rp 85.000. Berjualan sebagai anggota Bayaaya telah menumbuhkan kerja sama tim. Linet Gimono, salah satu anggota yang bergabung dengan kelompok tersebut pada tahun 2022 mengatakan bahwa kini keluarganya bersama-sama memutuskan bagaimana cara menghabiskan hasil kopi.

Dan, dengan penghasilan yang terjamin, ia mampu membeli ”barang-barang kecil” yang sering ia butuhkan sebagai seorang wanita. ”Saya dapat membeli sabun dan gula tanpa harus berunding dengan suami saya untuk itu,” katanya.

Meridah Nandudu, kanan, pendiri Bayayaa specialty coffee memeriksa buah kopi di mesin pengupas di Mbale, Uganda, 14 Maret 2025.

Di Distrik Sironko, rumah bagi lebih dari 200.000 orang, pohon kopi menghiasi daerah perbukitan. Sebagian besar pertanian berada di lahan seluas 1 hektar atau 2 hektar meskipun beberapa keluarga memiliki lahan lebih luas.

Uniknya, dulu di daerah ini banyak petani tidak minum kopi, bahkan beberapa di antaranya tidak pernah mencicipinya. Beberapa perempuan tersenyum malu ketika ditanya seperti apa rasanya.

Namun, keadaan perlahan berubah. Peminum kopi rutin mulai bermunculan di kalangan perempuan muda yang berkecimpung dalam bisnis kopi di daerah perkotaan, termasuk di tempat pemanggangan kopi di Mbale yang sebagian besar karyawannya adalah perempuan.

Salah satunya Phoebe Nabutale, pekerja yang membantu mengawasi jaminan kualitas untuk Darling Coffee. Siang itu ia terlihat membungkuk di atas mesin pemanggang, mencium aroma biji kopi hingga ia mendapatkan aroma yang diinginkannya.

Seorang pria mengambil pesanan kopinya di Darling coffee Ltd di Mbale, Uganda, 14 Maret 2025.

Nandudu berusaha menambahkan peran perempuan dalam secangkir kopi Uganda. Ia menambahkan 200 shilling ekstra pada harga setiap kilogram yang dibelinya dari seorang perempuan. Hal itu cukup menjadi insentif bagi lebih banyak perempuan untuk bergabung.

Itu memotivasi banyak lelaki lokal ”untuk memercayai perempuan mereka untuk menjual kopi,” kata Nandudu.

Kelompok Nandudu kini memiliki banyak tempat pengumpulan di seluruh Uganda timur. Para perempuan kini mendatangi tempat-tempat itu setidaknya dua kali seminggu. Meski demikian, Ia juga menerima penjualan kopi dari para lelaki, tetapi dengan harga sedikit lebih rendah dibandingkan dengan yang dijual perempuan.

Nandudu berhasil menambahkan peran perempuan dalam secangkir kopi Uganda.

Sebuah truk sarat dengan karungberisi buah kopi di Kampala, Uganda, 15 Maret 2025.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .