Serangan pesawat nirawak saling berbalas dan menelan korban semakin banyak. Perang tidak pernah membawa cerita bahagia, bahkan untuk pemenangnya sekalipun.
04 Mar 2026 12:10 WIB · Internasional
Kompas/Supriyanto
Perang tidak pernah membawa cerita bahagia, bahkan untuk pemenangnya sekalipun. Untuk Amerika Serikat (dan sekutu) sebagai pemicu perang, serta untuk Iran sebagai target sasaran. Kematian demi kematian tak terhindarkan.
Joey Amor, suami dari Sersan Kelas Satu Nicole Amor (39), tinggal menghitung hari bisa bertemu dengan istri tercintanya. Anak-anaknya pun tinggal sesaat saja bisa memeluk ibunya yang sudah lama bertugas di Iran.
Namun, rasa rindu itu tercabik saat serangan pesawat nirawak menghancurkan pusat komando di Kuwait, dan menewaskan sang ibu beserta lima anggota militer AS lainnya. Serangan itu merupakan respons Iran atas serangan AS (dan sekutunya, Israel) ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan AS itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya.
Kematian berbalas kematian. Kepedihan diganjar kepedihan. Begitulah terjadi saat ini. ”Dia hampir sampai rumah,” kata suaminya, Joey Amor, Selasa.
Dari rumahnya di White Bear Lake, Minnesota, Joey hanya bisa meratap. ”Anda tidak pergi ke Kuwait dan berpikir sesuatu akan terjadi, dan dia menjadi salah satu (korban) yang pertama. Itu menyakitkan,” kata Joey.
Seminggu sebelum serangan mematikan itu, Micole dipindahkan dari pangkalan ke sebuah bangunan kontainer yang tidak memiliki pertahanan. ”Mereka berpencar karena takut pangkalan tempat mereka berada akan diserang, dan mereka merasa lebih aman berkumpul dalam kelompok kecil secara terpisah,” kata Joey, suami Nicole.
Terakhir kali ia berbicara dengan sang istri adalah dua jam sebelum serangan. Ia mengatakan bahwa istrinya bekerja dalam sif panjang, dan mereka telah saling berkirim pesan tentang peristiwa kecil, seperti tersandung dan jatuh pada malam sebelumnya. ”Dia tidak membalas pesan saya di pagi harinya,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/05/12/a7c1d1a6-fd1e-4a60-8caf-fe504794b5e9.jpg)
Perang telah memupus harapan anak-anak Nicole untuk bisa kembali berkebun bersama ibunya. Untuk sekadar membuat saus salsa dari paprika dan tomat bersama-sama, atau untuk menemani putrinya bermain sepatu roda.
Nicole Amor adalah salah satu dari empat tentara AS yang tewas dalam perang Iran pada Minggu (1/3/2026) dan diidentifikasi pada hari Selasa oleh Pentagon. Dua tentara lainnya belum teridentifikasi.
Anggota Cadangan Militer tersebut bekerja di bidang logistik. Mereka bertugas di Komando Dukungan Ke-103, yang menyediakan makanan, bahan bakar, air dan amunisi, peralatan transportasi dan perlengkapan bagi pasukan.
Mereka meninggal hanya satu hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan atas Iran. Iran menanggapi dengan meluncurkan rudal dan pesawat tak berawak terhadap Israel dan beberapa negara Teluk Arab yang menjadi pusat konsentrasi tentara AS di sana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/f3456302-6603-4d9a-b9c3-62e4920ccb8d.jpg)
Di antara mereka yang tewas juga termasuk Kapten Cody Khork (35) dari Winter Haven, Florida; Sersan Kelas Satu Noah Tietjens (42) dari Bellevue, Nebraska; dan Sersan Declan Coady (20) dari West Des Moines, Iowa.
Adapun Sersan Declan Coady juga baru saja memberi tahu ayahnya, minggu lalu, bahwa ia telah direkomendasikan untuk promosi dari spesialis menjadi sersan. Pangkat itu diterimanya secara anumerta.
Coady selama ini telah dilatih sebagai spesialis teknologi informasi di Angkatan Darat Cadangan, dan sedang belajar keamanan siber di Universitas Drake di Des Moines. Ia mengikuti kelas daring saat berada di Kuwait dan ingin menjadi seorang perwira.
Ia adalah salah satu orang termuda di kelasnya dan membuat para instrukturnya terkesan. ”Dia sangat pandai dalam pekerjaannya,” kata ayahnya, Andrew Coady.
”Saya masih belum sepenuhnya percaya ini nyata. Saya hanya ingat ucapannya tentang apa yang ingin dilakukannya ketika dia kembali nanti,” kata saudara perempuannya, Keira Coady.
Rasa duka senada juga dirasakan keluarga Khork dan Noah Tietjens. ”Khork adalah sahabat terbaikku, pendamping pengantin priaku, dan saudaraku itu telah mengorbankan nyawanya untuk membela negara kita di luar negeri,” kata Abbad Jaffer, teman Khork.
”Noah telah berkorban untuk melayani dan membela rakyat Amerika dari musuh asing di seluruh dunia. Sebuah pengorbanan yang tidak boleh kita lupakan,” kata Gubernur Nebraska Pillen saat memberikan penghormatan kepada keluarga tersebut.
Nocole, Coady, Khork, dan Noah adalah sebagian dari ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang menjadi korban keganasan perang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/b079b8ed2bb9d7c159776d73d745e036-wires_photo_299.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/55e47a8b0377e057b26a187ac6f44645-IRAN_US_ISRAEL_CONFLICT_136534551.jpg)
Reuters menyebut, korban jiwa berjatuhan di mana-mana. Di Iran, 787 orang tewas sejak awal perang, termasuk 165 siswi dan staf sekolah yang tewas setelah serangan rudal menyasar Shajarah Tayyebeh, sebuah sekolah dasar putri di Minab, kota berjarak beberapa mil arah selatan dari Teheran.
Ada lagi, 10 warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan rudal Iran di Beit Shemesh dekat Jerusalem pada 1 Maret, menurut layanan ambulans Israel Magen David Adom. Berikutnya, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, setidaknya 40 warganya tewas dalam serangan rudal Israel.
Masih banyak lagi kematian demi kematian tercatat. Perang ini hanya menyisakan duka bagi yang ditinggalkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/01/857c3181-5d98-4679-83bd-48c494297076_jpg.jpg)
Namun, tampaknya belum ada tanda-tanda perang akan berakhir. Presiden AS Donald Trump menyebut, kemungkinan bisa jadi ada korban lebih banyak lagi. Artinya, masih akan ada lagi keluarga dan orang-orang mengalami lara serupa.
”Sayangnya, kemungkinan akan ada lebih banyak lagi sebelum perang berakhir. Begitulah adanya,” kata Presiden Trump menanggapi tentang kematian mereka.
Sebagaimana diketahui, AS dan sekutunya, Israel, menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026). Sehari setelahnya, Iran membalas dengan membombardir wilayah-wilayah yang menjadi lokasi konsentrasi tentara AS-Israel.
(AP/Reuters)
Penulis:
Dahlia IrawatiEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji