INDUSTRI PERBANKAN

Perbankan Mulai Tingkatkan Penyaluran Kredit UMKM

Di tengah tantangan perekonomian dari eksternal dan domestik, industri perbankan mulai meningkatkan fokus penyaluran kredit untuk UMKM.

24 Jul 2026 07:52 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Industri perbankan mulai meningkatkan penyaluran kredit usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Meski penyaluran kredit UMKM diproyeksikan tumbuh positif hingga akhir 2026, perbankan diminta untuk tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Riduan menyampaikan, penyaluran kredit oleh Bank Mandiri memiliki fokus pada sektor produktif dan padat karya, antara lain, tecermin dari kredit UMKM yang tumbuh 5,48 persen secara tahunan.

”Pertumbuhan kredit Bank Mandiri juga kami fokuskan pada ekosistem UMKM kerakyatan, yaitu untuk mendorong aktivitas ekonomi riil, khususnya pada ekosistem UMKM,” katanya dalam konferensi pers Public Expose Triwulan II-2026 Bank Mandiri, Kamis (23/7/2026), secara daring.

Dalam hal ini, pertumbuhan kredit usaha mikro dalam ekosistem UMKM kerakyatan tercatat 15,7 persen secara tahunan menjadi Rp 13,3 triliun. Sementara itu, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Mandiri mencapai Rp 72,6 triliun atau tumbuh 3,75 persen.

Direktur Utama Bank Mandiri Riduan (kedua dari kiri) bersama jajaran direksi lainnya memberikan keterangan dalam konferensi pers Public Expose Triwulan II-2026 Bank Mandiri, Kamis (23/7/2026), secara daring.

Secara keseluruhan, penyaluran kredit Bank Mandiri secara bank only per Juni 2026 tercatat Rp 1.592 triliun atau tumbuh 19,9 persen secara tahunan. Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri yang sebesar 12,7 persen.

Hingga Juni 2026, perseroan pun membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 30,4 triliun atau tumbuh 24,4 persen secara tahunan. Capaian ini, antara lain, ditopang oleh peforma bisnis yang terindikasi dari pertumbuhan kredit dan terjaganya kualitas aset.

Meski demikian, Riduan menambahkan, terdapat beberapa faktor yang akan terus dicermati hingga akhir tahun, antara lain, likuiditas yang dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga, stabilitas rupiah, serta ketidakpastian global.

Quote

Ke depannya, Bank Mandiri akan terus hadir mendampingi pelaku UMKM melalui pembiayaan, pendampingan, serta penguatan akses ekosistem.

Pada saat yang sama, Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo menyampaikan, Mandiri tetap konsisten mendorong pertumbuhan kredit di tengah tekanan yang dihadapi oleh segmen UMKM, mikro, dan individu di berbagai daerah.

Mengutip data uang beredar Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit untuk UMKM per Juni 2026 tumbuh sebesar 1 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang tumbuh 0,6 persen. Ini terutama ditopang oleh segmen mikro dan kecil, yang masing-masing tumbuh 1,5 persen dan 0,1 persen.

”Ke depannya, Bank Mandiri akan terus hadir mendampingi pelaku UMKM melalui pembiayaan, pendampingan, serta penguatan akses ekosistem,” ujarnya.

Perkembangan sementara penyaluran kredit UMKM hingga Juni 2026. Sumber: Bank Indonesia

Salah satu upaya untuk memperkuat akses ekosistem UMKM tersebut dilakukan melalui inovasi digital, yakni Kopra dan Livin’ by Mandiri. Pada segmen bisnis, Kopra by Mandiri kini telah digunakan oleh lebih dari 354.000 pengguna, dengan sekitar 84 persen di antaranya berasal dari segmen UMKM.

Totok menambahkan, penguatan pada UMKM oleh Bank Mandiri tidak hanya diwujudkan melalui perluasan penyaluran pembiayaan produktif, tetapi juga melalui berbagai program pemberdayaan seperti Wirausaha Muda Mandiri dan Rumah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Tekanan kredit UMKM

Secara industri, penyaluran kredit UMKM oleh perbankan sempat turun atau tumbuh negatif pada awal tahun. Namun, per Mai 2026, tren penyaluran kredit UMKM tersebut mulai berbalik dengan tumbuh 0,6 persen secara tahunan, terutama ditopang oleh segmen usaha mikro dan manengah.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menjelaskan, dinamika kondisi ekonomi dan perubahan pola konsumsi masyarakat telah memberi tekanan daya beli, terutama di kelas menengah ke bawah. Akibatnya, omzet dan perputaran kas pelaku UMKM pun terdampak.

”Hal tersebut selanjutnya memengaruhi aktivitas UMKM dan pembiayaan di tengah proses pemulihan sektor UMKM pascapandemi sehingga relatif lebih lambat dibandingkan sektor korporasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Dian Ediana Rae Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK)

OJK mencatat, pertumbuhan kredit berdasarkan kategori debitor utamanya masih didoroong oleh segmen koporasi yang tumbuh 18,39 persen pada Mei 2026. Sementara itu, berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan tertinggi ada pada jenis kredit investasi yang tumbuh 21,95 persen.

Ke depan, OJK turut optimistis memproyeksikan kredit UMKM akan tumbuh positif hingga akhir 2026 dibandingkan periode sebelumnya. Perkiraan ini seiring dengan terjaganya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang diharapkan dapat menopang aktivitas UMKM.

Ia menambahkan, dorongan terhadap kredit UMKM juga dilakukan oleh OJK melalui penerbitan Peraturan OJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (POJK UMKM).

Quote

Bank juga didorong untuk mencari berbagai kesempatan pengembangan usaha dan menerapkan strategi penyaluran kredit sesuai risk appetite dan risk tolerance masing-masing.

Dalam hal ini, OJK mendorong kemudahan akses pemberian kredit UMKM yang mudah, tepat, cepat, murah dan inklusif. Adapun industri perbankan dapat menerapkan pendekatan rantai pasok, digitalisasi proses kredit, kerja sama dengan lembaga keuangan lain, serta peningkatan literasi keuangan.

Kendati demikian, Dian mengingatkan agar bank senantiasa mendorong perbankan untuk memperkuat ketahanan dan menerapkan prinsip kehati-hatian. Di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, OJK akan meningkatkan fokus pada pengawasan individual bank. 

”Bank juga didorong untuk mencari berbagai kesempatan pengembangan usaha dan menerapkan strategi penyaluran kredit sesuai risk appetite dan risk tolerance masing-masing,” ujarnya.

Bermacam produk industri kreatif ditampilkan dalam ajang Inacraft Festival di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Minggu (19/7/2026). Ajang pameran tahunan itu untuk pertama kali digelar di luar Jakarta. Tahun ini Inacraft Festival diselenggarakan selama lima hari dengan menghadirkan sekitar 250 pelaku UMKM yang menampilkan sedikitnya 1.000 tenant dari berbagai daerah dan mancanegara. 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul