Para pejuang lingkungan kian dibutuhkan di tengah perubahan iklim. Suara dan tindakan mereka menjadi suara-tanding di tengah krisis lingkungan.
13 Jun 2025 18:01 WIB · Kolom
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan ...
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim … (Taufiq Ismail)
Puisi tersebut dibacakan penyair Taufiq Ismail pada hari Wisuda Institut Pertanian Bogor, di Kampus Darmaga, 46 tahun yang silam, untuk sahabatnya, M Kasim Arifin.
Ketika pemuda lain berlomba meraih gelar akademik, Kasim, seorang mahasiswa pertanian yang bercita-cita sederhana, terpanggil untuk membangun harapan bagi masyarakat kecil di Desa Waimital, Pulau Seram. Setelah menghilang 15 tahun, ia dikabarkan sukses membina masyarakat tani dan warga di sana.
Penggalan puisi tersebut melukiskan sinar harapan di tengah bayangan keluhan. Kasim tidak mengeluh, ia bertindak. Ketika sebagian anak muda memandang remeh pertanian, ia sudah melakukannya pada awal 1960-an, jauh sebelum generasi milenial mulai ber-Tik-Tok sambil bertani atau beternak.
Sosok seperti Kasim, dan juga para pejuang lingkungan lainnya, kian dibutuhkan di tengah perubahan iklim. Suara dan tindakan mereka menjadi suara-tanding di tengah krisis lingkungan.
Sebagian (jika tidak sebagian besar) perang dan konflik yang terjadi saat ini dan akan datang adalah perang (atas nama) lingkungan.
Apalagi mengingat akhir-akhir ini sering muncul konflik antarwarga bahkan perang antarnegara, dalam mempertahankan situs wisata, hutan adat, dan sumber daya alam, termasuk kelangkaan sumber air yang terjadi di berbagai negara. Sebagian (jika tidak sebagian besar) perang dan konflik yang terjadi saat ini dan akan datang adalah perang (atas nama) lingkungan.
Isu lingkungan akan dijadikan ”atas nama”, baik untuk kepentingan positif atau negatif, oleh berbagai kekuatan. Hal ini akan melahirkan berbagai konflik terbuka atau tersembunyi. Perang ”atas nama” lingkungan (yang berarti pertarungan untuk menguasai dan melindungi sumber daya) bisa berlangsung dalam berbagai ruang dan front. Ia bisa terjadi di ruang debat DPR, sidang pengadilan, perebutan tender, penunjukan pejabat, penyusunan pasal undang-undang, ruang akademik, dan di jalanan.
Perang itu menggambarkan spektrum pertarungan budaya yang luas dalam berbagai dimensi. Ia mencakup perang visi dan misi dalam memandang ruang hidup. Seperti perang visi penggunaan sumber daya alam untuk kepentingan jangka pendek versus jangka panjang. Kemudian, perang perebutan situs, seperti konflik perlindungan tanah masyarakat adat versus tujuan komoditas kapital. Perang suara, seperti seni/musik penyuara lingkungan versus seni tanpa sensibilitas. Perang gaya hidup, fashion konsumtif versus fashion frugal ramah lingkungan. Singkatnya, perang visi eksploitasi demi kekayaan versus visi demi kebahagiaan; komodifikasi versus humanisasi lingkungan.
Perang visi eksploitasi demi kekayaan versus visi demi kebahagiaan; komodifikasi versus humanisasi lingkungan.
Rangkaian liputan Kompas, edisi 7, 8, 9, 10, 11 Juni 2025, menyoroti dampak tambang nikel terhadap kerusakan ekosistem perairan Raja Ampat juga menggambarkan perang atas nama lingkungan yang berdampak pada pariwisata. Yakni, perang antara visi kepentingan jangka pendek (pemberi izin dan pengelola tambang) dan visi jangka panjang (pelindung keanekaragaman hayati dan pariwisata). Dalam tingkat ekstrem, itu juga menggambarkan perang budaya kerakusan/ketamakan/keserakahan versus kewajaran/kemoderatan/kecintaan pada lingkungan.
Dalam tingkat global, pengusiran aktivis iklim Greta Thunberg baru-baru ini oleh Israel juga menggambarkan ”perang” terhadap penghancuran lingkungan dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel ketika sebagian besar warga dunia bungkam.
Greta adalah sosok petarung krisis. Seperti Kasim, Greta tidak mengeluh, ia bertindak.
Greta adalah sosok petarung krisis. Seperti Kasim, Greta tidak mengeluh, ia bertindak! Kisah bermula saat berusia sebelas tahun, orangtua Greta, Malena dan Svante, serta adik perempuannya, Beata, menghadapi krisis di rumah mereka sendiri. Greta berhenti makan dan bicara. Ibu dan ayahnya telah mengubah hidup mereka untuk merawatnya. Putus asa dan berusaha mencari jawaban, orangtuanya menemukan inti dari penderitaan Greta: masa depannya sedang terancam di planet yang memanas dengan cepat.
Dibimbing oleh tekad Greta untuk memahami kebenaran dan menciptakan perubahan, mereka mulai melihat hubungan yang mendalam antara penderitaan mereka sendiri dan penderitaan planet ini. Dalam Our House Is On Fire (2020), mereka mengisahkan bagaimana mereka berjuang melawan masalah mereka di rumah dengan mengambil tindakan global. Dari situlah kisah bagaimana Greta belia memutuskan untuk mogok sekolah, dan kemudian tindakannya telah memicu ”efek Greta”, pemberontakan lingkungan di seluruh dunia.
Idi Subandy Ibrahim, Peneliti Budaya, Media, dan Komunikasi; Pengajar di Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Pasundan Bandung dan Pengajar Luar Biasa di Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya Malang
Penulis:
Idi Subandy IbrahimEditor:
Moh. Hilmi FaiqPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .