PARIS, JUMAT — Presiden Perancis Emmanuel Macron mengumumkan Perancis akan mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Palestina pada September 2025. Paris akan mengumumkan secara resmi pengakuan itu dalam rangkaian Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2025.
Macron mengumumkan rencana itu pada Kamis (26/7/2025) malam waktu Paris atau Jumat dini hari WIB. ”Dengan penuh keyakinan pada komitmen panjangnya terhadap perdamaian abadi dan adil di Timur Tengah, saya memutuskan Perancis akan mengakui negara Palestina. Akan mengumumkan ini pada Sidang Majelis Umum PBB September nanti,” ujarnya.
Kini, lanjut Macron, hal mendesaknya adalah mengakhiri perang Gaza dan menyelamatkan warga sipil. Perdamaian dimungkinkan.
”Kita membutuhkan gencatan senjata segera, pelepasan semua sandera, dan bantuan kemanusiaan masif pada warga Gaza. Kita juga harus menjamin demiliterisasi Hamas, mengamankan dan membangun ulang Gaza. Akhirnya, kita harus membangun negara Palestina, memastikan kelangsungan hidupnya, dan memastikan bahwa dengan menerima demiliterisasinya serta mengakui Israel sepenuhnya, mereka (Palestina) akan berkontribusi bagi keamanan semua di Timur Tengah,” katanya.
Wakil Presiden Palestina Hussein al-Sheikh menyebut kebijakan itu mencerminkan komitmen Palestina pada hukum internasional dan dukungannya pada hak bangsa Palestina. Di jalan-jalan Tepi Barat, warga Palestina menunjukkan kebahagiaan dan suka cita atas pengumuman Macron.
Mereka berharap, bangsa-bangsa lain segera melakukan hal senada. ”Pengakuan ini akan mengarah pada pengakuan Negara Palestina oleh sejumlah negara lain di Eropa dan dunia,” kata salah seorang warga, Nahed Abu Taima
Warga lain, Mu’in Barghouti, lebih berhati-hati pada pengumuman Macron. Hal penting selanjutnya menantikan langkah nyata Perancis setelah mengakui Negara Palestina.
Pengumuman Macron dipuji sejumlah negara. Arab Saudi menyebut pengumuman itu momentum bersejarah. ”Kerajaan memuji keputusan bersejarah ini, yang menegaskan konsensus komunitas internasional pada hak bangsa Palestina atas penentuan nasib sendiri dan pendirian negara merdeka,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Perancis.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez juga menyambut pengumuman Macron. ”Kita semua harus bekerja sama melindungi hal yang coba dihancurkan Netanyahu. Solusi Dua Negara adalah satu-satunya solusi,” kata Sanchez.
Ia merujuk pada serangkaian upaya PM Israel Benjamin Netanyahu menggagalkan pembentukan Negara Palestina dan menyabotase bina damai di Gaza dan Tepi Barat. Selama puluhan tahun, Netanyahu secara terbuka akan melakukan semua cara memastikan Palestina merdeka dan berdaulat penuh tak akan terwujud.
Sementara soal Gaza, ia berulang kali menyabotase perundingan gencatan senjata. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sebelumnya Joe Biden berulang kali menyebut Netanyahu perintang perdamaian. Meski demikian, tetap saja AS mengirimkan ribuan ton senjata ke Israel.
Upaya pengakuan
Pada Juni 2025, Perancis dan Arab Saudi sedianya menggelar konferensi untuk mendukung Palestina. Konferensi itu telah diungkap Macron beberapa bulan lalu. Walakin, sampai Juni berlalu, tak terdengar kabar perwujudan konferensi tersebut.
Tekanan Amerika Serikat dan serangan gabungan AS-Israel ke Iran menjadi sebagai faktor konferensi ditunda. Kantor berita AP dan AFP melaporkan, AS melancarkan beragam tekanan ke Arab Saudi-Perancis serta sebagian calon peserta konferensi soal Palestina. Akibatnya, konferensi itu batal terwujud.
Secara teknis, konferensi juga tak bisa dilaksanakan karena wilayah udara Timur Tengah ditutup selama serangan AS-Israel ke Iran. Berbagai pihak tak bisa terbang dari dan ke sejumlah negara Timur Tengah.
Lalu, pada 28-29 Juli 2025 di New York, Menteri Luar Negeri Perancis-Arab Saudi dan setidaknya 30 negara lain akan membahas kelanjutan pertemuan itu. Mereka mempersiapkan pertemuan tingkat kepala negara dan kepala pemerintahan di sela Sidang Majelis Umum PBB.
Sejumlah diplomat menyebut, Inggris dan Kanada menolak upaya Macron mendorong pengakuan Palestina. Sementara Israel melobi sejumlah negara untuk menggagalkan pertemuan itu.
Israel mengancam akan secara resmi menjarah Tepi Barat jika Palestina diakui Perancis dan sejumlah negara lain. Sejak 1967, Israel secara faktual telah menjajah Tepi Barat.
Sejauh ini, 147 dari dari 193 anggota PBB telah mengakui Palestina. Pengakuan Perancis akan menambah daftar negara yang mengakui kedaulatan Palestina.
Dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, China dan Rusia telah mengakui Palestina sejak 1988. Indonesia juga mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Palestina pada 1988. Pengakuan disampaikan beberapa hari selepas mendiang Yasser Arafat memproklamasikan kemerdekaan Palestina pada 15 November 1988.
Sementara Inggris, Perancis, dan AS belum mengakui Palestina. Meski demikian, AS menjadi salah satu penyokong besar keberlangsungan Palestina selama bertahun-tahun.
Gelombang pengakuan pada Palestina kerap rutin terjadi setiap kali Israel menunjukkan kebrutalan pada Palestina. Pengakuan 1988 dilakukan di tengah intifada pertama. Selanjutnya di intifada kedua, kembali terjadi gelombang pengakuan pada Palestina.
Kini, di tengah kebrutalan Israel di Tepi Barat dan Gaza, sejumlah negara anggota Uni Eropa menyatakan mau mengakui Palestina. Selain Perancis, ada Spanyol serta Norwegia dan Slovenia mengakui Palestina.
(AP/AFP/REUTERS)
PARIS, JUMAT — Presiden Perancis Emmanuel Macron mengumumkan Perancis akan mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Palestina pada September 2025. Paris akan mengumumkan secara resmi pengakuan itu dalam rangkaian Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2025.
Macron mengumumkan rencana itu pada Kamis (26/7/2025) malam waktu Paris atau Jumat dini hari WIB. ”Dengan penuh keyakinan pada komitmen panjangnya terhadap perdamaian abadi dan adil di Timur Tengah, saya memutuskan Perancis akan mengakui negara Palestina. Akan mengumumkan ini pada Sidang Majelis Umum PBB September nanti,” ujarnya.
Kini, lanjut Macron, hal mendesaknya adalah mengakhiri perang Gaza dan menyelamatkan warga sipil. Perdamaian dimungkinkan.
Serial Artikel
Indonesia-Perancis Dorong Kemerdekaan Palestina
”Two State Solutions” atau solusi dua negara menjadi jalan keluar paling diplomatik untuk kemerdekaan Palestina.
”Kita membutuhkan gencatan senjata segera, pelepasan semua sandera, dan bantuan kemanusiaan masif pada warga Gaza. Kita juga harus menjamin demiliterisasi Hamas, mengamankan dan membangun ulang Gaza. Akhirnya, kita harus membangun negara Palestina, memastikan kelangsungan hidupnya, dan memastikan bahwa dengan menerima demiliterisasinya serta mengakui Israel sepenuhnya, mereka (Palestina) akan berkontribusi bagi keamanan semua di Timur Tengah,” katanya.
Wakil Presiden Palestina Hussein al-Sheikh menyebut kebijakan itu mencerminkan komitmen Palestina pada hukum internasional dan dukungannya pada hak bangsa Palestina. Di jalan-jalan Tepi Barat, warga Palestina menunjukkan kebahagiaan dan suka cita atas pengumuman Macron.
Mereka berharap, bangsa-bangsa lain segera melakukan hal senada. ”Pengakuan ini akan mengarah pada pengakuan Negara Palestina oleh sejumlah negara lain di Eropa dan dunia,” kata salah seorang warga, Nahed Abu Taima
Warga lain, Mu’in Barghouti, lebih berhati-hati pada pengumuman Macron. Hal penting selanjutnya menantikan langkah nyata Perancis setelah mengakui Negara Palestina.
Pengumuman Macron dipuji sejumlah negara. Arab Saudi menyebut pengumuman itu momentum bersejarah. ”Kerajaan memuji keputusan bersejarah ini, yang menegaskan konsensus komunitas internasional pada hak bangsa Palestina atas penentuan nasib sendiri dan pendirian negara merdeka,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Perancis.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez juga menyambut pengumuman Macron. ”Kita semua harus bekerja sama melindungi hal yang coba dihancurkan Netanyahu. Solusi Dua Negara adalah satu-satunya solusi,” kata Sanchez.
Ia merujuk pada serangkaian upaya PM Israel Benjamin Netanyahu menggagalkan pembentukan Negara Palestina dan menyabotase bina damai di Gaza dan Tepi Barat. Selama puluhan tahun, Netanyahu secara terbuka akan melakukan semua cara memastikan Palestina merdeka dan berdaulat penuh tak akan terwujud.
Sementara soal Gaza, ia berulang kali menyabotase perundingan gencatan senjata. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sebelumnya Joe Biden berulang kali menyebut Netanyahu perintang perdamaian. Meski demikian, tetap saja AS mengirimkan ribuan ton senjata ke Israel.
Serial Artikel
AS Kerahkan 607 Pesawat dan Kapal untuk Pasok 50.000 Ton Senjata ke Israel
Sebanyak 500 pesawat dan 107 kapal AS memasok 50.000 ton senjata ke Israel. Ini masih ditambah tiga kapal induk.
Pada Juni 2025, Perancis dan Arab Saudi sedianya menggelar konferensi untuk mendukung Palestina. Konferensi itu telah diungkap Macron beberapa bulan lalu. Walakin, sampai Juni berlalu, tak terdengar kabar perwujudan konferensi tersebut.
Tekanan Amerika Serikat dan serangan gabungan AS-Israel ke Iran menjadi sebagai faktor konferensi ditunda. Kantor berita AP dan AFP melaporkan, AS melancarkan beragam tekanan ke Arab Saudi-Perancis serta sebagian calon peserta konferensi soal Palestina. Akibatnya, konferensi itu batal terwujud.
Secara teknis, konferensi juga tak bisa dilaksanakan karena wilayah udara Timur Tengah ditutup selama serangan AS-Israel ke Iran. Berbagai pihak tak bisa terbang dari dan ke sejumlah negara Timur Tengah.
Lalu, pada 28-29 Juli 2025 di New York, Menteri Luar Negeri Perancis-Arab Saudi dan setidaknya 30 negara lain akan membahas kelanjutan pertemuan itu. Mereka mempersiapkan pertemuan tingkat kepala negara dan kepala pemerintahan di sela Sidang Majelis Umum PBB.
Sejumlah diplomat menyebut, Inggris dan Kanada menolak upaya Macron mendorong pengakuan Palestina. Sementara Israel melobi sejumlah negara untuk menggagalkan pertemuan itu.
Israel mengancam akan secara resmi menjarah Tepi Barat jika Palestina diakui Perancis dan sejumlah negara lain. Sejak 1967, Israel secara faktual telah menjajah Tepi Barat.
Serial Artikel
Rencana Pengakuan oleh Perancis, Posisi Politik Palestina Menguat
Perancis merupakan salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Pengakuan Perancis dipandang penting untuk solusi perdamaian Palestina-Israel.
Sejauh ini, 147 dari dari 193 anggota PBB telah mengakui Palestina. Pengakuan Perancis akan menambah daftar negara yang mengakui kedaulatan Palestina.
Dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, China dan Rusia telah mengakui Palestina sejak 1988. Indonesia juga mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Palestina pada 1988. Pengakuan disampaikan beberapa hari selepas mendiang Yasser Arafat memproklamasikan kemerdekaan Palestina pada 15 November 1988.
Sementara Inggris, Perancis, dan AS belum mengakui Palestina. Meski demikian, AS menjadi salah satu penyokong besar keberlangsungan Palestina selama bertahun-tahun.
Gelombang pengakuan pada Palestina kerap rutin terjadi setiap kali Israel menunjukkan kebrutalan pada Palestina. Pengakuan 1988 dilakukan di tengah intifada pertama. Selanjutnya di intifada kedua, kembali terjadi gelombang pengakuan pada Palestina.
Kini, di tengah kebrutalan Israel di Tepi Barat dan Gaza, sejumlah negara anggota Uni Eropa menyatakan mau mengakui Palestina. Selain Perancis, ada Spanyol serta Norwegia dan Slovenia mengakui Palestina.