Pemerintahan Trump menggencarkan razia imigran. Para agen imigrasi bertindak keras dalam menangkap dan menahan orang-orang yang dicurigai.
06 Okt 2025 16:39 WIB · Internasional
Pada Selasa (30/9/2025) dini hari, warga yang tinggal di wilayah South Shore Chicago terbangun dari tidur mereka dengan perasaan shock. Gedung apartemen mereka serasa berguncang, suara gemuruh terdengar.
”Gedung saya berguncang. Saya bertanya-tanya, ’Apa itu?’ Lalu saya melihat ke luar jendela, itu helikopter Blackhawk,” kata saksi Alii Muhammad, seperti dikutip ABC7, Rabu (1/10/2025).
Warga apartemen lainnya, Darrell Ballard, menceritakan yang ia lihat. ”Mereka membawa gergaji mesin besar berukuran 15 inci dengan mata gergaji bundar, memotong pagar ini,” kata Ballard.
”Kami dikepung. Kami sedang diserbu oleh militer kami sendiri,” tambahnya.
NewsNation yang diundang untuk mengamati operasi para petugas badan penegak hukum federal melaporkan, para agen menggunakan truk tanpa tanda dan helikopter untuk mengepung gedung apartemen lima lantai tersebut. ”Para agen turun dari helikopter Black Hawk. Para agen itu kemudian mendatangi rumah ke rumah, membangunkan warga, dan menggunakan tali pengikat untuk menahan mereka,” demikian bunyi laporan NewsNation.
Pada Rabu (1/10/2025) pagi, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) memberikan keterangan, ”Pada dini hari tanggal 30 September 2025, badan penegak hukum federal yang bersekutu dengan CBP, FBI, dan ATF melakukan operasi penegakan hukum di wilayah South Shore Chicago, sebuah lokasi yang diketahui sering dikunjungi oleh anggota Tren de Aragua dan rekan-rekan mereka. Beberapa subyek yang menjadi sasaran diyakini terlibat dalam perdagangan dan distribusi narkoba, kejahatan senjata, dan pelanggar imigrasi.”
DHS mengatakan 37 imigran ditangkap. Warga dan Koalisi Illinois untuk Hak Imigran dan Pengungsi (ICIRR) yang melakukan survei di wilayah itu mengatakan, mereka yang diikat dengan zip tie termasuk anak-anak dan warga negara AS. Brandon Lee dari ICIRR menyebutkan, beberapa warga di antaranya dipasangi monitor pergelangan kaki, sementara yang lainnya belum diketahui keberadaannya.
Para aktivis, warga, dan pejabat Illinois mengatakan penggunaan taktik agresif oleh petugas imigrasi federal dalam operasinya semakin meningkat. Langkah itu memicu kekerasan dan meningkatkan ketegangan di lingkungan sekitar di kota terbesar ketiga di negara itu.
”Mereka menjadikannya zona perang,” kata Gubernur Negara Bagian Illinois JB Pritzker, Minggu (5/10/2025), seperti dikutip di CNN.
”Mereka menembakkan gas air mata dan granat asap, dan mereka membuatnya tampak seperti zona perang,” ujar Pritzker.
Operasi petugas imigrasi federal di South Shore Chicago tidak hanya mengakibatkan kerusakan pada gedung apartemen. Operasi yang agresif itu juga meninggalkan trauma bagi warga di South Shore Chicago. Pritzker menyerukan dilakukan penyelidikan atas operasi dan penangkapan oleh petugas imigrasi federal itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/06/36fdadf6-6837-42be-8791-c1714ec0c8af_jpg.jpg)
Sejak menjabat kembali sebagai presiden, Trump terus menggencarkan razia para imigran di daerah-daerah basis pendukung Demokrat. Pemerintahan Trump juga mengerahkan pasukan Garda Nasional dalam agenda menggenjot deportasi.
Salah satu operasi keras yang dijalankan sejak bulan lalu adalah operasi di Chicago. Operasi itu bernama Operasi Midway Blitz. Setiap hari terjadi bentrokan yang semakin agresif dan berani di berbagai lingkungan di Chicago. Bentrokan paling banyak terjadi di wilayah pinggiran kota berpenduduk 2,7 juta jiwa itu.
Petugas imigrasi sudah menangkap lebih dari 1.000 imigran sejak operasi bulan lalu di wilayah Chicago. Warga negara AS, imigran berstatus legal, ataupun anak-anak termasuk di antara mereka yang ditahan dalam operasi itu. Para demonstran pun terus-menerus berunjuk rasa di luar pusat pemrosesan dan penahanan imigran di Broadview, Illinois.
Petugas federal sebetulnya lebih banyak memfokuskan operasinya di enklave atau kantong permukiman yang didominasi imigran dan warga Latin. Namun, operasi pada Selasa dini hari itu berlangsung di lingkungan South Shore yang sebagian besar dihuni warga kulit hitam.
Lingkungan itu juga kedatangan sejumlah gelombang kecil migran yang mencari suaka. Wilayah yang disasar itu juga diduga menjadi wilayah yang sering didatangi mereka yang terlibat perdagangan narkoba.
Karena operasi keras petugas imigrasi itu, Pritzker yang berlatar partai Demokrat itu memerintahkan badan-badan negara bagian untuk menyelidiki klaim bahwa anak-anak diikat dengan zip tie dan ditahan terpisah dari orangtua mereka. Pritzker mengatakan ”taktik gaya militer” tidak boleh digunakan pada anak-anak.
Menteri DHS Kristi Noem pada hari Sabtu mengunggah klip video operasi yang telah diedit secara ekstensif ke X. Video itu memperlihatkan para agen menerobos pintu, helikopter, dan orang dewasa dengan tali pengikat. Video berdurasi satu menit itu diiringi musik.
Beberapa anggota Demokrat dari kongres Illinois kemudian mendatangi lokasi penangkapan itu pada hari Minggu. Mereka menyerukan diakhirinya penggerebekan imigrasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/06/af4c97fb-26e8-4679-856c-370cf2e6a4b4_jpg.jpg)
Sayangnya, badan-badan federal yang terkait penggerebekan dan penangkapan tidak segera memberikan konfirmasi atas pertanyaan The Associated Press (AP) terkait hal itu.
Selain menggunakan helikopter, truk, dan aksi kekerasan, menurut ICIRR, petugas imigrasi diketahui juga menggunakan bahan-bahan kimia dalam operasinya. Bahan kimia itu awalnya digunakan untuk mengendalikan para pengunjuk rasa.
Sepekan terakhir, penggunaan bahan kimia itu menjadi lebih sering. Bahan kimia itu salah satunya dipakai di dekat sebuah sekolah di lingkungan Logan Square di barat laut Chicago pada Jumat pekan lalu. Akibatnya, murid-murid di Sekolah Dasar Funston di lingkungan itu pun diminta untuk tinggal di dalam ruangan.
Pada hari yang sama dengan insiden itu, ICIRR juga mendapati melonjaknya panggilan ke nomor telepon darurat (hotline) untuk melaporkan keberadaan petugas imigrasi pada Jumat (3/10/2025). Panggilan darurat ini tercatat mencapai lebih dari 800 kali.
Pada hari yang sama, anggota DPRD Kota Chicago, Jessie Fuentes, diborgol di sebuah rumah sakit. Fuentes mengatakan, ia meminta agen untuk menunjukkan surat perintah penangkapan seseorang yang kakinya patah saat dikejar oleh petugas ICE. Kemudian, ia membawanya ke ruang gawat darurat.
”ICE bertindak seperti tentara penjajah di lingkungan kami,” kata anggota Dewan Negara Bagian, Lilian Jiménez, yang juga seorang Demokrat.
”Helikopter melayang-layang di atas rumah kami, meneror keluarga, dan mengganggu kedamaian komunitas kami. Tindakan memalukan dan melanggar hukum ini bukan hanya pelanggaran hak konstitusional, melainkan juga kebebasan kami yang paling mendasar: hak untuk hidup bebas dari penganiayaan dan ketakutan,” tegas Jimenez.
Gerah atas perilaku agen imigrasi, para pemimpin kota Chicago membuat perlawanan. Mereka membawa kasus yang melibatkan agen federal ke pengadilan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/06/beb9c7b0-eac1-4a28-a11f-c905d670f4e2_jpg.jpg)
Kebijakan imigrasi Presiden Trump juga membuat diaspora Indonesia di AS gelisah. Dalam pemberitaan Kompas.id 21 September 2025, saat Presiden Prabowo Subianto menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, sejumlah mahasiswa Indonesia di AS menyambut Presiden.
Mereka mengungkapkan kekhawatiran mereka terkait tindakan Pemerintah AS memburu imigran ilegal. Para agen ICE kerap melakukan razia dan menangkapi orang-orang yang dianggap tidak mirip warga AS.
Persoalan berikutnya yang mereka ungkap adalah persyaratan Pemerintah AS untuk para pelamar visa kerja H1-B. Perusahaan yang mempekerjakan profesional asing ini wajib membayar biaya 100.000 dollar AS per kepala kepada Pemerintah AS. Hal ini akan menyulitkan dispora Indonesia yang ingin bekerja di AS setelah menamatkan pendidikan di sana. (AP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar