Kebijakan tarif membuat Apple terjebak di tengah, antara China dan AS. Harga ikon Apple akan melejit dan semakin mencekik konsumen.
08 Apr 2025 06:30 WIB · Internasional
Sejak debut iPhone X tahun 2017, merujuk Bloomberg, Apple Inc. belum pernah mengubah harga gawai pintar andalannya itu. Angkanya masih di ambang batas psikologis, yakni 999 dollar AS. Kalaupun ada, pembebanan harga terjadi karena ada embel-embel varian, yang dipengaruhi oleh ukuran dan kapasitas penyimpanan.
Akan tetapi, kini, dipicu kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, harga model iPhone favorit Anda (base model) akan segera jauh lebih mahal. Para analis menyebut, kebijakan itu akan menaikkan harga iPhone antara 30-40 persen.
Varian iPhone 16 termurah yang ada di AS kini dijual dengan harga 799 dollar AS atau sekitar Rp 13,513 juta (1 dollar AS = Rp 16.900). Akan tetapi, dengan kenaikan tarif, menurut kalkulasi Rosenblatt Securities, harganya bisa mencapai 1.142 dollar AS atau sekitar Rp 19,29 juta.
Varian tertinggi, iPhone 16 Pro Max yang memiliki layar berukuran 6,9 inci dan penyimpanan hingga 1 terabita (1000 gigabita atau GB) saat ini masih dijual dengan harga 1.599 dollar AS atau sekitar Rp 26,987 juta. Dengan kenaikan tarif yang baru sebesar 43 persen, harganya bisa mencapai 2.300 dollar AS atau sekitar Rp 38,978 juta.
Maukah konsumen merogoh koceknya semakin dalam? Di saat yang sama, dompet juga tidak semakin tebal. Atau, produsen menanggung bebannya sebagian. Ini akan jadi hal yang pelik bagi Tim Cook, CEO Apple dan sejawatnya.
Gonjang-ganjing kebijakan tarif Trump membuat pasar saham bergejolak. Mayoritas harga saham merosot drastis, tidak ketinggalan saham Apple yang ditutup turun 9,3 persen pada sesi perdagangan Kamis (3/4/2025). Ini adalah yang terburuk sejak 2020.
Pada masa jabatan pertamanya, Trump mengenakan tarif impor barang-barang buatan China untuk menekan perusahaan AS agar mau “pulang kampung”, membangun fasilitas manufakturnya di AS atau negara tetangga seperti Meksiko. Apple termasuk di dalamnya. Bahkan, Apple mendapatkan pengecualian atau keringanan untuk sejumlah produk. Akan tetapi, kali ini Trump belum memberikan pengecualian apapun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/830b16d8c2aa15d443f130d81e0266b4-000_393V4J6.jpg)
Kini, sebagian besar dari total 220 juta iPhone yang dijual secara global diproduksi di China. Pasar terbesarnya AS, China dan Eropa. Beijing, sebagai balasan kebijakan tarif Trump akan mengenakan 54 persen tarif bagi produk-produk yang akan diekspor ke AS. Walau ada diversifikasi tempat produksi, seperti di Vietnam dan India, negara-negara ini juga tak luput dari kebijakan tarif Trump. Vietnam mendapatkan pungutan sebesar 46 persen dan India sebesar 26 persen.
Dalam sebuah catatan, analis Rosenblatt Securities Barton Crockett mengatakan, ekspektasi mereka adalah Apple sebagai ikon AS akan mendapat pengecualian. Akan tetapi, ternyata jauh panggang dari api.
Varian baru iPhone, iPhone 16e, yang meluncur ke pasar pada Februari dibanderol dengan harga 599 dollar AS atau sekitar Rp 10,096 juta. Bila ditambah dengan perhitungan tarif yang baru, harganya akan melonjak menjadi 856 dollar AS atau sekitar Rp 14,414 juta. Harga perangkat Apple lainnya juga hampir dipastikan akan mengalami lonjakan signifikan.
Persaingan gawai pintar menjadi lebih ketat setelah sejumlah produsen memasukkan teknologi kecerdasan buatan dalam produknya. Samsung asal Korea Selatan dan Huawei asal China adalah dua pesaing Apple saat ini.
Tidak mudah bagi Apple untuk bersaing dengan mereka, terutama dalam produk papan atas. Apple Intelligence dan fitur-fitur yang menyertainya, seperti meringkas notifikasi, menulis ulang surat elektronik hingga memberi pengguna akses ke ChatGPT, gagal menarik minat konsumen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/02a1a535b89d2891547e647a0cc2bd8d-000_39DH837.jpg)
Ulasan sejumlah ahli memperlihatkan fitur-fitur tersebut, meski inovatif, tidak mendorong calon konsumen mengganti gawai pintar lama mereka dengan model baru. Situasi ini akan menambah tekanan pada manajemen. Stagnasi permintaan bisa menekan penerimaan laba bersih Apple, terutama jika biaya naik karena tarif.
Angelo Zino, analis ekuitas di CFRA Research, mengatakan perusahaan akan mengalami kesulitan bila memilih membebankan biaya ekstra akibat perang tarif antara 5-10 persen pada konsumen. Untuk sementara, Zino memerkirakan Apple tidak akan mengambil kebijakan drastis, menaikkan harga iPhone. "Kami memperkirakan Apple akan menunda kenaikan harga ponsel hingga musim gugur ini ketika iPhone 17 akan diluncurkan,” katanya.
Neil Shah, analis sekaligus pendiri Counterpoint Research, Neil Shah, Apple perlu menaikkan harganya setidaknya 30 persen untuk mengimbangi bea masuk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/bea96daf-44ec-41ae-b291-f04c96535189.jpg)
Crockett secara gamblang menyebut kebijakan tarif Trump bisa menghancurkan bisnis Apple. Potensi kerugian bisa mencapai 40 miliar dollar.
Sebaliknya, Samsung berada dalam posisi unggul karena Korsel menghadapi tarif yang lebih rendah dibandingkan China. Situasi ini akan sangat sulit bagi Apple.
"Sulit bagi kami untuk membayangkan Trump menghancurkan ikon Amerika,” kata Crockett. (Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase