Perbatasan Thailand-Myanmar Lahan Subur Sindikat Penipuan, 10.000 Korban Dibebaskan

Sejak konflik pascakudeta junta Myanmar tahun 2021, perbatasan Thailand-Myanmar seperti wilayah tanpa hukum dan menjadi surga bagi sindikat kejahatan transnasional.

20 Feb 2025 06:30 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

Sekitar 7.000 orang yang berhasil diselamatkan dari pusat operasi penipuan daring di sebuah kota perbatasan Myanmar akan segera dipindahkan ke Thailand. Ini adalah tindak lanjut perburuan aparat keamanan Thailand, bekerja sama dengan Myanmar, untuk menghentikan operasi kejahatan bermodus penipuan daring (online scams).

Rencana pemindahan ribuan korban sindikat penipuan daring itu disampaikan Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra, Rabu (19/2/2025).

Pernyataan Paetongtarn itu disampaikan setelah aparat keamanan Thailand menyatakan bahwa mereka siap menerima sekitar 10.000 orang asing yang diselamatkan dari sebuah bangunan di Shwe Kokko, Myawaddy, kota di perbatasan Myanmar dan Thailand. Kota ini menjadi salah satu pusat operasi industri penipuan daring bernilai miliaran dollar AS.

Sebagian besar korban adalah warga China. Ada juga warga dari sejumlah negara di Asia Tenggara.

Pemulangan para korban dilakukan aparat kepolisian Thailand bekerja sama dengan Pasukan Penjaga Perbatasan Karen (BGF), kelompok bersenjata etnis Karen yang terafiliasi dengan militer junta Myanmar atau Tatmadaw.

Anggota Pasukan Penjaga Perbatasan Karen (BGF) dalam sebuah operasi pemberantasan operasi daring di Shwe Kokko, Myawaddy, Myanmar, Jumat (14/2/2025).

Juru Bicara BGF Mayor Naing Maung Zaw, kepada kantor berita AFP, akhir pekan lalu mengatakan, mereka tidak ingin wilayah teritorial Myanmar digunakan sebagai pusat operasi tindakan kriminal. Mereka berniat membersihkan seluruh wilayah yang menjadi kewenangannya dari sindikat penipuan daring dan memulangkan para korban.

”Kami telah membuat daftar dan siap untuk memindahkan sekitar 10.000 orang (ke Thailand),” kata Naing Maung Zaw.

Kudeta militer 1 Februari 2021 membuat sejumlah titik di wilayah perbatasan kedua negara berubah menjadi wilayah yang tidak memiliki hukum. Wilayah-wilayah tersebut, seperti Shwe Kokko, berubah bak kawasan asing karena banyak wajah-wajah tak dikenal bermunculan.

Wilayah-wilayah itu menjadi surga bagi sindikat kejahatan transnasional yang mengoperasikan sindikat penipuan daring, termasuk penipuan asmara, investasi palsu, dan perjudian ilegal.

Alleged scam centre workers and victims sit next to dismantled IT and electronic appliances during a crackdown operation by the Karen Border Guard Force (BGF) on illicit activity in Shwe Kokko in Myanmar's eastern Myawaddy township on February 18, 2025. Battered and bruised Chinese workers from online scam centres in Myanmar faced an anxious wait to be returned home, as Beijing and Thailand on February 19 finalised plans for their repatriation. (Photo by AFP)

Kini, sindikat itu bertransformasi menjadi sindikat penculikan dan perdagangan manusia.

Jeremy Douglas, perwakilan kantor PBB untuk Penanganan Kejahatan dan Narkoba (UNODC), seperti dilansir The Guardian, menyatakan, sebuah langkah besar dan penting jika aparat keamanan bisa membersihkan wilayah tersebut.

”Ini operasi yang sangat besar. Dan, ada ribuan orang di sana yang telah dibawa masuk, biasanya melalui Thailand. Sebuah langkah besar jika mereka membersihkan kompleks (pusat operasi) kejahatan penipuan itu,” kata Douglas.

Douglas menyebut, wilayah perbatasan di Myawaddy diperkirakan menjadi salah satu tempat beroperasinya sindikat penipuan terbesar di negara tersebut dan bahkan di dunia. Menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kerugian finansial akibat jaringan penipuan ini berkisar 18 miliar-37 miliar dollar AS pada tahun 2023.

Berdasarkan laporan PBB, dilansir dari The Guardian, setidaknya di seluruh Myanmar terdapat 120.000 orang dari sejumlah negara yang dipekerjakan sindikat ini. Begitu juga di Kamboja, sindikat penipuan daring diperkirakan mempekerjakan 100.000 orang.

Para korban tertarik untuk bekerja di lokasi-lokasi itu karena diiming-imingi pekerjaan dan pendapatan yang layak.

Alleged scam centre workers and victims rest during a crackdown operation by the Karen Border Guard Force (BGF) on illicit activity in Shwe Kokko in Myanmar's eastern Myawaddy township on February 18, 2025. Battered and bruised Chinese workers from online scam centres in Myanmar faced an anxious wait to be returned home, as Beijing and Thailand on February 19 finalised plans for their repatriation. (Photo by AFP) *** Local Caption *** Sejumlah warga China yang diduga merupakan pekerja sindikat penipuan daring (online scam) duduk di lantai sebuah bangunan yang menjadi pusat operasi kegiatan penipuan di Kota Shwe Kokko, Mywaddy, Myanmar, Selasa (18/2/2025), setelah lokasi itu digerebek Pasukan Penjaga Perbatasan Karen (BGF). Pemerintah Thailand menyebut warga China yang merupakan korban dan berjumlah ribuan orang, akan dipulangkan kembali ke negaranya melalui Kota Mae Sot, Thailand, secara bertahap.

Penyiksaan

Beberapa korban yang ditemui jurnalis AFP menceritakan pengalaman mereka bekerja untuk sindikat penipuan daring tersebut. Sebagian dari korban yang ditemui, yakni warga China, memperlihatkan luka memar di beberapa bagian tubuhnya, termasuk di bagian bokong, yang seluruhnya telah berubah menjadi warna ungu pucat.

Sebagian korban lainnya memperlihatkan luka di bagian bawah kaki. Ada juga yang mengalami luka bakar.

”Saya benar-benar ingin pulang,” kata seorang laki-laki yang meminta namanya disamarkan. ”Saya ingin pulang segera setelah saya tiba. Saya benar-benar merindukan orangtua dan keluarga saya.”

Seorang perempuan yang diduga adalah korban juga mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Saat berbincang dengan AFP, dia memperlihatkan memar besar di lengan dan paha kirinya. Dia juga mengaku disetrum oleh majikan tempatnya bekerja.

Banyak pekerja mengatakan bahwa mereka dibujuk atau ditipu dengan janji pekerjaan bergaji tinggi sebelum mereka disandera, paspor mereka diambil, sementara mereka dipaksa melakukan penipuan daring.

Members of the Karen Border Guard Force (BGF) patrol during a crackdown operation on illicit activity linked to scam centres in Shwe Kokko in Myanmar's eastern Myawaddy township on February 14, 2025. A Myanmar ethnic militia said on February 15 that it was preparing to deport 10,000 people linked to cyber-scam operations in the area it controls as part of an ongoing crackdown on the illicit activity. (Photo by AFP) *** Local Caption *** Anggota Pasukan Penjaga Perbatasan Karen (BGF) berpatroli melewati sebuah bangunan yang diduga menjadi pusat kendali operasi penipuan daring (online scams) di Shwe Kokko, Myawaddy, Myanmar, Jumat (14/2/2025). Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra menyebut, 7000 orang warga yang menjadi korban akan dipulangkan ke negara asalnya, termasuk China, melalui Kota Mae Sot, Thailand, secara bertahap.

Naing Maung Zaw, jubir BGF, mengatakan, enam laki-laki warga negara China yang diduga terlibat dan bekerja sebagai pengawas operasional tempat penipuan itu telah ditahan. Mereka akan dipulangkan ke China untuk menjalani proses hukum di negara asal mereka.

Kepulangan warga China yang menjadi korban tindak pidana dilakukan secara bertahap. Menurut  Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand Mayor Jenderal Thanathip Sawangsaeng, sebanyak 200 warga China yang menjadi korban akan dipulangkan kembali ke China, Kamis (20/2/2025), dari Mae Sot, Thailand, yang berbatasan dengan Myawaddy, Myanmar.

Meski telah beroperasi selama bertahun-tahun, kota-kota di sekitar perbatasan Myanmar dan Thailand baru menjadi sorotan setelah seorang aktor asal China, Wang Xing, menjadi korban sindikat kejahatan ini. Xing diculik di Thailand setelah dia diduga tergiur janji sebuah pekerjaan

Sejak akhir Januari, otoritas Myanmar telah mengidentifikasi 1.303 orang asing masuk ke wilayah negara itu secara ilegal dan bekerja dengan sindikat di Myawaddy. Otoritas keamanan Myanmar telah menahan 273 orang asing yang diduga terlibat dalam sindikat kejahatan tersebut.

(AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi