Perusahaan senjata AS meraup ribuan triliun rupiah saat perang terus bergejolak. Ketika perang membuat banyak orang terbunuh, bisnis senjata ketiban ”durian runtuh”.
24 Jul 2026 14:00 WIB · Internasional
38th Air Defense Artillery Briga
Sudah lebih dari empat tahun rakyat Ukraina menderita karena perang. Ratusan ribu nyawa melayang. Perang Iran yang meletus lima bulan lalu juga menewaskan ribuan orang. Di balik perang yang terus berkobar, ada perusahaan senjata Amerika Serikat yang untung besar.
Perang selalu berkorelasi dengan peningkatan produksi senjata. Sebab, negara-negara yang bertikai sangat membutuhkannya. Jadi, tidak heran jika anggaran pertahanan atau pembelian senjata akan meroket saat perang meletus.
Dua perusahaan asal AS yang ketiban cuan selama perang adalah Lockheed Martin dan RTX Corporation. Mereka mengeruk keuntungan besar saat amunisi Pentagon (Departemen Pertahanan AS) mulai terkuras karena perang di Ukraina dan Iran.
AS memang tidak terlibat secara langsung dalam perang Rusia-Ukraina yang berkecamuk sejak 24 Februari 2022. Namun, ”Negeri Paman Sam” secara aktif mengirimkan senjata untuk membantu Ukraina melawan Rusia. Rudal Patriot yang diproduksi oleh Raytheon, bagian dari RTX, menjadi tulang punggung pertahanan Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/eed3ff4fbe4be1dd9256b2cb03556d89-6741999_1_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/22/6a27bc77-d69b-42d9-8660-375b6e426c9b.png)
Dalam perang melawan Iran, AS juga mengerahkan banyak alutsista canggih. Beberapa di antaranya berupa jet tempur dan sistem pertahanan antibalistik buatan Lockheed Martin. Ada juga rudal jelajah Tomahawk dan rudal Patriot produksi RTX.
Lockheed Martin dan RTX sama-sama memperkirakan keuntungan yang lebih besar saat AS membutuhkan pasokan senjata lebih banyak. Apalagi Presiden AS Donald Trump mendorong kontraktor pertahanan di negara itu untuk meningkatkan produksinya seiring perang yang berkepanjangan.
Situasi ini direspons positif oleh para investor. Saham RTX pun naik 7,7 persen. Sementara saham Lockheed Martin melonjak 10,6 persen. Ambisi perang Trump bak ”durian runtuh” bagi produsen senjata.
”Pemerintah (AS) memberi kami lebih banyak fleksibilitas daripada yang biasanya mereka lakukan sehingga kami bisa lebih cepat memproduksinya (alutsista),” kata CEO Lockheed Martin Jim Taiclet, Kamis (23/7/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/24/36e3f3c046c80458b2f507fd87f7f78d-wires_photo_2026_07_24T121152.788.jpg)
Taiclet mengatakan, Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg selalu meminta perusahaannya memproduksi lebih cepat setiap kali mereka bertemu. Hal itu mengindikasikan kebutuhan persenjataan yang sangat mendesak.
Tingginya permintaan membuka peluang meraup keuntungan lebih banyak. Pendapatan Lockheed Martin dari rudal dan pengendali tembakan meningkat hampir 20 persen menjadi 4,1 miliar dolar AS (sekitar Rp 73,7 triliun). Pendapatan itu didorong oleh lonjakan produksi rudal PAC-3 dan rudal serang presisi. Keduanya digunakan dalam perang AS melawan Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Permintaan pencegat rudal THAAD juga meningkat. Lockheed Martin dan Pemerintah AS baru saja menandatangani kontrak senilai 35 miliar dolar AS (Rp 628,94 triliun) pada Juni lalu. Suntikan dana ini membuat perusahaan tersebut akan melipatgandakan produksinya.
Total pesanan yang belum diproduksi (backlog) Lockheed Martin pun meningkat menjadi 230,4 miliar dolar AS (Rp 4.140 triliun). Jumlah itu naik lebih dari 38 persen dibandingkan dengan tahun lalu.
AS memang tidak terlibat secara langsung dalam perang Rusia-Ukraina yang berkecamuk sejak 24 Februari 2022. Namun, ”Negeri Paman Sam” secara aktif mengirimkan senjata untuk membantu Ukraina melawan Rusia. Rudal Patriot yang diproduksi oleh Raytheon, bagian dari RTX, menjadi tulang punggung pertahanan Ukraina.
”Kami sedang aktif berdialog untuk menjajaki peluang potensial lainnya. Kami melihat peluang nyata di sini untuk lebih banyak kemitraan guna meningkatkan produksi lebih cepat,” kata Direktur Keuangan Lockheed Martin Evan Scott.
Perusahaan tersebut memperkirakan pendapatan tahunan pada 2026 berkisar 79,75 miliar dolar AS (Rp 1.433 triliun) hingga 81,75 miliar dolar AS (Rp 1.469 triliun). Jumlah itu naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 77,5 miliar dolar AS (Rp 1.392 triliun).
RTX mengalami kondisi tak jauh berbeda. Backlog perusahaan ini meningkat 22 persen dari tahun sebelumnya menjadi 289 miliar dolar AS (Rp 5.194 triliun). Sebagian besar merupakan pesanan penerbangan komersial dan pertahanan.
Permintaan untuk layanan pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan pesawat turut meningkat. Sebab, kendala rantai pasok dan keterlambatan pengiriman telah memaksa maskapai penerbangan untuk mempertahankan armada yang lebih tua sehingga memerlukan pemeliharaan rutin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/64cf695e4dc1e4d209f8b1889d4d9b76-wires_photo_310.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/cdfd638b5a00d2ff079044b4442013d0-20260301_H02_DMS_Rudal_Tomahawk_mumed.png)
Penjualan di Raytheon, bisnis senjata RTX, naik 18 persen menjadi 8,27 miliar dolar AS (Rp 148,64 triliun). Tiga produk yang menjadi penopang utama adalah sistem rudal Patriot, Standard, dan AMRAAM.
”Sekitar setengah dari pemesanan (Raytheon) pada paruh pertama tahun ini sebesar 10 miliar dolar AS berasal dari pelanggan internasional. Dari jumlah tersebut, sekitar 7 miliar dolar AS berasal dari pelanggan Eropa,” kata Direktur Keuangan RTX Neil Mitchill.
CEO RTX Chris Calio melihat peluang potensial di Timur Tengah di tengah perkembangan geopolitik di kawasan itu. Apalagi perusahaannya mempunyai hubungan yang baik dengan pelanggan internasional, termasuk di Timur Tengah dan Eropa.
Saat ini, RTX memperkirakan penjualan untuk 2026 sebesar 95 miliar-96 miliar dolar AS (Rp 1.707 triliun-Rp 1.725 triliun). Jumlah itu lebih tinggi daripada perkiraan analis sebesar 94,08 miliar dolar AS (Rp 1.690 triliun).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/24/a4290126fad5c840167e9fec9ed734ad-wires_photo_2026_07_24T121517.653.jpg)
”Sekitar dua pertiga dari peningkatan proyeksi laba tahunan RTX berasal dari Raytheon dan sekitar seperempat lainnya dari Collins, bisnis komponen pesawat terbang,” ujar analis di perusahaan jasa keuangan JPMorgan, Seth Seifman.
Kesempatan Lockheed Martin dan RTX untuk terus menambah pundi-pundi pendapatannya sangat terbuka lebar. Apalagi Trump telah mengusulkan anggaran militer sebesar 1,5 triliun dolar AS (Rp 26.959 triliun) untuk tahun 2027 yang menjadi rekor baru.
Kala perang di Ukraina dan Iran belum mencapai batas akhir, aliran cuan ke kantong-kantong industri pertahanan AS akan terus mengalir. Namun, di balik keuntungan bisnis senjata itu, penderitaan orang-orang di wilayah perang tak kunjung berakhir. (REUTERS)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Retma Wati