Perpustakaan Susul Taman-taman Kota Jakarta Buka hingga Tengah Malam

Perpustakaan di Jakarta buka hingga tengah malam untuk meningkatkan akses dan manfaat bagi warga.

02 Mei 2025 15:14 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

JAKARTA, KOMPAS — Jam operasional perpustakaan di bawah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan diperpanjang hingga pukul 23.00 WIB. Kebijakan ini menyusul bakal diperpanjangnya operasional taman hingga pukul 22.00 WIB dan 24 jam.

Langkah tersebut diambil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan akses pada fasilitas pendidikan, seperti perpustakaan, taman, dan museum. Ini sekaligus komitmen menciptakan keadilan sosial di bidang pendidikan.

”Perpustakaan akan kami buka hingga malam, mungkin sampai pukul 10 atau 11. Kami akan segera melaksanakannya karena ini bagian dari upaya memberikan pendidikan dan kesempatan kepada anak-anak yang membutuhkan,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Jumat (2/5/2025).

Biasanya perpustakaan buka hingga pukul 17.00 WIB saat hari kerja, kemudian sampai pukul 20.00 WIB pada akhir pekan.

Dilansir dari laman resmi Pemprov DKI Jakarta, hingga akhir tahun 2023 terdapat 2 perpustakaan umum daerah, 213 taman bacaan masyarakat, 11 perpustakaan rumah susun, 6 kantor perpustakaan dan arsip/kabupaten, 4 perpustakaan lembaga pemasyarakatan, 12.766 judul buku digital, dan sejumlah perpustakaan swasta lainnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta per 2024, Pemprov DKI Jakarta mengelola 646 perpustakaan. Jumlah itu belum termasuk perpustakaan swasta.

Wajah perpustakaan di Jakarta mulai berubah lebih menarik. Misalnya saja di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Keadaannya berbeda 180 derajat setelah revitalisasi dan peresmian kembali pada 7 Juli 2022.

Lantai 3 Perpustakaan Cikini, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat tak pernah sepi pengunjung.

Dari semula hanya ramai saat akhir pekan dengan jumlah pengunjung 300 orang, setelah revitalisasi, perpustakaan ini dipadati pengunjung. Perpustakaan tumbuh menjadi ruang ketiga, tempat destinasi warga untuk ragam aktivitas, seperti belajar, berkarya, dan bertumbuh.

Rerata pengunjung harian, Senin-Kamis, sebanyak 980 orang, sementara pada akhir pekan, Jumat-Minggu, mencapai 2.230 orang (Kompas, 21/10/2023).

Jumlah tersebut dua kali lipat dari daya tampung perpustakaan. Daya tampungnya 450 orang dengan dukungan 250 kursi baca dan 120 di aula.

Sama halnya dengan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di Jakarta Selatan. Perpustakaan menjadi salah satu daya tarik.

Rata-rata pengunjung di hari kerja sekitar 100 orang, sementara saat akhir pekan bisa lebih dari 300 orang (Kompas, 25/4/2023).

Pengunjung menggunakan perpustakaan publik di kompleks Taman Literasi Martha Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (5/1/2025). Gubernur Jakarta terpilih Pramono Anung berencana membuka sejumlah taman di Jakarta 24 jam sebagai salah satu bentuk program 100 hari kerjanya. Warga berharap taman nantinya tidak dijadikan tempat tidur tunawisma seperti di luar negeri. Pada tahap awal, Pramono menjelaskan akan ada lima taman di Jakarta yang beroperasi selama 24 jam diantaranya Taman Langsat, Taman Literasi dan Taman Banteng. Penambahan jam operasional taman hingga 24 jam ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat untuk bertemu dan juga ruang untuk berekspresi. Sejumlah infrastruktur dan akses transportasi untuk menunjang wacana penambahan jam operasional taman-taman di Jakarta ini sudah disiapkan. Diantaranya lampu dan kamera CCTV, serta ketersediaan lapangan parkir kendaraan, kemudahan diakses transportasi publik, serta memiliki ruang untuk mengekspresikan diri. Pembukaan taman selama 24 jam ini tidak membebani Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Jakarta. Rencana ini akan memanfaatkan dana Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari sejumlah perusahaan. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Tak berjarak

Peneliti sosiologi pendidikan Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Anggi Afriansyah, menyebut, setidaknya ada tujuh hal yang patut dipenuhi seiring kebijakan tersebut. Pada dasarnya perpanjangan operasional akan memberi kesempatan pengunjung untuk mengoptimalkan fungsi perpustakaan.

Quote

Perpustakaan bukan sekadar tempat meminjam buku, melainkan juga ruang pertemuan atau sosialisasi warga kota.

Meski begitu, koleksi yang dilengkapi harus mempertimbangkan kategori demografis penduduk, mulai dari usia dini hingga warga lansia. Tujuannya agar semua kategori usia dapat datang ke perpustakaan.

”Perpustakaan bukan sekadar tempat meminjam buku, melainkan juga ruang pertemuan atau sosialisasi warga kota. Fasilitas penunjang perpustakaan harus dibuat senyaman mungkin, seperti ruang-ruang pertemuan, toilet, kantin, dan lainnya, juga harus disediakan sesuai dengan masa perpanjangan waktu,” ucap anggota Dewan Pakar Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) itu.

Pemerintah juga wajib menyediakan fasilitas untuk kelompok warga disabilitas dan warga lansia agar kian mudah mengakses layanan perpustakaan, di samping juga memenuhi aspek keamanan, seperti penerangan dan petugas keamanan yang memadai demi keselamatan warga kota.

Pengunjung membaca buku di Perpustakaan Jakarta di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jumat (13/9/2024). Lebih dari 500 orang mengunjungi perpustakaan ini setiap harinya.

Selain itu, sosialisasinya mesti masif sehingga banyak warga memanfaatkan perpustakaan.

”Tak kalah penting ialah perpustakaan lebih dekat dengan warga. Minimal perpustakaan hadir di kelurahan dan bisa diakses oleh warga. Membaca merupakan bagian dari kebudayaan yang harus dibangun secara struktural oleh pemerintah,” ucap Anggi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar