Perang Iran mengacaukan distribusi energi global. Eropa yang berjarak ribuan kilometer dari Iran pun ikut terdampak. Eropa sangat bergantung pada impor energi fosil.
17 Mar 2026 09:00 WIB · Internasional
AFP/Sameer Al-DOUMY
Perang Iran melawan agresi Amerika Serikat dan Israel menjadi pelajaran pahit ketergantungan pada energi fosil. Ketika perang menghambat distribusi minyak dan gas global, banyak negara kelimpungan karena tak punya cadangan memadai dan sumber energi alternatif.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengacaukan pasokan energi global. Pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk yang melalui selat ini tersendat. Dampaknya bahkan membuat negara-negara Eropa yang berjarak ribuan kilometer dari kawasan Timur Tengah ikut menderita.
”Eropa lebih bergantung pada impor bahan bakar fosil daripada hampir semua ekonomi besar lainnya,” kata Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Simon Stiell, di Brussels, Belgia, Senin (16/3/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/10/cc762a6903cffe5bf4cd67853f0554ac-wires_photo_2_.jpg)
Perang Iran memicu lonjakan harga minyak dunia. Untuk pertama kalinya sejak Juni 2022, harga minyak dunia tembus di atas 100 dolar AS per barel. Harga gas di Eropa naik 50 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.
Kondisi ini menguak kerentanan ketergantungan terhadap energi fosil. Negara-negara di dunia perlu mengurangi ketergantungan itu dan beralih pada sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
”Ketergantungan pada bahan bakar fosil merampas keamanan dan kedaulatan nasional serta menggantinya dengan kepatuhan dan kenaikan biaya,” ujar Stiell.
Uni Eropa mengimpor lebih dari 90 persen minyak dan 80 persen gas. Para pemimpin Uni Eropa sedang menyusun langkah-langkah darurat untuk melindungi masyarakatnya dari lonjakan harga energi. Langkah ini diambil demi menghindari terulangnya krisis energi Eropa tahun 2022. Kala itu, Rusia memangkas pengiriman gas yang menyebabkan lonjakan harga.
Kondisi ini menguak kerentanan ketergantungan terhadap energi fosil. Negara-negara di dunia perlu mengurangi ketergantungan itu dan beralih pada sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
Komisi Eropa menyatakan, strategi menghadapi perubahan iklim untuk mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan dan nuklir yang diproduksi secara lokal akan memperkuat ketahanan energi negara-negara tersebut. Selain itu, mereka akan terbebas dari dampak fluktuasi harga bahan bakar yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik.
Akan tetapi, sejumlah negara, termasuk Italia dan Hongaria, mendesak untuk melemahkan kebijakan perubahan iklim tersebut. Hal ini demi memberikan keringanan biaya jangka pendek bagi industri dalam memenuhi kebutuhan energinya.
Menurut Stiell, pelonggaran terhadap kebijakan perubahan iklim itu delusi. Sebab, peralihan ke sumber energi terbarukan, seperti tenaga angin dan surya, akan bermuara pada teknologi industri lebih bersih dan biaya yang relatif lebih terjangkau. Selain itu, pasokannya akan lebih aman karena sumber energinya sangat melimpah.
”Ketergantungan yang lemah pada impor bahan bakar fosil akan membuat Eropa selamanya terombang-ambing dari krisis ke krisis. Energi terbarukan akan membalikkan keadaan. Sinar matahari tidak bergantung pada selat pelayaran yang sempit dan rentan,” jelasnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/8f39f0cf3266201cd2ff91be8f81f64d-20260303_ANU_Ganguan_Pasokan_Selat_Hormuz_mumed.jpg)
Selat yang dimaksud mengacu pada Selat Hormuz, perairan yang memisahkan Iran dengan Jazirah Arab. Selat ini terletak di antara Teluk Arab dan Teluk Oman. Pengiriman minyak dari sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, sangat bergantung pada kapal tanker yang melalui selat tersebut.
Secara global, bauran energi dunia masih didominasi bahan bakar fosil. Sejumlah negara berupaya meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Namun, jumlahnya belum dapat memenuhi kebutuhan energi dalam negeri masing-masing.
Di tengah lonjakan harga minyak, para menteri bidang energi dari 27 negara anggota Uni Eropa berkumpul di Brussels, Senin. Pertemuan ini untuk merancang dasar pembahasan pada KTT khusus Uni Eropa, Kamis (19/3/2026). Salah satu topik utamanya adalah mengatasi kenaikan harga energi yang dipicu perang Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/ab1fe8ad275ca0a95f16dcff40477fda-wires_photo_2026_03_07T184129.806.jpg)
Kepala Komisi Energi Uni Eropa Dan Jorgensen mendesak Uni Eropa untuk menurunkan pajak dan pungutan pada belanja energi. Namun, hal itu membutuhkan kelonggaran kebijakan anggaran dari setiap negara anggota.
Di Perancis, perusahaan energi TotalEnergies telah mengumumkan pembatasan harga bensin. Langkah ini diambil menyusul tekanan dari pemerintah yang kekurangan anggaran dan telah meningkatkan pemeriksaan harga di stasiun pengisian bahan bakar.
Kroasia dan Hongaria juga mengumumkan pembatasan harga bahan bakar. Yunani berencana membatasi margin keuntungan dari penjualan bensin. Sementara 32 anggota Badan Energi Internasional sepakat melepaskan 400 juta barel cadangan minyak untuk menurunkan harga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/07/02/faac4820-bfb2-4d0b-a593-2269c368583f.jpg)
Harga listrik di Eropa ditentukan oleh biaya produksi pembangkit listrik. Pembangkit energi terbarukan digunakan saat permintaannya rendah. Namun, saat beban puncak atau permintaan tinggi, pembangkit tenaga gas lebih dominan digunakan.
”Selama kita bergantung pada pembangkit listrik tenaga termal selama jam-jam puncak, biaya marginal (perubahan total biaya produksi) akan selalu ditentukan oleh bahan bakar fosil,” ujar ekonom dari Paris Dauphine University, Perancis, Marc Baudry.
Harga listrik di Eropa relatif lebih mahal karena kurangnya sumber daya energi fosil di benua itu. Alhasil, ketergantungan terhadap bahan bakar impor menjadi sangat tinggi. Oleh sebab itu, Komisi Eropa mendorong langkah dekarbonisasi dan meningkatkan penggunaan energi terbarukan. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Retma Wati