Final BWF World Tour di China menjadi panggung persaingan pebulu tangkis pada akhir tahun. Ajang ini menjadi pengukuhan atlet terbaik dari yang terbaik.
16 Des 2025 13:38 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Menjelang pergantian tahun, sebagian atlet bulu tangkis masih disibukkan dengan turnamen. Final BWF World Tour di Hangzhou, China, 17-21 Desember, bahkan akan menjadi kejuaraan dengan persaingan epik karena hanya diikuti atlet-atlet terbaik sepanjang 2025.
Turnamen yang setiap tahunnya diselenggarakan pada akhir musim kompetisi ini diikuti delapan wakil di setiap nomor. Setiap negara bisa mengikutsertakan maksimal dua wakil pada setiap nomor.
Tiket untuk turnamen dengan total hadiah Rp 50 miliar ini didapat setiap atlet berdasarkan perfoma mereka pada turnamen BWF World Tour sepanjang 2025. Nilai dihitung dari hasil terbaik dalam 14 turnamen antara pekan kedua dan ke-47 pada 2025 ditambah dari tiga turnamen pada pekan ke-48 hingga 50 di 2024.
Berdasarkan akumulasi poin tersebut, atlet-atlet terbaik pun berkumpul di Hangzhou. Indonesia memiliki lima wakil dari empat nomor, kecuali di ganda putri. Mereka adalah Jonatan Christie (tunggal putra), Putri Kusuma Wardani (tunggal putri), Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri (ganda putra), dan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu (ganda campuran).
Semua peserta memulai persaingan dari fase penyisihan dengan format round robin dalam dua dua grup. Dua peringkat terbaik dari setiap grup berhak melanjutkan perjalanan ke semifinal.
Skuad Indonesia menjadi bagian dari persaingan level tinggi, termasuk ketika harus bertemu pemain yang dinobatkan sebagai pebulu tangkis terbaik 2025 pada acara makan malam di Hangzhou, Senin (15/12/2025) malam. Putri bahkan akan bertemu dengan tunggal putri terbaik tahun ini, An Se-young, pada penyisihan Grup A.
An mendominasi persaingan dengan sepuluh kali menjadi juara dari 14 turnamen. Putri tak pernah menang dalam tujuh pertemuan dengan atlet Korea Selatan tersebut. Bukan hanya oleh Putri, An sangat sulit dikalahkan atlet lain. Dia seolah berlari sendirian tanpa pesaing yang bisa mengimbanginya dengan konsisten.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/20/2a318283-afa9-4047-b9a5-039c5252559f_jpg.jpg)
Tantangan berat juga akan dijalani saat berhadapan dengan Akane Yamaguchi, atlet Jepang yang selalu mengalahkan Putri dalam enam pertemuan. Peluang Putri untuk menang lebih besar pada pertemuan dengan atlet Jepang lainnya, Tomoka Miyazaki, berdasarkan statistik pertemuan 3-3 bagi keduanya.
Selain lawan kelas berat, tantangan lain bagi Putri adalah dirinya sendiri karena dia harus menjaga kondisi fisik dan fokus setelah tampil di SEA Games Thailand. Putri bertanding pada nomor beregu dan tunggal putri dalam persaingan yang berlangsung 7-14 Desember. Dia meraih perak bersama rekan-rekannya di beregu dan perunggu perorangan karena kalah dari Supanida Katethong (Thailand).
”Banyak pengalaman dari SEA Games untuk Final BWF. Saya harus memulihkan badan dan pikiran dulu karena undian di grup tidak mudah bagi saya,” ujar Putri menjelang keberangkatan menuju China dari Thailand.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/a5f142c64c03fe3cd07f73d4de90bcf0-WhatsApp_Image_2025_12_12_at_11.33.39.jpeg)
Bersama Miyazaki, Putri menjadi ”murid baru” dalam turnamen Final BWF. Sementara, pesaing mereka di grup pernah merasakan menjadi juara dalam turnamen elite tersebut. An menjadi juara pada 2021 dan Yamaguchi pada tahun berikutnya. Maka, Putri seharusnya bisa memanfaatkan debut dalam turnamen ini dengan sikap tanpa beban seperti ketika dia mencapai semifinal Kejuaraan Dunia di Paris, Perancis, Agustus.
Pola pikir serupa bisa menjadi modal bagi debutan lainnya, Jafar/Felisha. Apalagi, pasangan berusia 22 dan 20 tahun itu tertinggal dalam statistik pertemuan dari dua pasangan di Grup B. Jafar/Felisha kalah dalam satu pertemuan sebelumnya dengan Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping (China) dan tertinggal 0-5 dari juara dunia asal Malaysia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei.
Jafar/Felisha, juara Taiwan Terbuka Super 300 dan finalis Australia Terbuka Super 500, memiliki keunggulan atas satu pasangan lain, yaitu Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie (Malaysia). Pasangan ranking kesembilan dunia itu menang dalam pertemuan di Kejuaraan Asia dan China Terbuka.
Dengan status sebagai pasangan termuda di pelatnas utama ganda campuran, Jafar/Felisha memiliki potensi untuk mencapai level kemampuan dan prestasi lebih tinggi. Dari persaingan pada turnamen BWF World Tour tahun ini, pekerjaan rumah mereka adalah bisa bermain lebih maksimal dan konsisten ketika bertemu ganda elite dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/8fb536850581ff0dbb5c09c28cc4e6ff-WhatsApp_Image_2025_12_12_at_13.20.30.jpeg)
Berdasarkan data pertemuan melawan sembilan pasangan dengan ranking di atas mereka, Jafar/Felisha tertinggal dari pemain berperingkat empat besar, yaitu Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin (0-2), Feng/Huang (0-1), Chen/Toh (0-5), dan Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran (0-3).
”Main di sini, tidak ada lawan yang enteng. Ini bagus bagi kami karena bisa menambah pengalaman. Jadi, kami mau belajar dan memberikan hasil terbaik,” komentar Jafar.
Bagi tiga wakil lain, Final BWF World Tour edisi kedelapan (pada 2008-2017 bernama Final BWF Super Series) menjadi kesempatan untuk mencapai hasil lebih baik dari partisipasi sebelumnya.
Jonatan lolos ke Final BWF untuk kelima kali setelah 2019, 2022-2024, tetapi belum pernah menembus laga puncak. Setelah tersingkir pada penyisihan grup 2019, Jonatan selalu dijegal lawan pada semifinal dalam tiga tahun terakhir. Dia kalah dari Viktor Axelsen pada semifinal 2022, lalu Shi Yu Qi (2023), dan disingkirkan Anders Antonsen (2024).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/9d7b111b77a25340e2eea8affe60c835-Denmark_Badminton_Open.jpeg)
Tunggal putra Indonesia ranking kelima dunia itu akan membawa modal tiga kali juara (Korea Terbuka, Denmark Terbuka, Hylo Terbuka) dari lima turnamen terakhir sebelum Final BWF setelah melewati masa sulit. Pada periode Maret-September, Jonatan kalah pada dua babak awal dalam enam turnamen.
Keunggulan dari Antonsen (7-5) dan Kunlavut Vitidsarn (8-5) juga bisa menjadi hal positif bagi Jonatan meski dia tertinggal 0-1 dari Christo Popov. Setelah kalah pada babak pertama Australia Terbuka, November, Jonatan memiliki waktu persiapan cukup panjang karena dia menolak tawaran tampil di SEA Games.
Pengalaman merasakan persaingan Final BWF juga akan dibawa Sabar/Reza dan ganda putra lainnya, Fajar/Fikri, ketika berpasangan dengan pemain lain. Sabar/Reza mencapai semifinal pada 2024 sebelum dihentikan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen. Tiket Final BWF World Tour pada 2025 pun menjadi buah dari kerja keras mereka sebagai atlet independen yang berlatih di luar pelatnas.
Sabar/Reza melalui perfoma naik-turun pada Janauari-Oktober. Mereka mencapai semifinal All England dan final Indonesia Terbuka berlevel Super 1000, tetapi berkali-kali pula tersingkir sebelum mencapai perempat final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/c26b25a28a4c3115049e4e9197e8aa2a-WhatsApp_Image_2025_12_14_at_19.05.26.jpeg)
Namun, ganda putra ranking kedelapan dunia itu memilliki momen positif yang bisa dibawa, setidaknya, untuk mengalahkan tiga pasangan di Grup A pada fase awal, yaitu Chiu Hsiang Chieh/Wang Chi Lin (Taiwan), Man Wei Chong/Tee Kai Wun (Malaysia), dan ganda putra terbaik dunia, Kim Won-ho/Seo Seung-jae (Korea Selatan). Sabar/Reza mencapai perempat final Perancis Terbuka, final Hylo Terbuka, semifinal Australia Terbuka, dan meraih dua medali emas SEA Games dari nomor beregu putra dan ganda putra.
Mereka bisa menjaga rasa percaya diri melalui momen-momen tersebut karena ganda putra selalu menjadi nomor dengan persaingan paling ketat dalam setiap turnamen. Semua peserta dalam setiap turnamen memiliki peluang setara untuk menjadi juara.
Hal itu pula yang ditunjukkan Fajar/Fikri. Mereka menjadi ganda putra yang merebut tiket terakhir meskipun Final BWF bukan merupakan turnamen yang asing. Fajar/Fikri lolos ke Final BWF dengan poin ranking yang didapat pada periode Juli-November, lebih pendek dari peserta lain yang mendapat poin sejak akhir 2024.
Sejak debut di Jepang Terbuka, Juli, Fajar/Fikri tampil dalam delapan turnamen. Mereka lima kali mencapai final, meski hanya satu gelar yang didapat, yaitu dari China Terbuka Super 1000. Persentase kemenangan 80 persen sejak Juli menjadi yang kedua terbaik di antara peserta lain di Final BWF. Fajar/Fikri hanya kalah dari Kim/Seo yang memiliki persentase kemenangan 94,2 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/27/280fe2593168fc7a7ab8c401aa22cc72-AFP_76XX2YW.jpg)
Maka, meskipun Final BWF ini bagaikan ”turnamen bonus”, Fajar/Fikri tetap memiliki peluang melangkah lebih jauh dibandingkan hasil terbaik mereka saat berpasangan dengan pemain lain. Fajar, saat bermain bersama Muhammad Rian Ardianto, selalu tersisih pada semifinal 2022-2024, sedangkan Fikri kalah pada penyisihan grup 2023 bersama Bagas Maulana.
”Tentu ini menjadi pengalaman baru bermain di Final BWF bersama pasangan berbeda. Semoga, bersama Fikri, saya bisa memberikan yang terbaik dan hasilnya bisa lebih baik dari sebelumnya,” kata Fajar.
Konsistensi performa Fajar/Fikri selama enam bulan berpasangan salah satunya terlihat dari hasil pertemuan mereka dengan tiga pasangan yang akan menjadi lawan di Grup B. Fajar/Fikri unggul 2-0 atas Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), menang dalam satu pertemuan dengan Chirag Shetty/Satwiksairaj Rankireddy (India), dan unggul 3-0 atas Liang Wei Keng/Wang Chang (China).
”Peluang selalu ada, tinggal bagaimana kami memanfaatkannya. Semua pemain yang ada di sini adalah yang terbaik. Jadi, tidak ada pertandingan mudah. Fokus kami adalah berusaha tampil sebaik mungkin,” ujar Fikri.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan