Biasanya THR mampir sebentar, lalu ludes untuk berbagai keperluan Lebaran. Kini warga mulai berhemat untuk hidup seusai hari raya.
21 Mar 2025 08:58 WIB · Metro
Momen pencairan tunjangan hari raya atau THR selalu dinanti. Banyak keperluan Lebaran yang bisa ditutupi dari tunjangan ini. Namun, kini sebagian orang memilih mengerem pengeluaran agar dana tetap bersisa untuk hidup usai hari Raya.
Lina Fadliah (34), duduk di belakang kemudi bus gandeng Transjakarta. Ia menghela napas sebelum menunjukkan kemampuan mengemudi di Pool Mayasari Bakti Klender, Jakarta Timur.
Ibu satu anak ini lebih bersemangat dari biasanya. Sebab, Kamis (20/3/2025) sore itu kabar baik tiba. THR sebesar satu kali gaji akhirnya cair. Ia pun bisa menjawab isi kepala yang sudah dipenuhi oleh keperluan Lebaran dan biaya mudik ke kampung halaman di Jawa Tengah.
“THR pastinya buat keperluan keluarga. Baju Lebaran, jajanan, dan lainnya,” kata Lina sambil tersenyum.
Tahun ini pramudi—sebutan bagi sopir Transjakarta, ini beruntung. Ia kebagian jatah mudik gelombang pertama.
Dua hari sebelum Lebaran, Lina dan suami akan berangkat ke Jawa Tengah. Keduanya menyusul anak semata wayang yang tinggal di kampung bersama orangtua.
Jika biasanya naik kereta. Kali ini keduanya memilih naik mobil. “Biar lebih hemat, sekalian bisa bawa banyak oleh-oleh,” ujar Lina.
Hemat saja ternyata belum cukup. Lina masih harus cermat membagi THR agar tetap ada sisa untuk kebutuhan setelah Lebaran.
Ia harus membatasi pengeluaran. Jika tahun lalu membeli banyak pakaian baru, sekarang harus lebih selektif. "Secukupnya saja, satu atau dua potong. Makanan juga jangan sampai lapar mata (mubazir)," ujar Lina.
Sore itu tak hanya Lina. Rekan-rekannya yang lain juga penuh senyum setelah perusahaan mencairkan THR kepada 1.002 pramudi sesuai imbauan Pemprov DKI Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/0cedf126-5277-3ec6-8a45-e8153fbad0b3_jpg.jpg)
Bambang Sugianto (53), salah satunya. Baginya, THR adalah jembatan penghubung dengan keluarga di kampung. “Keluarga di kampung pasti menunggu kiriman,” ucap Bambang.
Bambang masuk dalam gelombang kedua mudik. Ia akan merayakan Idul Fitri di Jakarta sebelum pulang ke Bandung, Jawa Barat.
“Kalau dulu THR bisa buat banyak keperluan, sekarang harus lebih hemat. Harus menyesuaikan diri,” kata Bambang.
Bukan tanpa alasan. Harga kebutuhan pokok melonjak sehingga harus ada simpanan untuk kebutuhan sehari-hari. “Tahun lalu biasa belanja sampai Rp 1 juta, sekarang mungkin cukup Rp 500.000,” kata Bambang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/14/3d53c94b-12ce-4eeb-bdc0-1f469807c508_png.png)
Tak semua orang bisa tersenyum lebar seperti Lina dan Bambang. Banyak orang di luar sana berusaha menikmati momen Lebaran dengan penuh syukur di tengah situasi yang tidak baik-baik saja.
Muhammad Ridwan (28), warga Jakarta, misalnya, merayakan Lebaran sambil berusaha mencari pekerjaan baru setelah dua bulan menganggur. Dulu ia bekerja sebagai sopir pribadi untuk seorang warga negara Korea Selatan.
Ketika majikannya pulang kampung, Ridwan mau tidak mau harus mencari pekerjaan baru. "Kalau masih sendiri mungkin nggak terlalu dipikirin, tapi sekarang saya harus lebih serius mencari kerja," kata Ridwan.
Ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak berusia 2,5 tahun. Keluarganya butuh pemasukan untuk menyambung hidup sehari-hari.
Kalau dulu THR bisa buat banyak keperluan, sekarang harus lebih hemat. Harus menyesuaikan diri
Sambil menunggu peluang pekerjaan tetap, Ridwan mencoba peruntungan sebagai mitra pengemudi Bluebird. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang Rp 200.000. "Sedikit bukan soal, asal ada uang belanja dan beli susu," ujar Ridwan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/53d2b776-f5de-4d3b-b345-68ca49404ac3_png.png)
Di sisi lain jumlah pemudik diperkirakan turun 24 persen. Ini berdasarkan hasil Survei Potensi Pergerakan Nasional oleh Kementerian Perhubungan.
Survei menunjukkan, jumlah pemudik pada Idul Fitri 1446 H mencapai 146,48 juta orang atau sekitar 52 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah ini lebih kecil dari proyeksi 193,6 juta pemudik yang melakukan perjalanan pada 2024.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang menyebut, jumlah perputaran uang selama libur Lebaran 2025 turun seiring dengan turunnya jumlah pemudik. Jika dibandingkan dengan 2024, perputaran uang saat Lebaran 2025 diperkirakan turun 12,28 persen (Kompas, 18 Maret 2025).
”Jika asumsi perputaran uang selama Idul Fitri 2024 mencapai Rp 157,3 triliun, asumsi perputaran uang selama Idul Fitri 2025 diprediksi mencapai Rp 137,97 triliun. Prediksi tersebut dihitung dari jumlah pemudik tahun ini sejumlah 146,48 juta atau setara dengan 36,26 juta keluarga dengan asumsi per keluarga empat orang,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (18/3/2025).
Lebaran kali ini sepertinya banyak warga yang ingin berhemat. Mereka memperkirakan kondisi ekonomi tak akan mudah usai hari raya tahun ini. Semoga itu tidak benar-benar terjadi.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .