Hingga pekan ketiga, perang di Timur Tengah justru mengindikasikan eskalasi yang semakin besar dan akan memakan waktu lama.
21 Mar 2026 13:00 WIB · Internasional
US Navy/Anita Wallace
WASHINGTON, SABTU — Perang di Timur Tengah yang dipicu serangan AS-Israel ke Iran semakin berkobar. Amerika Serikat mengirim tambahan pasukan dan kapal perang. Iran mengancam akan menyerang area publik. Inggris pun semakin melonggarkan batasan pemakaian pangkalannya oleh Amerika Serikat.
Hingga pekan ketiga, perang di Timur Tengah justru mengindikasikan eskalasi yang semakin besar dan akan memakan waktu lama. Pada Jumat (20/3/2026) waktu AS atau Sabtu (21/3/2026) waktu Indonesia, Pentagon mengumumkan pengerahan tiga kapal perang tambahan dan sekitar 2.500 marinir ke Timur Tengah.
Sebelumnya, Pentagon telah meminta tambahan dana perang 200 miliar dolar AS. Dana tambahan ini masih harus mendapat persetujuan Kongres AS.
Namun, hanya beberapa jam kemudian, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal yang saling bertolak belakang. Ia mengatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan pengurangan operasi militer di kawasan.
Pernyataan itu muncul setelah lonjakan harga minyak kembali menekan pasar saham AS. Meski demikian, Trump tetap mengirim pesan keras. ”Dari sudut pandang militer, mereka sudah selesai,” kata Trump tentang Iran.
Ia menambahkan Teheran tetap menyumbat Selat Hormuz. Menjaga jalur pelayaran itu tetap terbuka akan menjadi manuver militer yang sederhana, tetapi membutuhkan bantuan kapal dan volume besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/18/3b4f0d94-301d-4b2b-ae46-0c59be7fb4ba.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/7b408b8ddd525f0a6ac8d8045bac0b13-9573358.jpg)
Trump juga memperluas sasaran perang menjadi lima target. Target terbaru adalah melindungi sekutu-sekutu AS di Timur Tengah pada tingkat tertinggi. Sebelumnya, Pemerintah AS menyebut empat tujuan operasi.
Dalam unggahannya, Trump juga mencantumkan mitra-mitra Washington di Teluk, yaitu Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait.
Empat sasaran yang selama ini disebut Pemerintah AS adalah memblokir jalan Iran menuju senjata nuklir, menghentikan Iran mempersenjatai kelompok proksi, menghancurkan Angkatan Laut Iran, dan menghancurkan kapasitas rudal balistik Iran.
Tambahan tujuan kelima menunjukkan fokus perang tidak lagi hanya menghantam kemampuan militer Iran, tetapi juga menjaga negara-negara Teluk yang kini ikut terpapar serangan.
Sementara itu, Iran masih terus membalas serangan. Pada hari yang sama, Iran menembakkan serangan ke Israel dan ke lokasi pusat energi di negara-negara Arab Teluk tetangganya. Teheran juga menegaskan masih mampu memproduksi misil meski digempur selama tiga pekan.
Ancaman Iran meluas dari target strategis militer dan energi. Teheran menyatakan musuh-musuhnya tidak akan aman lagi. Sasaran terbaru Iran meliputi taman, area rekreasi, dan tujuan wisata di seluruh dunia.
Ancaman itu muncul bersamaan dengan meningkatnya serangan Iran ke infrastruktur energi di negara-negara Timur Tengah. Serangan Teheran ini sebagai balasan serangan Israel ke ladang gas South Pars yang memasok sebagian besar listrik Iran.
Eskalasi itu bertepatan dengan Idul Fitri. Pada saat yang sama, warga Iran sedang menandai Nowruz, tahun baru Persia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/19/49063a92-5853-4fe2-80e1-7aa254daed46.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/17/243f7e6b40f87f9da25e4a9286566b98-LEBANON_IRAN_US_ISRAEL_WAR_136974165.jpg)
Israel pun terus memperluas serangannya. Militer Israel menyerang sasaran di Teheran, Sabtu dini hari. Tak lama sebelumnya, militer Israel mengumumkan gelombang serangan ke posisi Hizbullah di pinggiran selatan Beirut, Lebanon.
Warga di tujuh kawasan di pinggiran Beirut diperingatkan untuk evakuasi. Sebagian warga bahkan melepaskan tembakan ke udara untuk memperingatkan keluarga-keluarga yang sempat kembali agar segera mengungsi lagi. Belum ada laporan korban akibat serangan terbaru itu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, Israel akan menghentikan serangan ke ladang gas Iran atas permintaan Trump. Namun, penghentian itu tidak mengubah arah konflik.
Inggris juga terseret kian dalam. Para menteri Inggris sepakat memperbolehkan militer AS menggunakan pangkalannya untuk mencegah Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz.
Kantor Perdana Menteri Inggris menyatakan, persetujuan itu mencakup operasi pertahanan AS untuk merusak kemampuan misil yang digunakan menyerang kapal. Izin itu melonggarkan batasan sebelumnya.
Pada awal perang, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengizinkan penggunaan pangkalan Inggris, tetapi terbatas untuk operasi defensif. Saat itu, Iran mulai meluncurkan misil dan pesawat nirawak (drone) di Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/08/c00ae640-6b85-4ffc-8d9e-f0e0db1b906a.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/c7a3d7c7215bcbfcf4d16d228bdad380-20260311_GKT_AFP_Iran_Attacks.png)
Dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, London menegaskan keterlibatannya sekarang tetap bersifat defensif. ”Operasi defensif Inggris di kawasan merupakan respons atas agresi Iran terhadap mitra-mitra Teluk,” kata Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper, dikutip dari pernyataan Pemerintah Inggris.
Dalam percakapan itu, Cooper juga memperingatkan Iran agar tidak menargetkan pangkalan, wilayah, atau kepentingan Inggris secara langsung.
Namun, Teheran semakin menempatkan Inggris sebagai bagian yang terlibat langsung dalam perang, bukan lagi sekadar sekutu politik AS. Araghchi menyebut penggunaan pangkalan Inggris oleh AS sebagai partisipasi dalam agresi.
Washington pun mulai mengalihkan sumber daya militer lain ke Timur Tengah. Sejumlah pejabat pertahanan AS mengatakan, sejumlah besar rudal pencegat Patriot telah dipindahkan dari Eropa ke Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/d83198eba278cb161c1561c2cd4ff012-9277868.jpg)
Dua pejabat memperingatkan, langkah itu membuka celah pada pertahanan udara Eropa melawan Rusia yang masih berperang dengan Ukraina. Seorang pejabat lain mengatakan, NATO masih memiliki kapasitas yang cukup banyak untuk mempertahankan Eropa.
Menanggapi laporan itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, militer AS memiliki stok lebih dari cukup untuk mencapai sasaran perang yang ditetapkan Trump. ”Militer AS memiliki lebih dari cukup munisi, amunisi, dan stok senjata untuk mencapai tujuan Operasi Epic Fury yang ditetapkan Presiden Trump dan bahkan lebih,” kata Leavitt.
Dampak perang merambat ke ekonomi global. Presiden Komite Penyelamatan Internasional David Miliband mengatakan, perang di Iran memiliki konsekuensi yang meledak secara global. Pihak yang paling rentan di dunia berisiko membayar harga paling mahal.
Menurut dia, perang telah mengganggu pasar pangan, bahan bakar, dan pupuk. Ia memperingatkan, hingga 30 persen perdagangan pupuk kini terancam. Hal ini dapat membahayakan lebih dari 300 juta orang yang sudah menghadapi kerawanan pangan akut.
Miliband juga mengungkapkan, perang ini menambah beban dunia. Saat ini, sudah ada setidaknya 60 konflik lain di dunia. Eskalasi baru di Iran berisiko mengalihkan perhatian dan pendanaan dari krisis lain, termasuk Gaza, Sudan, dan kawasan lain yang sudah lebih dulu terjebak perang dan bencana kemanusiaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/12/fe8ef17e6765cb56d59f3eccb1c41565-20260312_ANU_Selat_Hormuz_Jalur_Penting_mumed.png)
Perang di Iran juga mengguncang pasar energi. Harga minyak mentah Brent berayun dari sekitar 70 dolar AS per barel sebelum perang menjadi setinggi 119,50 dolar AS pekan ini. Pada Jumat, Brent menetap di 112,19 dolar AS per barel.
Korban perang terus bertambah. Jumlah korban tewas telah melampaui 1.300 orang di Iran, lebih dari 1.000 orang di Lebanon, 15 orang di Israel, dan 13 anggota militer AS di kawasan.
Juru bicara Komando Tengah AS, Kapten Tim Hawkins, mengatakan, 232 personel AS terluka. Sebanyak 207 orang di antaranya telah kembali bertugas, sementara jumlah korban luka serius 10 orang.
Di Lebanon, Kementerian Kesehatan melaporkan, 20 orang tewas dalam 24 jam terakhir dan 57 lainnya terluka sehingga total korban luka mencapai 2.641 orang. Israel meluncurkan serangan di negara itu setelah Hizbullah menembakkan roket ke wilayah utara Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/21/b2f45eff3beeb2e2fca1cf96b1a774b0-APTOPIX_US_Iran_Military_Deaths.jpeg)
Krisis kemanusiaan pun membesar. Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyebut lebih dari 3,2 juta orang mengungsi di dalam wilayah Iran. Organisasi Migrasi Internasional mengungkap, lebih dari 80.000 orang telah melarikan diri ke negara-negara tetangga, terutama Afghanistan. Di Lebanon, lebih dari 1 juta orang mengungsi setelah Israel memperluas serangan.
Di Teheran, perang membuat suasana tahun baru Persia, Nowruz, menjadi muram. ”Di kota, orang-orang kebanyakan tinggal di rumah. Hampir tak terlihat siapa pun di jalan. Tahun ini rasanya jauh lebih berat. Semua orang di sekitar merasa buruk,” ujar warga Iran. (AP/REUTERS)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra