Yuk, Ngeceng dan Mejeng Lagi di Blok M

Kisah Blok M terentang sejak tujuh dekade lalu. Tempat ”ngeceng” era 1980-1990 itu lahir, bersinar, nyaris mati, dan hidup lagi seiring pasang surut dinamika kota.

14 Jun 2025 13:05 WIB · Artikel Opini

Oleh Neli Triana

Neli Triana (NEL)

Sudah jalan-jalan ke Blok M akhir-akhir ini?

Blok M bak orang berumur, tetapi mendapat kesempatan kedua seiring kembalinya masa remaja yang menyala-nyala penuh pesona. Siapa pun yang tinggal di Jakarta tahun 1980-an sampai 1990-an, kemungkinan besar pernah terpikat olehnya. Remaja ibu kota pada era tersebut bakal ketinggalan zaman jika belum pernah ngeceng dan mejeng di Blok M. Kedua istilah yang secara umum berarti berusaha tampil beda atau menarik perhatian dengan gaya, pakaian, atau perilaku tertentu itu kemudian dikenal luas se-Indonesia hingga sekarang.

Blok M, tiga hingga empat dekade lalu, adalah pusat kota yang riuh ramai orang dari mana saja. Ada pasar, perkantoran, pusat belanja modern, hingga terminal di sana. Kondisi ini bukan tercipta tanpa sengaja. Blok M adalah bagian dari kawasan Kebayoran Baru dengan bagian-bagian di dalamnya yang diberi nama Blok A sampai Blok S.

Kebayoran Baru yang digagas sebagai kota satelit Batavia dirintis sejak 1938 saat Belanda masih berkuasa di Indonesia. Dari berbagai sumber terkait sejarah Jakarta disebutkan, karena situasi perang dan politik pada masa itu, pembangunannya tertunda hingga 10 tahun kemudian. Pada 1948, proyek kota baru itu direalisasikan sesuai rancangan Mohammad Soesilo, murid arsitek Thomas Karsten, perancang Kota Bandung, Malang, dan Bogor.

Pemerintah menggandeng Centrale Stritching Wederopbouw (CSW), semacam kontraktor besar kala itu yang memiliki banyak proyek lain di Jakarta ataupun di luar Jakarta. Di proyek Kebayoran Baru, perusahaan ini memiliki kantornya sendiri dan lokasinya sekarang dikenal sebagai perempatan CSW. Pada 1951, ada pergeseran kewenangan pembangunan Kebayoran Baru dari Belanda ke Indonesia, yaitu dari CSW ke instansi di bawah Kementerian Pekerjaan Umum.

Diwarnai penggusuran kampung, lahan pertanian, perkebunan, juga peternakan Betawi, kota baru seluas 7 kilometer persegi itu memulai kehidupannya sekitar tahun 1953. Dengan konsep kota taman, Kebayoran Baru diproyeksi dihuni 100.000 jiwa dan menjadi bagian dari Jakarta. Ada sekolah, pasar tradisional, hunian, ruas-ruas jalan tertata, taman asri, perkantoran, dan aktivitas lain sekaligus terminal. Blok M yang terletak di tengah Kebayoran Baru itu pun dirancang sebagai pusat berbagai kegiatan ekonomi dan hub mobilitas orang.

Aldiron Plaza, salah satu tempat perbelanjaan yang berada dii kawasan Blok M, Jakarta Selatan, 19 Desember 1988.
Suasana di pusat perbelanjaan Aldiron Plaza, Jakarta, 24 September 1981.
Di sebuah toko pakain-jadi Blok M, Kebayoran Baru, puluhan pembeli mengerumuni tumpukan pakaian obral yang modelnya sedang digemari, 10 Mei 1988.

Pada era 1970-an, hadir Pasar Raya Blok M, yang bisa dikatakan pionirnya pusat perbelanjaan modern di Kebayoran Baru, diikuti beroperasinya Aldiron Plaza. Namun, Blok M benar-benar ada di puncak kejayaannya pada tahun 1980-an awal sampai 1990-an.

Di era itu, mal-mal baru menambah semarak kawasan itu, termasuk Blok M Plaza yang berada di seberang jalan dari kawasan Blok M dan Mal Blok M, mal bawah tanah penghubung terminal dan berbagai tempat lain di kawasan tersebut.

Perkembangan pembangunan di Jakarta dan Indonesia kala itu turut menarik banyak pekerja dari negara lain, terutama Jepang, yang berdatangan dan menetap di Kebayoran Baru. Little Tokyo kemudian lahir di Blok M, mengacu pada bermunculannya restoran, kafe, supermarket, dan tempat hiburan khas ”Negara Sakura” yang memanjakan ekspatriat Jepang serta magnet baru bagi pasar Jakarta secara luas.

Ngeceng di Blok M menjadi tren yang mempertemukan orang dari berbagai kalangan. Kalangan berpunya atau yang siapa pun yang pengin ngeksis memamerkan apa yang dimiliki dengan hadir bersama mobil, numpang, dan bergabung dengan klub roller skate di Melawai. Generasi X yang pada 1980-an hingga 1990-an masih berusia remaja melihat Blok M sebagai tempat mengekspresikan diri sekaligus pelarian dari banyak persoalan.

Pemberitaan Harian Kompas, ”Remaja Bicara tentang Dunianya” (Minggu, 25 Oktober 1981), mengisahkan, dari warung di Jalan Melawai sampai Bulungan, para remaja yang terlibat pergaulan dengan ”om maupun tante hidung belang” atau mereka yang menggelandang di kawasan Blok M itu karena bermasalah dengan orangtuanya.

Blok M menjelma menjadi pusat budaya populer atau budaya pop pada masa 1980-an hingga 1990-an. Budaya pop yang merujuk pada ide, perspektif, perilaku, fenomena yang diterima dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat pada periode tertentu. Budaya ini biasanya berkaitan erat dengan hiburan, musik, film, media sosial, tren pakaian, dan tren sosial lain yang memengaruhi cara hidup dan interaksi manusia.

Kehidupan Blok M pun terekam dalam film Blok M–Bakal Lokasi Mejeng yang dibintangi Paramitha Rusady dan Desy Ratnasari. Lagu bertema Blok M melegenda sampai sekarang, seperti ”Jalan-jalan Sore” dari Denny Malik, ”JJS Lintas Melawai” oleh Hari Moekti, dan ”Lintas Melawai” dari Karimata.

Nyaris mati

Memasuki milenium baru, sinar Blok justru meredup. Dampak krisis ekonomi menjelang akhir 1990-an dan diumbarnya pembangunan pusat belanja modern di berbagai lokasi di seluruh Jakarta menjadi salah satu penyebabnya. Pengelolaan kawasan Blok M, baik oleh pemerintah maupun swasta, tak segera cepat mengantisipasi perkembangan.

Yang tersisa di satu dekade pertama era 2000-an adalah semrawutnya Blok M sebagai hub angkutan umum berbasis bus yang bobrok. Terlebih orang mulai meninggalkan bus dan angkot bobrok karena pada periode itu kredit sepeda motor makin mudah dan muncul mobil berharga Rp 100 juta-an.

Upaya pemerintah daerah mengizinkan berdirinya Blok M Square menggantikan Aldiron Plaza dan Pasar Melawai tak berbuah seperti yang diharapkan.

Pembangunan MRT fase 1 Lebak Bulus-Bundaran HI dijanjikan akan mengubah wajah kawasan yang dilewatinya. Namun, khususnya untuk Blok M, proyek yang berlangsung sejak 2013 sampai 2019 tersebut sempat membuat kawasan itu makin kacau, macet, dan usaha warga tersendat. Situasi memburuk ketika pandemi Covid-19 menerjang di awal 2020.

Akupunktur urban

Mati surinya Blok M membawa pengaruh buruk bagi Jakarta, lebih khususnya Jakarta Selatan yang kehilangan ”permatanya”. Mengembalikan kilau kawasan itu mau tak mau harus dilakukan agar mentas dari keterpurukan bertubi.

Peremajaan kawasan dengan mengoptimalkan potensi di sana adalah pilihan paling realistis, yaitu mengembalikan Blok M pada fungsi awalnya sebagai hub kegiatan publik dengan dimotori angkutan umum masalah modern milik Jakarta.

Kehadiran stasiun dan halte di Blok M terbukti memoles wajah kawasan ini. Terlebih ada CSW atau Cakra Selaras Wahana yang menghubungkan antara Transjakarta dan MRT di perempatan terkenal CSW.

Strategi ini bisa disebut peremajaan kawasan dengan pendekatan urban akupunktur. Merujuk pada pengobatan alternatif dengan tusuk jarum akupunktur, pendekatan ini memulihkan kawasan dengan menghunjamkan infrastruktur baru di titik tertentu yang berefek membuat aliran pergerakan orang ataupun kegiatan ekonomi lancar kembali.

Tusukan urban akupunktur ini memberi efek berupa gelombang dengan dorongan berbeda-beda, seperti pebisnis swasta berkapital besar yang jadi tertarik memanfaatkan perubahan Blok M untuk memopulerkan berbagai jajanan viral dari kios-kios lama di sana. Kios-kios itu sebelumnya mangkrak atau kosong. Dampaknya, antrean orang yang ingin mencicipi donat, cheesecake, salt bread, dimsum, kopi, hingga bakmi terus mengekor dalam 1-2 tahun terakhir.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Pembenahan wajah baru ruang terbuka Taman Literasi Martha Christina Tiahahu makin memacu keramaian. Kemudian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meresmikan Blok M Hub. Blok M Hub dulu dikenal sebagai Mal Blok M yang beberapa tahun terakhir melompong ditinggalkan pedagang dan pembeli. Kini, ia digadang-gadang siap berkiprah lagi sebagai pusat perbelanjaan bawah tanah dan penghubung Terminal Blok M dengan berbagai aktivitas lain di sana.

Kini, hadir pula toko buku lawas yang bersalin rupa menjadi Gramedia Jalma yang menawarkan diri sebagai ruang ketiga tempat jeda nyaman antara rumah dan rutinitas harian. Sebelumnya, Plaza Blok M menemukan nyawanya lagi setelah berbenah pascaterhubung dengan Stasiun MRT Jakarta.

Orang berdatangan, berjubel, antre di Blok M. Ingin mencicipi segala hal yang dibicarakan publik. Menikmati berjalan dan nongkrong di sana. Kalau belum ke Blok M, rasanya ada yang kurang. Tren ngeceng dan mejeng di Blok M terlahir lagi, bergelora kembali.

Kebangkitan Blok M berarti rantai usaha rakyat yang hidup, tidak hanya mereka yang bermodal besar. Ada pedagang minuman, warung tegal, kurir pemesanan makanan, ojek daring, hotel, tempat kos, dan banyak lagi.

Diharapkan, penataan Blok M akan semakin komplet dengan jaminan kebersihan, keamanan, ketersediaan jaringan air bersih, kamar kecil memadai, saluran drainase dan limbah, kepastian higienitas di setiap gerai makanan, maupun hal-hal terkait layanan publik lainnya.

Ini penting diwujudkan, apalagi jika Pemprov Jakarta benar-benar ingin Blok M menjadi hub utama Jakarta menuju Kota Global. Untuk itu, publik masih menantikan kejutan-kejutan menggembirakan lain dari Blok M di masa mendatang. Yuk, jalan-jalan ke Blok M lagi!


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul