Permintaan Batubara 2025 Diperkirakan Masih Tinggi

Di sisi lain, peningkatan nilai tambah dari "emas hitam" tersebut coba terus diupayakan.

01 Des 2024 09:23 WIB · Ekonomi

Oleh Aditya Putra Perdana

Dengan cadangan melimpah, batubara masih menjadi salah satu penopang energi di Indonesia, khususnya terkait ketenagalistrikan. Di tengah berbagai tuntutan transisi dari fosil ke energi terbarukan, permintaan batubara, baik domestik maupun ekspor, diperkirakan masih tinggi pada 2025.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA), badan usaha milik negara (BUMN) pertambangan Indonesia, misalnya, memprediksi adanya pertumbuhan positif dari sisi bisnis tahun depan. Di sisi lain, peningkatan nilai tambah dari ”emas hitam” tersebut terus diupayakan.

Mengutip data PTBA, total penjualan batubara pada Januari-September 2024 mencapai 31,28 juta ton atau naik 16 persen secara tahunan. Adapun ekspor batubara PTBA sebesar 14,29 juta ton, atau naik 27 persen secara tahunan. Sementara realisasi pemenuhan kebutuhan dalam negeri (DMO) sebesar 16,98 juta ton atau tumbuh 8 persen secara tahunan.

Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra, dalam media gathering di Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/11/2024) malam, mengatakan, secara outlook, pihaknya optimistis menatap 2025 meski pihaknya belum menyebutkan target tahun depan. ”Paling utama tetap dari domestik. Sebab, kami lihat pasca-Covid-19 ini, permintaan listrik terus tumbuh,” katanya.

Sementara untuk ekspor, PTBA tengah fokus mencari pasar baru pada negara-negara dengan pertumbuhan permintaan batubara yang masih tinggi, antara lain Vietnam dan Filipina. Pasar yang sudah ada seperti India dan Thailand juga tetap dipertahankan.

Niko menuturkan, produksi batubara nasional memang meningkat drastis, bahkan melebihi 700 juta ton pada 2023. Menurut Niko, tumbuhnya permintaan juga mendongkrak penerimaan negara. ”Sebab, di satu sisi, negara masih membutuhkan pemasukan dari ekspor. Itu untuk memastikan perdagangan jangan sampai defisit,” lanjut Niko.

Tampak tongkang pengangkut batubara di sekitar North Pulau Laut Coal Terminal (NPLCT) batubara milik PT Arutmin Indonesia di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Kamis (26/10/2023). Batubara yang diutilisasi di NPLCT saat ini sekitar 5,3 juta ton per tahun, antara lain untuk dikirimkan ke sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan ekspor. Adapun lima tambang batubara Arutmin yang beroperasi di Kalsel yang Tambang Senakin, Asam Asam, Kintap, Satui, dan Batulicin.

Sementara di sisi domestik, pertumbuhan pasti bakal naik. ”Salah satunya karena ada program 3 juta rumah (oleh pemerintah). Juga (permintaan) dari semen dan pupuk. Dari listrik, PLN, juga sudah naik. Kemudian, di tatanan global, dengan terpilihnya (Donald) Trump (sebagai presiden AS), tampaknya masih akan relatif baik bagi industri batubara,” lanjutnya.

Saat ini, total sumber daya batubara PTBA ialah sebesar 5,85 miliar ton serta total cadangan tertambang 3,02 miliar ton. Adapun izin usaha pertambangan (IUP) PTBA, antara lain, seluas 40.347 hektar di Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan; 2.935 hektar di Ombilin, Sumatera Barat; dan 18.230 hektar di Peranap, Indragiri Hulu, Riau.

Sebelumnya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk juga mencatatkan hal positif pada semester I-2024, yakni peningkatan penjualan batubara sebesar 7 persen, menjadi 34,94 juta ton. Akan tetapi, ada penurunan revenue sebesar 15 persen, seiring melemahnya harga batubara.

Presiden Direktur dan CEO Adaro Garibaldi Thohir, dalam keterangan persnya, pada Agustus 2024, menuturkan, kendati ada sejumlah tantangan, Adaro tetap berkomitmen untuk unggul dalam operasionalisasi maupun efisiensi. Pihaknya pun fokus pada pelaksanaan proyek dalam rangka menjadikan visi jangka panjang Adaro menjadi sesuatu yang bernilai bagi pemegang saham.

infografik Potensi Batubara Permukaan di Indonesia

Catatan Trading Economics, kendati dinamis, harga batubara saat ini masih mampu dijaga di atas 130 dollar AS per ton. Dalam penutupan perdagangan pada 28 November 2024, harga batubara 139 dollar AS per ton. Harga batubara diperkirakan pada 144 dollar AS per ton pada akhir triwulan IV-2024. Sementara dalam 12 bulan ke depan diprediksi mencapai 150 dollar AS per ton.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi produksi batubara nasional pada 2023 mencapai 775,2 juta ton atau melebihi target yang 694,5 juta ton. Capaian produksi itu melanjutkan tren peningkatan setelah 564 juta ton pada 2020, lalu naik menjadi 614 juta ton pada 2021, kemudian menjadi 687 juta ton pada 2022.

Adapun pemanfaatan batubara untuk keperluan domestik pada 2023 sebanyak 213 juta ton atau di atas target yang 177 juta ton. Artinya, dari semua batubara yang diproduksi, sekitar 75 persen diekspor dan sisanya, 25 persen, digunakan untuk domestik.

Penugasan

Terkait hilirisasi batubara, sebagaimana disampaikan dalam sejumlah pemberitaan media, Presiden Prabowo Subianto kembali mendorong pengembangan dimetil eter (DME) sebagai substitusi elpiji. Sebelumnya sudah diinisiasi kerja sama antara PTBA, perusahaan asal AS Air Products, dan PT Pertamina (Persero). Namun, Air Products lantas mundur dari proyek tersebut.

Mengenai hal itu, Niko menuturkan, jika memang masih mendorong DME sebagai produk turunan batubara, PTBA akan membutuhkan penugasan dari pemerintah. Di sisi lain, PTBA tengah mengembangkan produk turunan batubara lainnya. Salah satunya ialah menjadi lembar anoda (anode sheet), yang kemudian menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik (EV).

Kapal tongkang yang mengangkut batubara melintas di Sungai Mahakam, di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (25/12/2023).

Peneliti Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Akmaluddin Rachim, Sabtu (30/11/2024), menuturkan, Bank Dunia sebenarnya memprediksi adanya penurunan konsumsi batubara pada 2025 dan 2026. Namun, tetap ada optimisme di dalam negeri bahwa permintaan batubara masih akan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

”Hal ini karena terkait kebutuhan China dan India, yang dipandang akan menggantikan permintaan dari Eropa dan AS. Hal itu menunjukkan bahwa kebutuhan energi fosil, seperti batubara, masih tinggi dan sulit tergantikan secara cepat. Yang pasti, proyeksi batubara pada tahun 2025 mesti diarahkan pada kebutuhan ketahanan energi nasional,” ujar Akmaluddin.

Ia menambahkan, tingginya produksi batubara juga harus diarahkan untuk peningkatan nilai tambah produk tambang tersebut. Baik menjadi DME, yang bisa mensubstitusi elpiji, maupun jenis energi lainnya. Itu juga dalam rangka meningkatkan ketahanan energi nasional.

”Juga agar terjadi keseimbangan, mendukung swasembada energi, serta guna keperluan riset. Jadi, tak serta-merta diekspor begitu saja. Skala ekspornya perlu dikurangi agar terjadi keseimbangan untuk kebutuhan dalam negeri,” kata Akmaluddin.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta