Lebih dari 70.000 perempuan bertugas di militer Ukraina pada 2025, meningkat 20 persen dibandingkan tahun 2022.
12 Des 2025 07:00 WIB · Internasional
AP/Julia Demaree Nikhinson
Seorang tentara perempuan Ukraina dari Brigade Khartia, dengan nama militer Moza, melompat keluar dari dalam tank di Oblast Kharkiv, Ukraina. Sebelumnya, ia mendemonstrasikan cara mengemudikan kendaraan tempur itu.
Tak jauh dari Moza, sepasang tangan berkuteks warna gelap terlihat kokoh memegang remot drone FPV tempur. Monka adalah seorang operator drone FPV dari brigade penyerang ketiga Ukraina.
Selain menerbangkan drone, ia juga memperagakan cara merakit drone itu. Saat ia tidak sedang bertugas mengemudikan drone, Monka menyempatkan diri mengambil swafoto dengan telepon genggamnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/11/c90de07c-14cc-4db9-8f71-8d44280bbbc0.jpg)
Ketika invasi besar-besaran Rusia dimulai hampir empat tahun lalu, Monka tidak melihat peran tempur yang bisa ia lakukan. Namun, hal itu berubah seiring perkembangan teknologi yang membentuk medan perang baru.
Tahun lalu, ia bergabung dengan militer sebagai pilot drone jarak pendek. Ia meninggalkan pekerjaannya mengelola restoran di luar negeri dan kembali ke Ukraina untuk bertugas. Perubahan yang dilakukannya merupakan bagian dari tren yang lebih besar di mana semakin banyak perempuan bergabung dengan militer Ukraina dalam peran tempur. Sebuah perubahan yang dimungkinkan oleh transformasi teknologi peperangan modern, kata pejabat militer.
”Teknologi memungkinkan kami mengirimkan amunisi tanpa perlu membawanya di tangan atau membawanya ke garis depan, sungguh luar biasa,” kata Monka, yang bertugas di Batalyon Tak Berawak Korps Angkatan Darat Ketiga. Ia dan perempuan lainnya mengikuti protokol militer Ukraina dengan mengidentifikasi diri mereka hanya menggunakan tanda panggilan.
Lebih dari 70.000 perempuan bertugas di militer Ukraina tahun 2025, ini meningkat 20 persen dibandingkan tahun 2022. Lebih dari 5.500 orang di antaranya ditempatkan langsung di garis depan pertahanan Ukraina. Para pemimpin di ibu kota Kyiv, serta banyak tentara seperti Monka, memandang tentara sebagai salah satu dari sedikit jaminan keamanan yang dimiliki Ukraina terhadap Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/11/e8dfce87-09b7-461e-a123-0e966df9756a_jpg.jpg)
Pilot pesawat tak berawak adalah salah satu profesi tempur paling populer di militer Ukraina yang dipilih oleh perempuan. Ketika Imla dari unit Kraken 1654 meninggalkan kariernya sebagai pemain hoki profesional untuk bergabung dengan militer, perempuan berusia 27 tahun itu awalnya berencana untuk menjadi paramedis tempur.
Ia menghabiskan enam bulan pertamanya sebagai petugas medis peleton, tetapi pekerjaan itu mengharuskannya belajar menerbangkan drone. Ia memulai dengan drone kecil sebelum beralih ke drone yang lebih besar untuk membawa bom dan akhirnya beralih ke pekerjaan drone penuh waktu.
Imla ingat betul penerbangan drone pertamanya, sebuah misi pengintaian. Ketika mereka menyerahkan kendali, ia begitu gugup hingga tangannya tak henti-hentinya gemetar. Korps Khartia telah merekrut lebih banyak perempuan ke dalam jajarannya sejak tahun 2024.
Sekitar enam bulan yang lalu, brigade tersebut meluncurkan kampanye rekrutmen yang ditujukan bagi perempuan untuk peran tempur dan teknologi, bekerja sama dengan Yayasan Dignitas, sebuah organisasi amal yang mendukung Ukraina dengan mendanai inovasi teknologi dan proyek pembangunan sipil.
Chibi, teknisi FPV berusia 20 tahun dari Brigade Khartia, mempersiapkan drone untuk medan perang dari ruang bawah tanah yang gelap dan lembab di dekat garis depan di Ukraina timur.
Awalnya, ia menghadapi prasangka dari para tentara yang mengklaim bahwa keterampilan teknisnya kurang karena ia seorang perempuan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/11/0de16eb1-a94b-404d-965c-b67736bea328_jpg.jpg)
Namun, ia juga memiliki rekan laki-laki yang suportif dan membantunya mengambil langkah pertama untuk menjadi teknisi FPV, yang, menurut dia, lebih menarik daripada menjadi pilot.
”Perlu ada lebih banyak perempuan di militer,” kata Chibi, yang rambutnya dicat merah muda dan biru tua. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan