LIGA INGGRIS

Permisi, Ini Waktunya Sprint Kemenangan Manchester City

City akan memasuki 12 laga terakhir di Liga Inggris. Tiada tim yang lebih baik dibandingkan mereka saat memasuki fase akhir liga itu. Duet Rodri-O’Reilly jadi kunci.

20 Feb 2026 19:10 WIB · Olahraga

AFP/PAUL ELLIS

Oleh Kelvin Hianusa

MANCHESTER, JUMAT — Jika Liga Inggris diibaratkan lari maraton, maka Manchester City layak dinobatkan sebagai pelari jarak jauh terbaik. City, di era Manajer Pep Guardiola, tidak pernah mengendur jelang garis finis. Mereka selalu menancap gas saat para pesaingnya mulai kewalahan.

Pesona daya tahan dan mentalitas skuad City kembali terlihat jelang akhir musim ini. Tertinggal sembilan poin dari tim favorit juara Arsenal, mereka kini berpotensi menipiskan jarak menjadi dua poin jika menang atas Newcastle United di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, Minggu (22/2/2026) pukul 03.00 WIB.

Arsenal masih berada di puncak klasemen, tetapi City sudah menggenggam takdir juara di tangan sendiri. Dengan 12 pertandingan tersisa, tim asuhan Guardiola itu bisa memastikan gelar seandainya menyapu bersih semua laga dengan kemenangan. Adapun City dan Arsenal masih akan bertemu di pertengahan April.

Nico O’Reilly, gelandang City, berkata, pembicaraan soal gelar juara mulai semarak di ruang ganti tim. ”Pastinya kami membicarakan tentang itu. Bagi kami, tujuan utama saat ini adalah mendapatkan tiga poin di setiap laga dan terus menekan Arsenal. Hanya itu yang bisa kami lakukan,” ujarnya.

Jangan pernah meragukan Erling Haaland dan rekan-rekan ketika mendekati garis akhir. Sejarah membuktikan, mereka selalu mampu melaju kencang di fase akhir kompetisi. Lihat saja dalam empat musim terakhir, mereka mampu menghasilkan rerata 30 poin dari maksimal 36 poin di 12 laga pamungkas.

Arsenal's William Saliba pulls Manchester City's Nico O'Reilly during the Premier League soccer match between Arsenal and Manchester City in London, Sunday, Sept. 21, 2025. (AP Photo/Kin Cheung)

Bahkan, ketika sedang mengalami turbulensi performa terhebat dalam situasi transisi, yaitu musim 2024-25, City masih mampu menciptakan 27 poin (8 menang, 3 seri, 1 kalah) dalam 12 laga terakhir. Tren tersebut melampaui semua tim di liga, termasuk sang juara, Liverpool.

Menariknya, di musim 2022-23 dan 2023-24, City berhasil menjadi juara setelah melakukan sprint jelang garis finis. Mereka berturut-turut menyalip Arsenal yang tiba-tiba keteteran. Situasi serupa diupayakan diulang oleh ”The Citizens” pada musim ini. Mereka memiliki kapabilitas untuk mengulang sejarah itu.

Tren kebangkitan City di pengujung musim telah menjadi pola. Hal itu bisa terjadi karena kebiasaan sang manajer yang senang mencoba banyak hal baru dalam paruh pertama musim. Setelah puas bereksperimen, Guardiola baru menentukan formula terbaik yang akan digunakan untuk fase akhir musim.

Quote

Newcastle selalu kesulitan bertandang ke markas klub besar, khususnya ke Stadion Etihad.

Di musim ini, City mulai melaju kencang karena sudah menemukan stabilitas di lini tengah. Gelandang peraih Ballon d’Or, Rodri, sudah kembali dari cedera dan bisa bermain reguler. Rodri memang belum menampilkan performa terbaik seusai cedera panjang, tetapi Guardiola bisa mengakali hal itu.

O’Reilly, yang berposisi asli bek sayap, ditugaskan untuk mendampingi Rodri di lini tengah dalam beberapa pekan terakhir. Alhasil, Rodri tidak perlu lagi mengatasi ancaman transisi lawan seorang diri. Energi besar O’Reilly yang masih berusia 20 tahun mampu melengkapi pengalaman sang gelandang veteran.

Newcastle's Anthony Gordon celebrates after scoring his fourth goal during the Champions League play-off first leg soccer match between Qarabag and Newcastle in Baku, Azerbaijan, Wednesday, Feb. 18, 2026. (AP Photo)

Adapun peran bek sayap dikembalikan kepada Rayan Ait-Nouri. ”Rodri sangat hebat. Semua yang dia lakukan sangat rapi. Suatu kehormatan bisa bermain di sampingnya. Bermain di sampingnya dan belajar darinya setiap hari, bahkan saat latihan, itu sangat membantu saya,” ujar O’Reilly.

Gangguan Newcastle

Di atas kertas, City bisa mengatasi Newcastle dengan mudah. Newcastle memang pernah menaklukkan City dalam pertemuan pertama di kandang sendiri, tetapi konteks laga ini jauh berbeda. Tim asuhan Eddie Howe itu selalu kesulitan bertandang ke markas klub besar, khususnya ke Stadion Etihad.

Terbukti, dalam 16 pertemuan terakhir kedua tim di Stadion Etihad, City selalu menjadi pemenang. The Citizens bahkan menaklukkan Newcastle, 3-1, dengan menggunakan tim lapis kedua saat terakhir kali bertemu di semifinal kedua Piala Liga Inggris, sekitar dua pekan lalu.

Newcastle hanya bisa berharap pada momentum positif yang didapatkan dari tiga laga tandang terakhir. Mereka menang beruntun atas Tottenham Hotspur, 2-1 (liga domestik); Aston Villa, 3-1 (Piala FA); dan Qarabag FK, 6-1 (Liga Champions). Menurut Howe, penampilan versus Qarabag merupakan yang terbaik sepanjang musim ini.

Tim tamu kemungkinan kembali mengandalkan eksperimen yang berakhir di kandang Qarabag, tengah pekan lalu. Howe memainkan formasi 4-2-3-1 dengan penyerang sayap Anthony Gordon sebagai ujung tombak. Hasilnya sangat efektif, Gordon mencetak quattrick hanya dalam 46 menit.

Gordon enggan berpuas diri. Dia mengincar empat kemenangan beruntun di Stadion Etihad. ”Seperti yang saya katakan, sepak bola adalah olahraga yang penuh dengan pasang surut emosi. Jadi, kami tidak boleh terlalu larut dalam euforia, tidak boleh berpuas diri, tidak boleh terlalu percaya diri. Kami hanya perlu terus bekerja keras,” katanya. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti