Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Jumlah Penganggur Meledak

Lesunya konsumsi masyarakat yang memengaruhi perlambatan pada pertumbuhan ekonomi semakin terbebani oleh bayang-bayang meningkatnya jumlah penganggur.

05 Mei 2025 15:05 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS — Adanya stagnasi pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I-2024. Perlambatan ini turut dibayangi kenaikan jumlah penganggur yang semakin mengancam pelemahan konsumsi masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan pada triwulan I-2025 adalah 4,87 persen. Pertumbuhan ini lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi secara tahunan pada triwulan I-2024 yang sebesar 5,11 persen.

Berdasarkan catatan BPS, ekonomi Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) pada triwulan I-2025 atas dasar harga berlaku adalah Rp 5.665,9 triliun. Sementara PDB atas dasar harga konstan adalah Rp 3.264,5 triliun.

Dalam konferensi pers yang berlangsung secara hibrida pada Senin (5/5/2025), Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 ditopang oleh pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga dan ekspor, yang masing-masing tumbuh secara tahunan sebesar 4,89 persen dan 6,78 persen.

”Komponen pengeluaran yang tumbuh tinggi adalah ekspor, didorong oleh kenaikan nilai ekspor nonmigas dan kunjungan wisatawan mancanegara. Kemudian konsumsi rumah tangga tumbuh didorong adanya momen Ramadhan dan liburan Idul Fitri di akhir Maret 2025,” ujarnya.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2025 sejalan dengan adanya stagnasi pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2025 berbanding pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2024.

Perkembangan Ekonomi Indonesia secara triwulanan.

BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2025 tumbuh 4,89 persen secara tahunan. Sementara pada triwulan I-2024, pertumbuhan tahunan konsumsi rumah tangga tercatat sedikit lebih tinggi, di level 4,91 persen.

Secara historis, konsumsi rumah tangga memang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumsi rumah tangga umumnya menyumbang proporsi besar terhadap PDB, yaitu pada kisaran 53-56 persen. Khusus triwulan I-2025, konsumsi rumah tangga menyumbang proporsi terhadap PDB sebesar 54,53 persen.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menilai, peningkatan konsumsi rumah tangga selalu berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi. Jika terdapat perlambatan atau stagnasi pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga, maka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan mengalami perlambatan.

Distribusi komponen penopang produk domestik bruto (PDB) triwulan I-2025.

Perlambatan kinerja konsumsi masyarakat, lanjut Josua, sebelumnya telah terindikasi dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2025 yang menunjukkan pelemahan indeks pendapatan dan pembelian barang tahan lama, terutama dari kelompok pendapatan menengah bawah. ”Kondisi ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap daya beli,” ujarnya.

Stagnasi pada pertumbuhan konsumsi masyarakat sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pertumbuhan belanja pemerintah secara tahunan yang pada triwulan I-2025 terkontraksi 1,38 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan belanja pemerintah pada triwulan I-2024 yang secara tahunan melonjak 20,44 persen.

Menurut Josua, kontraksi belanja pemerintah tersebut tecermin dalam realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2025 yang mencapai 17,1 persen dari pagu belanja tahunan.

”Masih relatif rendahnya penyerapan belanja negara ini turut menjadi faktor pelemahan agregat permintaan dan aktivitas sektor publik meskipun pemerintah mencatat surplus keseimbangan primer sebesar Rp 17,5 triliun,” ucapnya.

Mesin satu-satunya yang cukup kuat adalah ekspor barang dan jasa yang tumbuh 6,78 persen secara tahunan pada triwulan I-2025. Josua melihat pertumbuhan kuat ekspor ditopang penghiliran dan ekspor manufaktur bernilai tambah. 

Peningkatan angka pengangguran

Lesunya konsumsi masyarakat semakin terbebani dengan bayang-bayang meningkatnya jumlah penganggur. BPS mencatat angka pengangguran Indonesia bertambah 83.000 orang dibandingkan Februari 2024 menjadi 7,28 juta orang pada Februari 2025.

”Angkatan kerja tidak semua terserap di pasar kerja sehingga terdapat jumlah orang yang menganggur sebanyak 7,28 juta orang,” kata Amalia.

Struktur ketenagakerjaan Indonesia hingga Februari 2025.

Secara umum, penduduk usia kerja Indonesia pada Februari 2025 mencapai 216,79 juta orang, meningkat 2,79 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 153,05 juta orang masuk dalam kategori angkatan kerja atau naik 3,67 juta orang dari Februari 2024.

Adapun jumlah penduduk yang bekerja mencapai 145,77 juta orang, bertambah 3,59 juta orang dari periode sama tahun sebelumnya. Secara rinci, pekerja penuh meningkat menjadi 96,48 juta orang (naik 3,21 juta orang), pekerja paruh waktu 37,62 juta orang (naik 820.000 orang), dan setengah pengangguran turun menjadi 11,67 juta orang (berkurang 440.000 orang).

Ekonom dari Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menambahkan, lonjakan angkatan kerja yang tidak sepenuhnya diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja menyebabkan peningkatan jumlah penganggur pada periode tersebut.

Ia menambahkan, jumlah penganggur yang terus meningkat imbas maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dipastikan akan menambah tekanan terhadap ekonomi. Itu karena daya beli masyarakat bakal melemah dan memperlambat konsumsi domestik yang menjadi mesin utama pertumbuhan perekonomian.

Daya beli yang melambat juga akan mengakibatkan perusahaan kesulitan menjual produk dan jasa mereka, yang pada akhirnya bisa menyebabkan gelombang PHK lebih besar.

Menurut dia, pemerintah harus mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk bantuan sosial, yang bisa memperlebar defisit APBN dan meningkatkan beban utang negara. Ketika pengangguran meningkat, stabilitas keamanan juga berpotensi terganggu karena semakin banyak orang kehilangan sumber pendapatan.

Quote

Stagnasi pada pertumbuhan konsumsi masyarakat sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pertumbuhan belanja pemerintah secara tahunan yang pada triwulan I-2025 terkontraksi 1,38 persen.

”Ketidakstabilan sosial akan semakin nyata jika kelas menengah yang terancam turun ke kelas bawah mulai kehilangan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan investasi masa depan,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini diperkirakan tetap sekitar 5 persen. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2025.

Adapun Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2025 merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen, turun dari prediksi sebelumnya sebesar 5,1 persen. Koreksi ini dilakukan seiring meningkatnya ketegangan perang dagang akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti