Terdampak efisiensi anggaran, para perenang Indonesia mengeluarkan dana pribadi untuk kualifikasi Kejuaraan Dunia Akuatik 2025. Mereka berbekal tekad berlipat.
13 Mar 2025 07:42 WIB · Olahraga
Sembari kepala menengadah menghadap dinding kolam, I Gede Siman Sudartawa mendorong badannya dengan bantuan tolakan kaki. Perenang Indonesia dengan spesialiasi nomor 50 meter gaya punggung ini menyempurnakan teknik start pada sesi terakhir latihan di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (10/3/2025).
Ini adalah bulan keempat Siman dan 29 perenang lain menjalani pemusatan latihan nasional renang. Ketika pertama kali namanya dipanggil ke pelatnas pada November 2024, Siman mengaku terkejut. Pelatnas digelar dengan target utama prestasi di SEA Games 2025.
Sementara itu, SEA Games di Thailand baru akan digelar Desember 2025. Artinya, terdapat waktu persiapan yang panjang untuk ajang tersebut. Meski demikian, hal itu pula yang membuat Siman senang. Sebab, menurut Siman, jangka waktu yang panjang itu cukup ideal untuk menyiapkan segala sesuatu dengan matang demi meraih prestasi.
“Untuk persiapan yang jauh-jauh hari seperti ini sangat bagus. Kami juga jadi seperti tim besar yang solid. Selama saya di pelatnas, kayanya baru kali ini disiapkan lebih dari setahun dan atlet-atletnya satu suara,” ucap Siman yang sudah debut di SEA Games sejak edisi Jakarta-Palembang 2011.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/427688b2-c0c2-458d-9c59-23ef6eb072f5_jpg.jpg)
Namun, kebahagiaan Siman mulai memudar ketika pada akhir Januari, kabar pemangkasan anggaran dari pemerintah mulai mengemuka. Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo, dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR pada pertengahan Februari mengungkapkan, pagu anggaran Kemenpora pada APBN tahun anggaran 2025 menjadi Rp 1,03 triliun. Artinya, terdapat pemangkasan anggaran sebesar Rp 1,29 triliun atau 55,59 persen dari pagu definitif tahun anggaran 2025 sebanyak Rp 2,3 triliun.
Nasib pelatnas renang pun terancam karena cabang olahraga turut terdampak kebijakan pemangkasan anggaran. Gaji atlet renang juga belum dibayar sejak Januari. Puncaknya, mereka harus merogoh kocek pribadi untuk bisa berangkat ke 55th Singapore National Age Group Swimming Championships.
Padahal, ajang tersebut merupakan salah satu kejuaraan kualifikasi untuk Kejuaraan Dunia Akuatik 2025 yang juga digelar di Singapura. Indonesia baru meloloskan satu perenang, Felix Viktor Iberle, yang ikut kualifikasi lebih dulu di Malaysia pada Februari. Siman akan berangkat ke 55th Singapore National Age Group Swimming Championships bersama 24 perenang Indonesia lainnya.
“Kami sempat berembuk membicarakan bersama, apakah mau berangkat, mau sendiri-sendiri, atau mau seperti apa. Semua serempak menjawab ingin berangkat dan tinggal satu hotel bersama,” ujar Siman.
“Kenapa memutuskan berangkat, karena kami ingin melihat hasil latihan sejak November itu sudah sejauh mana. Kami kan berlatih sudah berapa bulan, tetapi belum diuji di perlombaan. Kami ingin lihat apakah sudah memenuhi target apa belum, selain tentunya juga untuk mengejar ke Kejuaraan Dunia,” tutur perenang veteran Indonesia ini.
Sejauh ini, Siman masih merupakan perenang Indonesia yang mencatatkan prestasi terbaik di Kejuaraan Dunia senior. Siman melaju ke semifinal nomor 50 meter gaya punggung pada Kejuaraan Dunia 2017 di Budapest, Hongaria.
Pada babak semifinal, Siman mencetak rekor nasional, yakni 25,04 detik. Namun, perenang yang mewakili Indonesia di Olimpiade London 2012 ini ini akhirnya finis di urutan 15 dari 16 atlet.
Keinginan untuk bisa mencatatkan hasil serupa atau bahkan lebih baik masih ada dalam hati Siman. Jika bisa tampil apik di Singapura, baik kualifikasi maupun saat Kejuaraan Dunia, target utama di SEA Games pun niscaya akan terpenuhi. Tekad itu pula yang menjaga motivasinya kendati situasi tidak pasti.
Hal serupa disampaikan oleh perenang spesialis jarak jauh, Azzahra Permatahani. Perenang yang mewakili Indonesia di Olimpiade Paris 2024 ini ingin melihat hasil latihan berbulan-bulan dengan ikut kejuaraan di Singapura. Menurut Zahra, sejauh ini latihan sudah berjalan dengan baik dan telah menunjukkan perkembangan.
Namun, hasil latihan itu tetap perlu diuji dengan perlombaan. Tak hanya untuk bahan evaluasi, keikutsertaan di 55th Singapore National Age Group Swimming Championships ini juga sekaligus ajang pembuktian.
“Kalau hasilnya bagus, pengurus dan pemerintah, kan, pasti melihat bahwa ini tuh layak untuk diteruskan dan seharusnya jadi lebih mendukung. Sebagai atlet tentunya berharap pelatnas tidak terputus. Ini sudah dimulai dengan bagus, sudah jauh-jauh hari, dan idealnya menurut saya memang seperti ini,” ucap Zahra.
Kepala pelatih timnas renang Indonesia, Albert C Sutanto, mengatakan, para atlet menunjukkan progres selama pelatnas. Situasi dalam tim juga kondusif dan solid sehingga bisa mendorong pencapaian prestasi. Maka, Albert berharap pelatnas tidak dibubarkan.
Saat ini, pelatnas renang tetap bisa berjalan karena ditalangi oleh Akuatik Indonesia. Federasi juga turut membantu dalam biaya pendaftaran untuk ke 55th Singapore National Age Group Swimming Championships.
Kata Felix, tim kepelatihan dan federasi berusaha meyakinkan Kemenpora bahwa walaupun ada efisiensi anggaran, paling tidak para atlet tetap diberikan kesempatan untuk menguji hasil latihan sejak November.
“Atlet sudah menunjukkan komitmennya dengan mau mengeluarkan dana pribadi untuk melihat progres mereka, tanpa kepastian akan diganti atau tidak. Mereka berjuang di latihan dan berjuang untuk bisa ikut kejuaraan. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah juga mau memberi dukungan,” tutur Albert.
Albert mengatakan, pihaknya telah memberikan beberapa opsi kepada pemerintah soal keberlangsungan pelatnas. Mulai dari pelatnas untuk atlet-atlet yang berpotensi untuk Olimpiade hingga hanya fokus pada SEA Games. Namun, yang pasti, kata Albert, pelatnas sebisa mungkin harus tetap berlanjut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/c7880565-c3ab-4d2d-8249-2c392c54dfcf_jpg.jpg)
“Kalau dipulangkan dan pelatnasnya terputus-putus, agak susah untuk membalikkan lagi kondisinya. Harus mulai lagi dari awal. Kami ada opsi desentralisasi, tetapi problemnya ada pada sparring partner yang belum merata, akan susah nantinya untuk memacu atlet agar latihan lebih keras,” ujar mantan perenang Indonesia yang pernah berlaga di Olimpiade Sydney 2000 dan Olimpiade Athena 2004 ini.
Di tengah gelombang ketidakpastian, para perenang Indonesia terus mengayuh mimpi mereka dengan tekad yang tak surut. Mereka tak sekadar berenang melawan arus di kolam, tetapi juga melawan keterbatasan yang mengadang di luar kolam dengan perjuangan ganda.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .