Beberapa petugas di mal hingga pasar tradisional terlihat berjaga di balik pagar. Mereka belum bisa memastikan kapan tempatnya dibuka lagi karena tergantung situasi.
30 Agt 2025 18:32 WIB · Ekonomi & Bisnis
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/3e01a6bf-ba23-48d1-a496-776ed86e989a_jpg.jpg)
JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah pusat perbelanjaan, mulai dari pasar modern hingga tradisional, di Senen, Jakarta, Sabtu (30/8/2025), masih ditutup. Demikian pula toko-toko yang tak jauh dari Markas Komando Brimob Polda Metro Jaya tersebut.
Berdasarkan pengamatan pada pukul 16.30, Mal Atrium Senen, umpamanya, ditutup dengan pagar berduri di beberapa jalur masuk. Di balik gerbang-gerbang, sejumlah petugas berjaga. Saat ditanya, petugas di gerbang sebelah barat menjelaskan soal pusat perbelanjaan itu yang sudah ditutup sejak Jumat (29/8/2025).
Mereka tak bisa memastikan kapan Mal Atrium Senen kembali dibuka dan hanya menyebut, kemungkinannya akan melihat situasi dulu. Sementara itu, berdasarkan pengamatan, massa masih berkerumun tak jauh dari Markas Komando (Mako) Brimob Polda Metro Jaya dengan jarak sekitar 1 kilometer.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/c46325bb-5213-4544-8d3b-dc3ee5275499_jpg.jpg)
Semakin petang, warga bahkan terus berdatangan lalu disambut tepuk tangan dan teriakan mereka yang sudah datang terlebih dahulu.
Pintu-pintu di Pasar Grosir Senen Jaya juga tampak tertutup rapat dengan terali-terali. Demikian pula dengan Pasar Senen Blok III yang diawasi beberapa petugas satpam di pintu masuk. Salah seorang pekerja yang berdiri di balik pagar mengatakan, pasar itu ditutup sejak Jumat lalu.
Belum tahu kapan dibuka lagi. Mungkin tunggu selesai sampai demonstrasi selesai. Biasanya, kalau normal, pukul 09.00 sudah buka.
”Belum tahu kapan dibuka lagi. Mungkin tunggu selesai sampai demonstrasi selesai. Biasanya, kalau normal, pukul 09.00 sudah buka,” ujarnya. Di Sentra Kue Subuh bahkan tak terlihat pekerja sama sekali. Toko-toko di sekitar pusat perbelanjaan itu juga banyak yang tutup.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/71fff267-8070-4e2d-8e03-052f8ae3d826_jpg.jpg)
Hanya segelintir titik yang buka, seperti minimarket, kios nasi rames, atau toko madura. Beberapa pengemudi taksi dan bajaj memberanikan diri untuk mangkal. Halte Transjakarta Senen Sentral juga tak beroperasi.
Fasilitas itu masih dibiarkan rusak lantaran aksi massa sebelumnya yang masih menyisakan pecahan kaca, kayu, dan dinding batu. Jembatan penyeberangan yang terhubung dengan halte itu juga belum diperbaiki. Di Terminal Senen, tidak terlihat bus sama sekali. Jalan-jalan pun cukup lengang.
Kalau enggak jualan, ya, pasti penghasilan nihil. Ada demonstrasi atau tidak, hasilnya sama.
Mereka yang masih berani berjualan adalah pedagang-pedagang kecil. Sepeda motor, gerobak, dan troli digunakan untuk berjualan. Kebanyakan, pelaku usaha mikro itu berjualan makanan dan minuman, seperti kopi, es krim, air mineral, kacang, rujak, gorengan, tahu, bakwan malang, bubur ayam, dan batagor.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/66feffae-bd30-4450-8335-734349f01d21_jpg.jpg)
El Yusman (59) memberanikan diri berjualan minuman meski mengkhawatirkan massa akan bentrok dengan aparat keamanan. ”Kalau enggak jualan, ya, pasti penghasilan nihil. Ada demonstrasi atau tidak, hasilnya sama,” tuturnya.
Sehari-hari, pemasukan Yusman tak tentu. Kadang, Rp 200.000 per hari. Jika pembeli sedang ramai, setiap hari ia bisa memperoleh Rp 300.000. Yusman berjualan antara lain kopi, teh, air mineral, dan minuman rasa jeruk.
Ayah tiga anak itu masih mengais rezeki meski sudah memiliki tiga cucu. Saban hari, ia mendorong troli dengan jarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya di Johor Baru, Jakarta. Yusman sering berhenti untuk beristirahat karena sudah tua.
Penulis:
Dwi Bayu RadiusEditor:
Moh. Hilmi FaiqPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra