Transformasi pendidikan membuat semua orang kini bisa mengakses ilmu pengetahuan dari mana saja, tidak lagi terbatas hanya pada papan tulis di ruang kelas sekolah.
13 Agt 2025 17:36 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
JAKARTA, KOMPAS - Pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning yang digaungkan pemerintah sangat memungkinkan untuk diterapkan pada pendidikan nonformal dan informal yang diselenggarakan oleh masyarakat karena fleksibilitasnya. Hal ini bisa menjangkau kelompok yang sulit mengakses pendidikan formal dan menekan angka anak putus sekolah.
Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Elih Sudiapermana menilai, perkembangan zaman telah mentransformasi pendidikan, setiap orang kini bisa mendapatkan ilmu dari gawainya. Karena itu, perbedaan antara pendidikan formal dan nonformal atau informal semakin menipis.
Untuk itu, pembelajaran mendalam tetap dibutuhkan agar ilmu dari berbagai sumber tersebut bisa diserap dengan baik. Setelah diserap dengan baik, lalu diterapkan dalam kehidupan, pembelajaran mendalam harus kontekstual dan tidak jauh dari praktik-praktik di kehidupan nyata.
"Internet memberi akses sumber belajar, jadi saya kira kita tidak usah berdebat soal ini ciri formal dan nonformal. Dan pendidikan nonformal atau informal semestinya lebih di depan untuk bisa mengimplementasikan pembelajaran mendalam, kalau memang mau belajar pada konsep-konsep dasar secara teori dan kajian-kajian," kata Elih dalam diskusi bertajuk "Menuju Hari Aksara International (HAI) 2025" di Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, Pendidikan Layanan Khusus di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Tatang Muttaqin mengatakan, perkembangan zaman yang menyebabkan disrupsi teknologi dan demografi menuntut adanya perubahan kebutuhan keterampilan masa depan. Dengan demikian transformasi pendidikan menjadi sebuah keniscayaan.
Peserta didik menjadi bagian daripada subyek pembelajaran itu, tidak menjadi objek lagi.
Dia juga menekankan pentingnya literasi digital dan peran pendidikan nonformal dan informal demi menurunkan angka anak tidak sekolah, khususnya melalui program relawan pendidikan yang bertugas mengajak anak putus sekolah kembali belajar.
"Tentu pendidikan non-formal dan informal menjadi area yang paling memungkinkan karena anak tidak sekolah yang sudah terlanjur bekerja atau memiliki aktivitas lain masih bisa menikmati pembelajaran melalui berbagai pendekatan dan mengoptimalkan kerja komunitas serta pelibatan partisipasi masyarakat," kata Tatang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/29/f6dcc40b-72f7-490e-9e29-752167fc6afa_jpg.jpg)
Kemendikdasmen mencatat, ada 10.437 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) dengan jumlah murid 1.774.131 orang yang dibimbing 48.456 guru atau pendidik. Selain itu, ada 506 sanggar kegiatan belajar (SKB) yang diikuti oleh 156.875 peserta didik bersama 6.127 guru atau pendidik.
Menurut Tatang, ini merupakan potensi untuk menekan angka anak tidak sekolah yang kini berjumlah sekitar 3,52 juta orang. PKBM dan SKB ini perlu dioptimalkan agar upaya mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua dilakukan bersama-sama dengan masyarakat.
Adapun program relawan pendidikan melibatkan masyarakat, termasuk tokoh masyarakat, lulusan baru, dan generasi muda, untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan, khususnya di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) serta bagi anak-anak yang tidak terjangkau oleh layanan pendidikan formal. Ini demi mencapai misi wajib belajar 13 tahun.
Ahli Madya Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskurjar), Yusri Saar menambahkan, pendekatan kurikulum mendalam seharusnya lebih bisa diterapkan pada pendidikan nonformal dan informal karena fleksibilitasnya. Sebab, pendidikan nonformal dan informal lebih partisipatif dan kontekstual sesuai kebutuhan kondisi lokal dan kebutuhan peserta didik yang beragam.
Pendekatan pembelajaran mendalam ini ini didasarkan pada tiga prinsip utama: berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Ketiganya diwujudkan melalui pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
"Peserta didik di sini mengambil peran menjadi pembelajar yang aktif. Artinya mereka menjadi bagian daripada subyek pembelajaran itu, tidak menjadi obyek lagi," kata Yusri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/22/d4328330-1f75-4b0e-95e5-ba2ece76ed90_jpg.jpg)
Menurut Yusri, ketiga prinsip pembelajaran mendalam ini tidak harus muncul secara bersamaan dalam setiap tahapan pembelajaran, tetapi bisa secara bertahap satu per satu maupun sekaligus dilakukan langsung ketiganya.
"Jadi kalau hanya datang, duduk, diam, cakap, pulang, itu tidak akan terjadi pembelajaran mendalam, itu metode klasik. Jadi kini tidak cukup hanya sampai dengan menghafal, tetapi harus menjadi pengalaman belajar mulai dari proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi," ujarnya.
Pendidikan nonformal dan informal juga berperan penting dalam memberdayakan masyarakat lokal melalui pelatihan keterampilan, literasi, dan pendidikan kewirausahaan yang disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup individu, tetapi juga mendorong pembangunan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Pemerintah dan berbagai lembaga masyarakat diharapkan terus mendukung mengembangkan hal ini agar dapat menjangkau lebih banyak kelompok yang selama ini terpinggirkan oleh sistem pendidikan formal. Dengan demikian, cita-cita pemerataan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di seluruh Indonesia dapat lebih cepat terwujud.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase