Permintaan komoditas pangan untuk program MBG memicu lonjakan harga barang kebutuhan pokok di Bandung. Masyarakat mengeluh.
19 Nov 2025 15:47 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Fabio Maria Lopes Costa
BANDUNG, KOMPAS — Permintaan pasokan komoditas pangan dalam mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis atau MBG di Bandung, Jawa Barat, pada tahun ini tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat terdampak lonjakan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok, seperti telur dan daging ayam ras.
Pada sejumlah pasar tradisional di Bandung, para pedagang merasakan langsung dampak kenaikan harga sejumlah komoditas pokok. Salah satunya di Pasar Kosambi, Kota Bandung.
Permintaan bahan pangan yang meningkat untuk kebutuhan program MBG membuat harga di tingkat agen ataupun pedagang eceran terus terdongkrak. Reno Ardiansah (40), pedagang ayam potong di Pasar Kosambi, mengatakan, harga ayam terus mengalami kenaikan sejak April lalu.
Reno kini menjual 1 kilogram (kg) daging ayam seharga Rp 42.000. Sebelum ada program MBG, harganya per kg masih senilai Rp 38.000.
”Harga daging ayam ras per kg sekarang sudah mencapai Rp 42.000 atau naik Rp 4.000 setelah adanya program MBG,” kata Reno.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/30cd5aeb672e6d7ab6723ab0dad4b25c-IMG_20251119_114342_1.jpg)
Kenaikan harga tersebut langsung berdampak pada jumlah pembelian yang menurun drastis. Dalam sehari, Reno biasanya menjual hingga 80 ekor ayam. Kini, dia hanya mampu menjual 50-60 ekor ayam per hari.
Ayam yang dijual Reno berasal dari beberapa daerah, seperti Lembang, Bandung Barat, untuk ayam broiler dan Tasikmalaya untuk ayam pejantan.
”Para pembeli mengeluhkan harga ayam yang mahal. Mereka pun terpaksa mengurangi konsumsi daging ayam,” ungkapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/9e42c2720c79d620473779128f3579de-IMG_20251119_113905.jpg)
Sementara itu, Nana (64), pedagang telur di kawasan Kosambi, merasakan hal serupa. Ia menjual telur ayam ras per kg kepada konsumen Rp 31.000 hingga Rp 32.000. Sebelum terjadi kenaikan, ia menjual per kg telur di kisaran Rp 28.000-Rp 29.000.
”Kenaikan harga telur di tingkat pedagang eceran karena dipicu tingginya harga telur di pedagang grosir setelah program MBG berjalan. Saat ini harga telur per kg di tingkat grosir mencapai Rp 27.300,” ujar Nana.
Nana menuturkan, dirinya sulit meraih keuntungan harian karena lonjakan harga yang signifikan. Dagangannya sering kali baru habis terjual dua sampai tiga hari.
Ia berharap pemerintah meninjau kembali kebijakan yang berdampak kepada pedagang kecil. ”Harapannya, program MBG jangan sampai menyulitkan pedagang kecil. Kami modalnya sedikit, jualan pun susah,” imbuhnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/c008694e894e3d74a987399c3719592c-IMG_20251119_113123.jpg)
Rosa (51), warga Kelurahan Merdeka, Kota Bandung, menilai, kenaikan harga sejumlah barang kebutuhan pokok sejak adanya MBG sangat membebani masyarakat. Sebagai pekerja swasta, Rosa merasakan langsung dampaknya dalam beberapa bulan terakhir.
”Harga seperempat kilo daging ayam sudah mencapai Rp 20.000. Biasanya paling mahal saya beli Rp 15.000,” katanya.
Rosa berharap pemerintah mengkaji ulang pelaksanaan program tersebut. ”Kalau boleh memilih, berhenti (MBG) saja dulu. Masih ada orangtua sanggup membekali anak ke sekolah. Lebih baik fokus ke sekolah gratis, soalnya biaya sekolah sekarang mahal,” tuturnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi isu kenaikan harga dengan menekankan pentingnya menyesuaikan produksi pangan dengan kebutuhan pasar. Menurut Dedi, tingginya permintaan komoditas pangan untuk MBG harus diimbangi dengan peningkatan produksi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/05/31b0f1ccf8800e2bc0d7ca5aad4999e6-IMG_20251105_130347.jpg)
”Jumlah ikan, daging, telur, sayur, hingga beras harus semakin banyak. Pemerintah perlu membuka ruang investasi di bidang pertanian dan mendorong masyarakat meningkatkan produktivitas tanaman pangan,” katanya.
Pengamat ekonomi Universitas Pasundan, Bandung, Acuviarta Kartabi, menilai, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dalam beberapa pekan terakhir erat kaitannya dengan peningkatan permintaan komoditas pangan untuk program MBG.
Ia menyebut bahwa gejala kenaikan harga sudah terlihat sejak Oktober, terutama pada komoditas telur, daging ayam ras, dan cabai rawit.
Dampaknya terhadap inflasi cukup signifikan.
Menurut Acuviarta, efek program MBG terhadap pasar muncul dalam dua bentuk. Pertama, dampak langsung peningkatan permintaan. Kedua, munculnya spekulasi harga oleh sebagian pelaku pasar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/17/8e2001fc22f35df7d95df8ee290075d6-IMG_20250717_WA0100.jpg)
”Ada pedagang atau distributor yang menaikkan harga dengan alasan stok berkurang. Di beberapa tempat stok benar-benar menipis, tapi ada juga yang memanfaatkan momentum,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kondisi ini berpotensi memicu inflasi, baik di Jawa Barat maupun secara nasional. Diketahui inflasi di Jawa Barat secara tahunan atau year on year pada Oktober 2025 mencapai 2,63 persen. Angka ini masih di bawah angka inflasi secara tahunan di tingkat nasional yang mencapai 2,86 persen.
Komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi antara lain emas perhiasan sebesar 0,22 persen, telur ayam ras 0,08 persen, cabai merah 0,06 persen, daging ayam ras 0,05 persen, dan jeruk 0,02 persen.
”Dampaknya terhadap inflasi cukup signifikan. Bulan Oktober kemarin komoditas yang paling mendorong inflasi itu emas perhiasan, tapi untuk telur, daging ayam, dan beras, saya kira tekanan harganya masih akan berlanjut,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/24/ab6cf70674b897e9f91e5a9705da28da-20251024AGS.jpg)
Acuviarta menilai pemerintah perlu segera mengevaluasi kebijakan pengendalian harga dan memperkuat koordinasi distribusi antarwilayah untuk mencegah kelangkaan di titik-titik tertentu.
”Kenaikan harga tahun ini semakin terasa karena kombinasi tingginya permintaan program MBG, distribusi yang belum merata, serta potensi spekulasi di tingkat pelaku usaha,” tambahnya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti