Ada Peluang Indonesia di Tengah Perang Dagang AS-China

Indonesia bisa menerapkan pelindungan pasar terbatas dan menyerap investasi dengan teknologi lanjut.

11 Mar 2025 19:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

JAKARTA, KOMPAS — Indonesia apabila cermat bisa mengambil celah di perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Jaringan bisnis global China yang sangat luas bisa membantu mendongkrak ekspor produk Indonesia.

”Tekanan terhadap China sedang kuat dari AS dan Uni Eropa. Di saat yang sama, daya beli masyarakat China sendiri masih lesu,” kata peneliti isu ekonomi Badan Riset dan Inovasi Nasional Maxsensius Tri Sambodo di Jakarta, Selasa (11/3/2025).

Produk-produk China sedang berkurang daya saingnya di pasar negara-negara Barat. Ditambah pula Presiden AS Donald Trump menetapkan tambahan tarif impor 20 persen atas produk-produk dari China. Walhasil, barang-barang China yang masuk ke AS ada yang biaya tambahannya mencapai 70 persen.

Di dalam negeri China, harga barang relatif masih tinggi. Perekonomian belum pulih dari ambruknya raksasa properti Evergrande yang menelan tabungan serta investasi masyarakat China. Kelesuan ditambah pula oleh pandemi Covid-19.

DONGGUAN, CHINA - APRIL 11: A worker packs up new smartphone devices at the end of the production line at Huawei's production campus on April 11, 2019 in Dongguan, near Shenzhen, China. Huawei is Chinas most valuable technology brand, and sells more telecommunications equipment than any other company in the world, with annual revenue topping $100 billion U.S. Headquartered in the southern city of Shenzhen, considered Chinas Silicon Valley, Huawei has more than 180,000 employees worldwide, with nearly half of them engaged in research and development. In 2018, the company overtook Apple Inc. as the second largest manufacturer of smartphones in the world behind Samsung Electronics, a milestone that has made Huawei a source of national pride in China.While commercially successful and a dominant player in 5G, or fifth-generation networking technology, Huawei has faced political headwinds and allegations that its equipment includes so-called backdoors that the U.S. government perceives as a national security. U.S. authorities are also seeking the extradition of Huaweis Chief Financial Officer, Meng Wanzhou, to stand trial in the U.S. on fraud charges. Meng is currently under house arrest in Canada, though Huawei maintains the U.S. case against her is purely political. Despite the U.S. campaign against the company, Huawei is determined to lead the global charge toward adopting 5G wireless networks. It has hired experts from foreign rivals, and invested heavily in R&D to patent key technologies to boost Chinese influence. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)

China juga membalas AS dengan menetapkan tarif impor 15 persen atas komoditas pertanian AS. Akan tetapi, mereka harus berhati-hati agar jangan sampai memukul AS ini menyakiti rakyat sendiri.

”China sebagai negara besar memiliki perkembangan teknologi yang tak bisa diremehkan. Mereka juga berinvestasi di negara-negara lain yang kemudian menjadi proksi untuk mengakses pasar Barat,” kata Maxsensius.

Di Indonesia, investasi besar China ada di Vietnam dan Indonesia. Berdasarkan data Pemerintah Indonesia 2024, Hong Kong dan China adalah sumber investasi nomor dua dan tiga. Peringkat satu diduduki Singapura.

Maxsensius mengatakan, Indonesia harus benar-benar bisa mengambil keputusan berbasis data yang kuat. Pertama, Indonesia memastikan investasi dari China bertambah, terutama di sektor-sektor berteknologi lanjut. Hilirisasi sumber daya alam dan pengembangan bioteknologi serta farmasi adalah sektor kerja sama yang kuat.

Investasi jenis ini membantu kemampuan Indonesia bersaing di dunia. Produk-produk Indonesia mutunya meningkat dan menambah kapasitas serta jangkauan ekspor. Di sini kolaborasi mengakses jaringan global China sangat penting.

Kedua, Indonesia juga harus mengantisipasi risiko China melakukan dumping produk. Mengingat lesunya konsumsi masyarakat China, mereka bisa menjual produk-produknya ke Asia Tenggara dengan harga sangat murah dan mematikan industri lokal.

”Caranya, pemerintah bisa melakukan pembatasan terbatas. Strategi pelindungan ini diizinkan oleh WTO (Organisasi Perdagangan Dunia),” kata Maxsensius.

Container ships are berthed at the port in Qingdao, in China’s eastern Shandong province on March 4, 2025. China set an ambitious annual growth target of around five percent on March 5 vowing to make domestic demand its main economic driver as an escalating trade war with the United States hit Beijing's exports. (Photo by AFP) / China OUT

Produk-produk berteknologi tinggi yang tidak berhenti di Indonesia saja diizinkan masuk. Produk ini yang bisa menambah kemampuan dan daya saing Indonesia. Misalnya, produk elektronik dan kendaraan listrik yang bisa diadaptasi untuk meningkatkan kualitas produk dalam negeri.

Sebaliknya, impor produk China yang berteknologi rendah diatur secara ketat. Produk ini yang akan memakan produk Indonesia apabila peredarannya tidak diatur.

Kongres dua sesi

Sementara itu, di Beijing, Partai Komunis China baru menuntaskan Kongres Dua Sesi. Acara ini terdiri dari Kongres Rakyat Nasional (NPC) dan Konferensi Dewan Penasihat Politik Rakyat China (CPPCC). Kongres mengumumkan pertumbuhan ekonomi 5 persen di awal tahun 2025.

Meskipun begitu, para pengamat menilai, pertumbuhan ekonomi itu susah dicapai jika mengandalkan kondisi pasar. Pemerintah China meminjam lebih banyak uang ke bank. Tujuannya untuk memberi rabat kepada konsumen yang menukarkan mobil lama dengan yang baru. Dana pinjaman juga dikucurkan ke pasar properti dan menolong pemerintah daerah.

China's President Xi Jinping (C) votes during the closing session of the National People's Congress (NPC) at the Great Hall of the People in Beijing on March 11, 2025. (Photo by Jade Gao / AFP)

Di Kongres itu, PKC juga setuju untuk memberi lebih banyak ruang kepada sektor swasta. Mereka diberi pagu pinjaman dana dan surat berharga lebih banyak. Secara bisnis, pemerintah juga memberi swasta lebih banyak keleluasaan walaupun belum menjelaskan bentuknya.

Sepuluh provinsi terkaya dipercaya memimpin pertumbuhan ekonomi China. Melansir kantor berita nasional China, Xinhua, 10 provinsi ini menyumbang 60 persen produk domestik bruto China, padahal luas total mereka tidak sampai 20 persen dari luas negara China.

Sepuluh provinsi itu adalah Guangdong, Jiangsu, Shandong, Zhejiang, Henan, Hubei, Sichuan, Shanghai, Fujian, dan Hunan. China memiliki total 31 provinsi.

Kota Hangzhou di Provinsi Zhejiang terkenal sebagai pusat teknologi. Alibaba dan perusahaan kecerdasan buatan (AI) DeepSeek bermarkas di sana. Mereka didapuk untuk menjadi pelopor di bidang penyerapan AI di dalam konsumsi produk sehari-hari untuk meningkatkan mutu layanan.

Provinsi Guangdong selaku pusat otomotif mengembangkan berbagai kendaraan masa depan yang efisien. Produksinya juga otomatis, mengandalkan robot dengan AI sehingga cepat dan tepat di dalam pengerjaannya.

Selain itu, China memperkuat kerja sama regional mereka. Sichuan dan Chongqing memiliki skema berbagi listrik guna meningkatkan jangkauan pasar kedua wilayah. Guangdong melakukan kolaborasi administrasi dengan Hong Kong dan Makau.

”Kita memberantas persaingan tidak sehat antarprovinsi dan menjaring pasar lebih besar,” kata Yang Decai, penasihat politik China dari Universitas Nanjing kepada Xinhua.

Hostesses fill up tea cups for the leaders before the opening session of the Chinese People's Political Consultative Conference at the Great Hall of the People in Beijing, Tuesday, March 4, 2025. (AP Photo/Andy Wong)

Menteri Perdagangan China Wang Wentao mengatakan, China akan terus melawan perang dagang AS. Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan, perilaku egois hanya merugikan semua.

Salah satu kritik ialah persaingan tidak sehat di dalam negeri akibat komoditas serupa terlalu banyak. Contohnya di industri panel surya. Subsidi pemerintah menghasilkan banyak perusahaan rintisan.

”Tapi, semua perusahaan itu memiliki strategi sama sehingga persaingannya negatif,” kata Direktur Utama Xiaomi Lei Jun. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Kris Mada