Perebutan Kursi Ketua Umum PPP, antara Kader dan Figur Luar Partai

Sikap kader PPP terbelah jelang Muktamar PPP. Ada yang menilai kader sendiri lebih tepat memimpin PPP, tapi ada juga yang melihat figur luar partai lebih baik.

04 Jun 2025 12:11 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nikolaus Harbowo

Masih empat bulan menjelang Muktamar Partai Persatuan Pembangunan, September mendatang, tetapi situasi di internal partai mulai memanas. Kader bersilang pendapat soal siapa figur yang layak memimpin partai berlambang Kabah tersebut. Sebagian memilih kader internal, sebagian lain dari luar partai. Padahal, ada hal yang lebih esensial di luar persoalan tersebut.

Jauh-jauh hari, sejumlah elite Partai Persatuan Pembangunan (PPP) telah menyuarakan tokoh-tokoh di luar partai yang dinilai layak memimpin partai.

Ada figur yang kini menjabat sebagai menteri di Kabinet Merah Putih, seperti Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Ada pula nama mantan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang kini menjabat pula sebagai penasihat khusus presiden, Dudung Abdurachman.

Romahurmuziy

Ketua Majelis Pertimbangan PPP Muhammad Romahurmuziy sebagai salah satu elite di PPP yang mendukung kehadiran figur eksternal memimpin PPP beralasan, sudah lama PPP tak memiliki kader mumpuni yang memiliki daya tarik elektoral. Hamzah Haz (Wakil Presiden ke-9 RI yang juga Ketua Umum PPP periode 1998-2007), menurut Romahurmuziy, jadi figur kader internal terakhir yang mumpuni yang pernah memimpin partai itu.

Setelah itu, tidak ada lagi. ”Karena itu, suntikan darah segar sangat perlu,” ujar pria yang akrab disapa Rommy itu, beberapa waktu lalu.

Proses kaderisasi

Sementara itu, kubu yang menilai kader internal lebih bisa memimpin PPP memandang kehadiran figur eksternal mengancam proses kaderisasi partai. Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PPP Rapih Herdiansyah, partai politik sejatinya dibangun melalui proses kaderisasi dan memberikan kesempatan kepada kader sendiri untuk menduduki posisi puncak kepemimpinan merupakan bagian dari proses tersebut.

”Kalau kata pengamat, teori partai politik itu soal kaderisasi. Memberikan kesempatan kepada kader-kader untuk menjadi top leader, untuk menjadi pemimpin. Nanti akan menjadi preseden apabila misalnya dengan begitu mudah posisi-posisi strategis, posisi pimpinan, itu katakanlah mengambil dari eksternal. Kapan kader-kader punya kesempatan?” ujar Rapih, Rabu (4/6/2025).

Kader dan simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menghadiri perayaan hari lahir (harlah) ke-46 PPP, di Ecovention Ocean Ecopark, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, 28 Februari 2019. Acara itu dihadiri Presiden Joko Widodo.

Lagi pula Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PPP mensyaratkan kader internal yang bisa memimpin PPP.

Hal ini tertuang dalam Pasal 6 d yang menyebutkan ketua umum PPP harus pernah menjadi pengurus harian DPP PPP dan/atau ketua DPW PPP sekurang-kurangnya satu masa bakti secara penuh terhitung sejak diangkat dalam muktamar/musyawarah wilayah yang dilaksanakan secara berkala sampai dengan pelaksanaan muktamar/musyawarah wilayah berikutnya.

Kalaupun ada figur eksternal yang mau turut andil dalam perjalanan PPP ke depan, menurut Rapih, posisi yang lebih tepat bagi figur tersebut adalah posisi wakil ketua umum. Dalam kepengurusan saat ini, misalnya, ada empat posisi wakil ketua umum, yang dapat diisi oleh kombinasi antara kader internal dan tokoh eksternal.

Di antara figur internal yang kini sudah menuai dukungan dari kader-kader di daerah adalah Mardiono yang sejak awal September 2022 menjabat sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP. Ia menempati posisi itu setelah Suharso Monoarfa memutuskan mundur.

Infografik Kronologi Penggantian Suharso Monoarfa dari Jabatan Ketua Umum DPP PPP

Menurut Juru Bicara PPP Usman Tokan, dukungan kepada Mardiono mengemuka dalam forum-forum formal partai, seperti musyawarah kerja wilayah (mukerwil).

”Dari setiap mukerwil itu rata-rata pernyataan mereka, selagi evaluasi soal program kerja, evaluasi pilkada, hampir semua wilayah itu menyatakan memberikan dukungan kepada Pak Mardiono untuk maju menjadi calon ketua umum,” tuturnya.

Hal ini berkebalikan dengan pandangan Rommy yang melihat Mardiono telah gagal memimpin PPP. Salah satunya karena dari 11 kali pemilu yang diikuti PPP, baru pada Pemilu 2024, partai itu gagal lolos ambang batas parlemen dan masuk ke Senayan.

Plt Ketua Umum PPP Muhammad Mardiono (kedua dari kanan) bersama pimpinan PPP lainnya saat tiba di Gedung High End Kompleks MNC Tower, Jakarta, menjelang pertemuan pimpinan partai politik pengusung bakal calon presiden Ganjar Pranowo pada Pemilihan Presiden 2024, Rabu (13/9/2023). Empat pimpinan parpol pengusung bakal calon presiden Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024 mendatang ini adalah PDIP, PPP, Partai Perindo, dan Partai Hanura. Keempat ketua umum parpol tersebut hadir dalam pertemuan ini, yaitu Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, plt Ketua Umum PPP Muhammad Mardiono, Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo, dan Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang. Dalam pertemuan pertama keempat pimpinan parpol tersebut untuk bersepakat solid dan bersama-sama menyusun langkah-langkah untuk pemenangan Pilpres 2024 Ganjar Pranowo. Selain itu, Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo akan menggelar rapat rutin setiap pekan dan membahas dinamika serta strategi politik menjelang Pemilu 2024. Meski telah solid menyatukan visi dan memiliki sejumlah nama untuk menjadi kandidat, namun penunjukkan bakal calon wakil presiden untuk mendampingi Ganjar Pranowo masih belum diputuskan dalam pertemuan tersebut. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 13/9/2023

Di sela Musyawarah Kerja Nasional II PPP, pertengahan Desember 2024, Rommy sudah menyuarakan dibutuhkannya peremajaan di tubuh PPP. PPP harus mau menerima bahkan calon-calon ketua umum yang berasal dari luar PPP. Bahkan, lanjutnya, bukan tak mungkin AD/ART PPP diubah untuk mengakomodasi pihak eksternal menjadi ketua umum PPP.

”Sebagai partai Islam, yang enggak boleh diubah itu, kan, hanya Al Quran saja. Jadi, kalau cuma AD/ART diubah itu adalah keharusan karena itu bagian dari adaptasi PPP terhadap kebutuhan, termasuk kebutuhan pemimpin baru,” tuturnya.

Mengacu pada Pasal 58 (3) AD/ART PPP, muktamar sebagai musyawarah tingkat nasional yang memegang kekuasaan tertinggi PPP memang berwenang mengubah AD/ART partai.

Akar persoalan partai

Meski demikian, menurut pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, A Bakir Ihsan, saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (4/6/2025), ada hal yang lebih esensial dari sebatas latar belakang ketua umum PPP berikutnya dan pertimbangan popularitas atau modal finansial dari calon ketua umum.

Dosen Ilmu Politik dan Wakil Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta A Bakir Ihsan

Menurut Bakir, lebih penting PPP melihat komitmen dari setiap calon terhadap konsolidasi internal dan pemahaman terhadap akar masalah yang membelit partai sebelum menjatuhkan pilihan.

Kegagalan PPP memenuhi ambang batas parlemen pada Pemilu 2024 dinilainya sebagai cerminan dari kegagalan memahami persoalan partai sendiri yang telah berlangsung lama. Penurunan suara yang konsisten di era Reformasi menunjukkan bahwa persoalan PPP bukanlah hal baru.

”Gagal memahami dirinya juga terkait dengan diferensiasi yang dimilikinya sebagai partai yang berasaskan Islam, tapi perilaku politiknya jauh panggang dari api, sehingga pemilih kehilangan trust atas modal sejarah yang dimilikinya,” kata Bakir.

Yang juga tak kalah penting adalah melihat sejauh mana komitmen calon ketua umum PPP pada penguatan basis di akar rumput, terutama di kantong-kantong suara PPP. Hal ini disebutnya sebagai kunci utama kebangkitan PPP. Pasalnya, selama ini, sejumlah kader daerah tidak merasakan kehadiran dan dukungan dari pimpinan pusat yang dinilai lebih sibuk dengan konflik internal dan kepentingan kelompok.

Wilayah Kemenangan PPP dalam Pemilu 1977-2019 Infografik 20200110

Ia pun mengutip hasil penelitiannya terdahulu yang memotret lemahnya pengelolaan partai di tingkat pusat. Dalam disertasinya tentang PPP, Bakir pernah mewawancarai almarhum Hamzah Haz dan menemukan kritik yang mengarah pada elite partai yang terlalu larut dalam kepentingan sendiri dan mengabaikan penguatan organisasi.

”Orientasi kekuasaan untuk kepentingan diri dan kelompoknya sehingga organisasi tidak tertangani secara baik, konsolidasi ke bawah lemah, tapi kekuasaan penentuan kepala daerah dipegang pusat,” katanya.

Ia mencontohkan pengalaman seorang mantan camat di Depok yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari PPP. Sebagai pendatang baru di partai, tokoh tersebut merasakan langsung minimnya perhatian dari pengurus pusat. ”Pusat hanya membebani orang bawah untuk mencantumkan nama caleg (calon anggota legislatif) pusat tanpa kerja yang konkret untuk menguatkan partai di bawah,” ujar Bakir.

Sebagai pembanding, Bakir menyoroti konsistensi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam merawat basis konstituen yang memiliki irisan dengan PPP, yakni Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama. Menurut Bakir, meski PKB pernah dilanda konflik internal, seperti saat Muhaimin Iskandar mengambil alih kepemimpinan dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur), partai tersebut tetap eksis dan terus meningkat raihan suara di setiap pemilu.

Sandiaga Salahuddin Uno (tengah) mengenakan jaket PPP yang diserahkan plt Ketua Umum PPP Muhammad Mardiono (ketiga dari kiri) pada acara Penyerahan Kartu Tanda Anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kepada Sandiaga Salahudin Uno di Kantor DPP Partai Persatuan Pembangunan, Jakarta, Rabu (15/6/2023). Sandiaga Salahuddin Uno menerima penyerahan KTA PPP dan mengenakan jaket PPP sebagai simbol resmi dirinya bergabung dalam partai politik tersebut. Sandiaga Uno juga diajukan sebagai kandidat bakal calon wakil presiden yang diusung partai tersebut dalam bursa pemilihan bacawapres oleh parpol-parpol yang telah memiliki bakal calon presiden. Penyerahan KTA dan pengenaan jaket PPP ini dilakukan oleh Plt Ketua Umum PPP Muhammad Mardiono dan disaksikan seluruh fungsionaris DPP PPP. Sandiaga mengaku tetap akan berkomitmen dalam perjuangan politik PPP meskipun mungkin dirinya gagal masuk dalam keterpilihan sebagai bakal calon wakil presiden oleh para bakal calon presiden yang maju dalam Pemilu 2024 mendatang. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 15-6-2023

Soal adanya pandangan di PPP bahwa figur eksternal yang populer dan memiliki kekuatan finansial bisa lebih mampu membawa kemajuan bagi partai, Bakir memiliki pandangan berbeda. Popularitas dan kekuatan finansial tak menjamin kemajuan partai.

Menjelang Pemilu 2024, PPP pernah memperoleh ”amunisi” dari luar dengan kehadiran Sandiaga Salahuddin Uno. Saat itu, Sandiaga masih menjabat Menteri Pariwisata. Ia juga dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Di PPP, ia dipercaya menjabat posisi strategis sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu PPP. Namun, kehadirannya tetap tak bisa membuat PPP bisa melenggangkan wakilnya ke Senayan.

”Kalau bicara modal juga, mengapa Partai Perindo dengan pemodal yang kuat gagal? Kalau bicara popularitas, mengapa Partai Hanura di bawah Wiranto gagal? Menurut saya, tidak ada faktor tunggal untuk kemudian menjadi alasan untuk menarik pemodal dengan mengabaikan keringat sejarahnya,” paparnya.

Simpatisan PPP membawa poster bertuliskan Mega-Bintang dalam kampanye PPP di Komisariat Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (14/5/1997). *** Local Caption *** Situasi kampanye PPP di Komisariat Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Judul Amplop: Kampanye PDI & PPP

Peneliti senior Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, berpandangan serupa. Uang bukanlah jaminan keberhasilan elektoral. ”Saya kira, pemodal besar tidak otomatis akan mendongkrak suara partai. Ada beberapa partai dalam pemilu yang memiliki modal besar, tapi tidak lolos juga ke Senayan,” katanya.

Terlebih jika masuknya figur eksternal itu membuat partai harus mengubah AD/ART. ”Saya kira, jika AD/ART diubah dalam rangka untuk mengakomodasi dan memberikan ’karpet merah’ bagi calon ketua umum eksternal, tentu merusak demokrasi internal partai dan pelembagaan partai,” ujarnya.

Partai seharusnya memiliki mekanisme dan prosedur yang ajek untuk menentukan ketua umumnya. Yang tak kalah penting, partai seharusnya juga memiliki sistem untuk menilai kapasitas calon ketua umum agar yang terpilih tak semata bermodal popularitas dan finansial yang kuat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikolaus Harbowo
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji