Jika tidak membuat perubahan nyata, Arsenal berpotensi pulang dengan penyesalan dari kandang Wolverhampton. Drama pertemuan pertama jadi pertanda buruk ”Si Meriam”.
17 Feb 2026 15:21 WIB · Olahraga
AFP/Glyn KIRK
WOLVERHAMPTON, SELASA — Pemuncak klasemen Arsenal memang hanya akan menghadapi tim juru kunci Wolverhampton Wanderers. Namun, tidak ada jaminan laga itu berakhir sesuai jalan logika. Kehati-hatian Arsenal dan ketakutan Wolves bisa membuat duel jadi sangat sengit, seperti pertemuan pertama yang ditentukan oleh sepasang gol bunuh diri.
Duel tim teratas dan terbawah Liga Inggris itu akan tersaji di Stadion Molineux, Wolverhampton, Kamis (19/2/2026) pukul 03.00 WIB. Walaupun terpisah jauh di klasemen, kedua tim datang dengan motivasi sama besar untuk berburu poin. Arsenal ingin menjauhkan jarak dari Manchester City, sementara Wolves ingin merangkak dari zona degradasi.
Tim tamu patut waspada. Bukayo Saka dan rekan-rekan sangat diunggulkan dengan kualitas skuad yang istimewa, tetapi itu hanya di atas kertas. Arsenal datang dengan memori kurang baik dari pertemuan pertama di kandang sendiri, Desember lalu. Ketika itu, mereka baru bisa memastikan kemenangan 2-1 beberapa menit menjelang peluit panjang.
Dua gol Arsenal pun berasal dari hadiah Wolves, lewat gol bunuh diri kiper Sam Johnstone dan bek Yerson Mosquera. Sepasang gol itu cukup untuk memperlihatkan kepanikan Wolves karena tekanan intens ”Si Meriam”. Di sisi lain, itu memperlihatkan serangan Arsenal yang kurang efisien baik dalam kreasi peluang maupun penyelesaian akhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/9417ec001c699cc4ab6f0c122b7b8e6a-Britain_FA_Cup_Soccer.jpeg)
Permasalahan Arsenal di pertemuan pertama adalah terlalu mengandalkan serangan sayap, terutama area kanan yang ditempati Saka. Itu memudahkan Wolves yang menggunakan formasi 3-5-2 dengan blok pertahanan super rendah. Saat tanpa penguasaan bola, Wolves tampil dengan lima bek sejajar yang efektif menutup lubang di area sayap.
Arsenal membutuhkan variasi serangan, khususnya dari tengah. Mereka sangat jarang melakukan tekanan melalui zona 14 atau area tengah tepat di luar kotak penalti. Padahal, itu merupakan zona terbaik untuk menciptakan peluang. Wolves yang bertahan dengan 5-3-2 juga lebih rentan di area tengah karena kalah jumlah gelandang tengah.
Titik terang Arsenal muncul pada akhir pekan lalu saat menang 4-0 atas Wigan Athletic di Piala FA. Solusi dari masalah itu mungkin ada dalam diri gelandang serang Eberechi Eze. Dia tampil cemerlang dengan umpan-umpan terobosan di area tengah yang membuahkan dua asis untuk gol Noni Madueke dan Gabriel Martinelli.
”Bola darinya istimewa, juga intensinya. Saya pikir dia berani mengambil risiko di sepertiga akhir. Itu juga terlihat dengan jumlah tembakan yang dilepaskan. Kami menginginkan itu darinya. Sejauh ini dia sudah memainkan peran yang besar untuk kami, dan dia akan melanjutkan itu di banyak laga,” kata Manajer Arsenal Mikel Arteta soal Eze.
Kecemerlangan Eze tidak jatuh dari langit. Pemain tim nasional Inggris itu bisa mengeluarkan penampilan terbaik karena tampil di posisi favoritnya. Dia menjadi gelandang di sisi kiri, seperti saat bersama bekas klubnya, Crystal Palace. Adapun Eze lebih sering ditempatkan di sisi kanan oleh Arteta, termasuk di laga versus Wolves sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/aca7fa4c4053c7845bdaf4290aef15c6-776452864.jpeg)
Bagi gelandang yang bisa bermain sebagai sayap inverted seperti Eze, mereka sangat suka melewati lawan dengan bergerak ke arah dalam. Setelah sukses menggocek, dia bisa langsung mengeksekusi umpan terobosan. Sudut umpan pemain berkaki kanan layaknya Eze lebih luas jika berada di sisi kiri, ketimbang di kanan.
Instruksi Arteta turut membebaskan Eze. Para pemain sayap Si Meriam konstan berlari ke arah dalam untuk meminta umpan langsung. Eze pun bisa menemukan target sasaran. Masalahnya, pendekatan serangan yang lebih berisiko ketika bertemu Wigan itu belum tentu akan diulangi dalam pertandingan liga.
Arteta biasanya menggunakan pendekatan sangat berhati-hati dalam serangan. Sang manajer menginginkan kontrol penuh agar tidak mudah kehilangan bola dan dihukum transisi lawan. Serangan pun lebih banyak dimulai dari sisi sayap dengan umpan-umpan yang cenderung aman. Jika tidak berubah, keahlian Eze tidak akan banyak berguna.
Kehati-hatian itu akan tecermin dari komposisi pemain. Arteta nyaris selalu mengandalkan duet gelandang jangkar Declan Rice dan Martin Zubimendi. Pasangan itu merupakan yang terbaik untuk mengontrol permainan. Namun, soal kreasi peluang dan memecah pertahanan lawan, ada pemain lain yang lebih berguna.
Arteta pun perlu mengubah banyak hal jika tidak ingin kehilangan poin lagi, setelah ditahan imbang Brentford pada tengah pekan lalu. Selain memberikan kesempatan dan keleluasan untuk Eze, gelandang bertahan Christian Norgaard juga bisa menjadi opsi saat buntu. Umpan-umpan Norgaard lebih berani dibandingkan dengan Zubimendi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/01/14ba9d303f32fe025844e32a535fdc86-wires_photo_2026_02_01T023942.446.jpg)
Di sisi lain, Wolves akan berkutat dengan isu kebugaran pemain. Mereka baru bermain versus Grimsby Town pada Minggu lalu di Piala FA. Tim asuhan Pelatih Rob Edwards itu menggunakan nyaris seluruh pemain terbaik. Berbeda dengan Arsenal yang merotasi delapan pemain inti. ”Itu akan menjadi laga yang sangat berbeda, tetapi kami siap untuk itu,” kata Edwards.
Jika menang, Arsenal akan menambah keunggulan jadi tujuh poin atas tim peringkat kedua Manchester City. Sementara itu, Wolves akan semakin tersudut jika gagal mendulang poin. Wolves baru mengoleksi sembilan poin dengan 12 pertandingan tersisa. Mereka membutuhkan setidaknya 19 poin untuk keluar dari zona degradasi. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto