Perjuangan Melawan Badai Ketidakpastian dari Pusat Pelatihan Kerja Ibu Kota

Lebih baik meningkatkan keahlian daripada hanya menunggu keberpihakan pemerintah. Itu dilakukan sebagian warga Jakarta menghadapi badai ketidakpastian ekonomi.

21 Mar 2025 19:27 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

Hari-hari sebagian orang berada dalam ketidakpastian. Salah satunya pemicu disebut kurang berpihaknya kebijakan pemerintah untuk warga. Daripada hidup makin sulit, sebagian warga Jakarta memilih meningkatkan keahliannya.

Muhammad Putra (22), menatap lekat layar komputer di hadapannya. Terpampang storyboard (papan cerita) yang harus segera diisi. Papan cerita itu berisi rangkaian sketsa untuk alur sebuah film.

"Kami akan membuat film pendek. Saya pilih tema korupsi," ujar Putra di Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Pusat, Jumat (21/3/2025) sore.

Lulusan S1 jurusan Film dan Broadcasting ini hendak membuat film tentang korupsi waktu. Topik ini menurutnya sangat relevan dengan kebiasaan banyak orang.

Sering menunda pekerjaan, sekalipun itu penting. Kemudian, tergesa-gesa menuntaskannya sehingga kurang maksimal.

Ah, hampir semua manusia di Bumi ini memilih melakukan hal itu. Namun, banyak pula yang susah payah mencoba meninggalkan kebiasaan buruk itu.

Putra, misalnya, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut kelas pelatihan desain multimedia. Kelas berlangsung Februari dan berakhir April nanti.

Materinya tentang desain grafis, produksi video iklan, penggunaan kamera, pencahayaan, hingga pembuatan papan cerita.

"Selain belajar, saya memperluas jaringan dan mengasah keterampilan. Semuanya penting untuk bertahan di dunia kerja, terutama industri kreatif," kata Putra.

Ia butuh kemampuan itu untuk menghadapi dunia kerja di tengah badai pemutusan hubungan kerja (PHK). Apalagi lowongan kerja kian terbatas tapi butuh persyaratan tinggi.

Situasi ini menyadarkannya bahwa dunia kerja semakin kompetitif. Namun, bukan berarti tidak bisa dihadapi.

"Saya harus terus belajar dan siap beradaptasi. Jangan menyerah hanya karena kebijakan pemerintah kurang berpihak," tutur Putra. Ia enggan berkomentar banyak tentang kebijakan pemerintah yang ia maksud.

Berdaya dari rumah

Di kelas pelatihan lain, ada Eliana Putri (31). Ia dan peserta lain sedang membuat konten video.

Ibu rumah tangga ini memilih konten video tentang makanan. Alasannya sederhana. Dia suka dunia kuliner.

"Saya lulusan D3 Perpajakan. Setelah berhenti kerja dan berumah tangga, saya mulai tertarik membuat konten," ujar Eliana.

Ia membuat kanal Youtube dan konten video di Instagram sejak pandemi Covid-19. Sayangnya, channel milik dia belum berkembang sesuai harapan karena kurang pengetahuan tentang kreator konten.

Peserta kelas desain multimedia di Pusat Pelatihan Kerja Daerah Jakarta Pusat, Jumat (21/3/2025).

Akhirnya, Eliana memutuskan mengikuti pelatihan di PPKD Jakarta Pusat. Ia mengambil kelas content creator (pembuat konten). Dia berharap bisa lebih memahami cara membuat konten yang menarik maupun penyebarluasannya.

"Jadi kreator konten itu enggak harus kerja di perusahaan. Dari rumah pun bisa menghasilkan uang," kata Eliana.

Ia ingin menambah pendapatan keluarga karena lapangan pekerjaan semakin berkurang. Lulusan D3 sepertinya paling tidak harus melanjutkan pendidikan ke jenjang D4 atau S1.

Kebutuhan untuk itu belum masuk prioritas. Sebab, masih ada keperluan sehari-hari yang harus dipenuhi.

"Ekonomi sedang tidak stabil, harga-harga terus naik, saya rasa ikut pelatihan seperti ini sangat membantu untuk bertahan di tengah kondisi sulit," ucap Eliana.

Kondisi sulit saat ini, kata Eliana, karena pemerintah kurang fokus pada kebutuhan warga. Beberapa kebijakan yang belum urgen justru menjadi prioritas, seperti menambah staf khusus dan pembahasan undang-undang.

Daripada melakukan hal tersebut, sebaiknya kualitas PPKD ditingkatkan. Durasi pelatihan ditambah dari 45 hari jadi minimal tiga bulan. Begitu juga jumlah instruktur dan spesialisasinya.

Dengan peningkatan ini, Eliana yakin PPKD bakal lebih efektif membantu peserta pelatihan menemukan dan mengembangkan potensi diri. Alhasil, bisa lebih siap menghadapi dunia kerja atau berwirausaha.

Suasana salah satu kelas pelatihan di Pusat Pelatihan Kerja Daerah Jakarta Pusat, Jumat (21/3/2025).

Tambah yakin

PPKD juga menambah keyakinan warga sebelum masuk ke bursa kerja. Ada modal sertifikat berstandar Badan Nasional Sertifikasi Profesi sebagai nilai lebih.

Jemari Rizky (29) juga masih lincah menari. Sore itu, ia sedang merampungkan tugas mengolah basis data dengan Javacript, salah satu bahasa pemrograman. Tugas ini bagian dari kelas pelatihan web programming.

Lulusan SMA ini ikut pelatihan untuk menambah keahlian. Pelatihan itu juga bekal melamar kerja setelah kontraknya habis akhir 2023.

"Sudah kirim banyak lamaran. Sayangnya belum mendapat panggilan hingga saat ini. Pas ada pelatihan, saya ikut untuk memperbesar peluang kerja," kata Rizky.

Sebelumnya, ia belajar dari bootcamp. Pelatihannya intensif sesuai kebutuhan industri.

Pelatihan kerja berbasis kompetensi di PPKD ini merupakan salah satu upaya pemerintah mengurangi pengangguran. Di Jakarta, hal ini berjalan di tujuh pusat pelatihan kerja berbasis program unggulan kewilayahan.

Tujuh PPKD itu, Jakarta Pusat khusus bidang teknologi Informasi dan komunikasi, Jakarta Selatan (tata graha atau perhotelan), dan Jakarta Timur (otomotif), Jakarta Utara (alat berat), dan Jakarta Barat (tata boga). Selain itu, ada Pusat Pelatihan Kerja Pengembangan Industri bidang industri dan Pusat Pelatihan Kerja Khusus Pengembangan las.

PPKD Jakarta Pusat, misalnya, mempunyai 18 kelas. Masing-masing kelas menerima 20 peserta. Total, ada 360 peserta setiap gelombang pelatihan.

Jumlah ini sebenarnya masih jauh dari ideal. Alasannya, ada 1.000-2.000 pendaftar di setiap gelombang pelatihan.

Seorang pencari kerja mengambil brosur lowongan pekerjaan di salah satu stan perusahaan yang mengikuti bursa kerja di Mall Tamini Square, Jakarta, Rabu (26/2/2025). Pemerintah DKI Jakarta akan menggelar bursa kerja di tingkat kecamatan satu bulan sekali. Diharapkan adanya bursa kerja di setiap kecamatan membuat warga mudah mendapatkan akses peluang kerja. Pemerintah DKI Jakarta pun berjanji akan menciptakan 500.000 lowongan kerja di Jakarta. Selain lowongan pekerjaan di dalam negeri, nantinya bursa kerja akan memberikan informasi lowongan pekerjaan dari luar negeri. Target penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri tahun ini mencapai 425.000 orang. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 26-02-2025

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi DKI Jakarta Hari Nugroho memastikan, sudah ada perubahan signifikan di setiap PPKD. Selain renovasi gedung, dilakukan perbaikan sarana dan prasarana, peralatan, serta kerja sama dengan perusahaan untuk kesesuaian antara tenaga kerja dan dunia usaha.

Dulu, dari 1.000 peserta pelatihan hanya 20 persen yang terserap. Ke depannya, ditargetkan serapan paling tidak mencapai 75 persen dengan ada PPKD dan upaya lainnya.

Dengan begitu, harapannya bisa memperbesar harapan warga untuk mendapat pekerjaan atau terhindar dari PHK. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 77.965 orang di-PHK sepanjang 2024. Jakarta berada di urutan pertama dengan 17.085 orang di-PHK.

Tahun 2025 tidak jauh berbeda. Sebanyak 3.325 orang di-PHK. Paling banyak di Jakarta dengan 2.650 orang di-PHK.

Badai pasti berlalu, entah cepat atau lambat. Bagi sebagian warga menambah keahlian jadi bekal agar tetap bertahan di tengah ketidakpastian badai ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari