Alwi Farhan meraih emas tunggal putra melalui final sesama atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Total, Indonesia meraih tiga emas dari bulu tangkis.
14 Des 2025 19:45 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
PATHUM THANI, MINGGU — Tiga medali emas diraih tim bulu tangkis Indonesia dari SEA Games Thailand 2025. Salah satunya dari final sesama pemain Indonesia pada tunggal putra yang bisa membuka kesempatan bagi sektor tersebut untuk berprestasi lebih baik.
Tiga emas dari persaingan yang berlangsung di Gymnastic 4 Universitas Thammasat Kampus Rangsit, Pathum Thani, Thailand, 7-14 Desember didapat dari sektor putra, yaitu beregu putra, tunggal putra, dan ganda putra. Gelar juara yang diraih Alwi Farhan dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani melalui final yang berlangsung Minggu (14/12/2025), menambah emas dari beregu putra yang didapat empat hari sebelumnya.
Alwi, Sabar/Reza, dan Mohammad Zaki Ubaidillah yang dikalahkan Alwi dalam final tunggal putra menjadi atlet-atlet yang juga menentukan emas beregu putra. Adapun wakil lain yang tampil di final, yaitu Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari, kalah dari ganda putri Malaysia, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan, dengan skor 16-21, 21-19, 17-21.
Total tiga emas, tiga perak, dan empat perunggu membuat tim bulu tangkis Indonesia unggul atas negara lainnya, termasuk Thailand dan Malaysia yang turun dengan kekuatan penuh. Malaysia, yang diperkuat atlet peringkat lima besar dunia pada ganda putra, putri, dan campuran, hanya mendapat satu emas dari target empat emas.
Sementara itu, Indonesia mengandalkan atlet yang sebagian besar di antaranya merupakan pemain muda berusia 18-21 tahun meski pada menit-menit akhir menjelang SEA Games memasukkan nama atlet senior, Gregoria Mariska Tunjung dan Sabar/Reza.
Tidak gampang untuk berada di sini, tapi saya bisa bertahan. Ternyata, Alwi bisa melangkah jauh. Saya tidak menduga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/b37607baf4f53416990efc8ed7e6ced0-FAK_7717.jpg)
Seperti dikatakan Alwi dalam masa persiapan SEA Games, Indonesia harus percaya diri dengan kekuatan atlet-atlet muda. Alwi dan Zaki menunjukkan itu dengan menciptakan final sesama Indonesia di tunggal putra.
Pada pertandingan di antara dua atlet yang setiap harinya berlatih bersama di pelatnas Cipayung, Jakarta, tersebut, Zaki bermain lebih taktis pada gim pembuka. Setelah itu, Alwi bermain lebih baik pada dua gim berikutnya hingga menang 13-21, 21-8, 21-12. Alwi pun sesenggukan sambil bersujud setelah memastikan kemenangan.
”Tidak gampang untuk berada di sini, tetapi saya bisa bertahan. Ternyata, Alwi bisa melangkah jauh. Saya tidak menduga,” kata Alwi, mengungkapkan yang dia rasakan ketika menangis kepada wartawan Kompas, Fakhri Fadlurrohman.
Alwi mendapat emas pada SEA Games kedua setelah Kamboja 2023. Akan tetapi, dengan status sebagai tunggal putra ketiga di bawah Chico Aura Dwi Wardoyo dan Christian Adinata, Alwi tak sempat bermain meski terdaftar pada nomor beregu putra. Adapun pada kategori perorangan, Indonesia mengandalkan Chico dan Christian yang bertemu di final.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/b580a90f23de170c75dd2a55d178e406-FAK_7811.jpg)
Emosi Alwi pecah karena sebab lain. Dia mendapat pengalaman buruk di Australia Terbuka, 18-23 November, turnamen terakhir sebelum SEA Games. Alwi kalah dari Chou Tien Chen pada perempat final walaupun menciptakan lima match point. Dia pun merasa bersalah karena tunggal putra menjadi satu-satunya nomor yang tak punya wakil Indonesia di final. Pada akhirnya, Alwi bisa bangkit karena telah bertekad melupakan kekalahan tersebut begitu meninggalkan Australia dan bersiap untuk SEA Games.
Kemenangan di final semakin berarti karena Alwi mendapat kalungan medali emas dari Taufik Hidayat sebagai Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga. Taufik meraih emas tunggal putra SEA Games di Bandar Seri Begawan 1999 dan Nakhon Ratchasima 2007.
Pengalungan medali tunggal putra semakin spesial karena legenda bulu tangkis lainnya, Lee Chong Wei, juga terlibat. Alwi, yang tumbuh sebagai pebulu tangkis dengan melihat penampilan Taufik dan Lee, bahkan menyempatkan diri meminta foto bersama Lee.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/3ad246f5acff4ad59e78cffc56c146b5-FAK_7643.jpg)
Gelar juara dari penampilan terakhir pada 2025 diharapkan Alwi menjadi sumber motivasi untuk persaingan pada 2026. ”Final ini akan membuat jalan semakin terbuka meski dengan tantangan yang lebih berat,” kata atlet ranking ke-17 dunia tersebut.
Tak hanya bagi dirinya, Alwi juga berharap sektor tunggal putra meraih prestasi lebih baik pada 2026. Apalagi, dia melihat potensi besar dari Zaki yang berusia 18 tahun. ”Ubed (panggilan Zaki) bermain tidak seperti atlet berusia 18 tahun. Dia sudah seperti atlet top level,” katanya.
Zaki menargetkan level performanya bisa naik setelah momen final SEA Games. ”Saya ingin meng-update level agar bisa bersaing dengan senior,” katanya.
Pelatih tunggal putra, Indra Widjaja, pun bangga dengan terjadinya final sesama Indonesia pada sektor yang dipimpinnya, apalagi tunggal putra diperkuat dua pemain muda yang belum lama beranjak dari level yunior. Alwi, yang berusia 20 tahun, adalah juara dunia yunior 2023, sementara Zaki menjadi finalis Kejuaraan Dunia Yunior 2025.
Sebelum berangkat ke Thailand, Indra berpesan kepada atlet-atlet tunggal putra agar mereka bisa membayar kepercayaan dengan membuktikan diri bisa tampil baik, menunjukkan kemampuan semaksimal mungkin seperti yang sudah dilatih.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/c183340b9a02402263616a07b325ea4f-FAK_8083.jpg)
Ketika persaingan bulu tangkis dimulai pada 7 Desember, mantan atlet tunggal putra tersebut semakin optimistis, terutama kepada Alwi dan Zaki yang tampil pada nomor beregu. Mereka turut mengantarkan Indonesia meraih medali emas beregu putra dengan menyumbangkan poin pada kemenangan 3-0 atas Malaysia di final.
Zaki bahkan menyingkirkan dua unggulan yang memiliki lebih banyak pengalaman pada turnamen BWF di kategori perorangan. Dia menang atas unggulan teratas yang merupakan juara dunia 2021, Loh Kean Yew (Singapura), pada perempat final dan Leong Jun Hao (Malaysia) di semifinal.
Berdasarkan performa di SEA Games, Indra pun berharap tunggal putra muda Indonesia lebih siap jika dipercaya tampil pada ajang beregu 2026. Pada tahun tersebut akan ada Kejuaraan Asia Beregu, Piala Thomas, dan Asian Games. ”Saya ingin mereka bisa membuktikan diri, bisa membuat kejutan meski masih dalam proses pematangan,” kata Indra.
Alwi memulai perjalanan dalam turnamen BWF World Tour pada 2024. Pada 2025, dia mendapat kesempatan tampil lebih intens pada level Super 300 hingga 1000. Alwi baru bisa menjuarai turnamen Super 300, yaitu di Macau Terbuka, tetapi dia mendapat banyak pengalaman ketika bertemu atlet-atlet top dunia pada level lebih tinggi.
Sementara itu, Zaki yang masih tampil pada Kejuaraan Dunia Yunior pada Oktober berada pada tahap awal dalam merasakan persaingan BWF World Tour. Dia mendapat kesempatan tampil pada tujuh turnamen Super 300 dan 500 dengan hasil terbaik perempat final Taiwan Terbuka dan Korea Masters Super 300.
Sabar/Reza tak menunggu lama untuk menjadikan dua emas SEA Games sebagai sumber motivasi untuk terus berkembang. Setelah memenangi final, mereka langsung menuju Hangzhou, China, untuk bertanding dalam turnamen Final BWF World Tour.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/c26b25a28a4c3115049e4e9197e8aa2a-WhatsApp_Image_2025_12_14_at_19.05.26.jpeg)
Turnamen penutup rangkaian persaingan BWF World Tour tersebut diikuti delapan wakil terbaik dari setiap nomor berdasarkan performa atlet sepanjang tahun. Sabar/Reza menjadi salah satu dari lima wakil Indonesia pada turnamen tersebut selain Jonatan Christie, Putri Kusuma Wardani, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, dan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu.
”Semoga ini menjadi motivasi kami untuk tampil lebih baik ke depan. Kami akan langsung ke China dan akan fokus untuk pemulihan dulu mengingat pertandingan-pertandingan terakhir sangat melelahkan,” kata Sabar.
Sabar/Reza meraih emas pada partisipasi pertama di SEA Games meski mereka berusia 29 dan 27 tahun. Ganda putra ranking kedelapan dunia itu menjadi anggota tim SEA Games pada menit-menit akhir ketika PBSI melakukan pergantian atlet atas permintaan Kemenpora. Sabar/Reza tampil menggantikan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.
”Tentu saja kami senang. Masuk Tim SEA Games pada last minute, tapi bisa menyumbangkan medali terbaik,” kata Sabar setelah mengalahkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik, 21-14, 21-17.
Kemenangan atas ganda putra ranking kedua dunia itu menjadi yang kedua dalam sepekan terakhir bagi Sabar/Reza. Mereka mengalahkan juara dunia 2022 itu pada final beregu putra juga dengan performa meyakinkan dengan skor 21-12, 21-12.
Sepanjang pertandingan pada dua pertemuan tersebut, Sabar/Reza menerapkan strategi menyerang sejak awal dalam setiap perebutan poin. Siapa pun yang berada di depan lapangan langsung menekan lawan dengan smes atau dropshot. Chia/Soh pun kesulitan untuk mengembangkan permainan mereka. Sabar/Reza dan Chia/Soh bisa bersaing lagi di Final BWF paling cepat pada semifinal karena mereka berada pada grup berbeda di fase penyisihan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/75d59daddc5a4e7ff5f9b99472f0c1c0-WhatsApp_Image_2025_12_14_at_19.04.39.jpeg)
Tentang final ganda putri, Febriana mengatakan, persaingan berada pada intensitas tinggi. ”Sayang memang dengan yang terjadi pada gim ketiga, ini bukan hasil yang kami harapkan. Tapi, kami sudah berusaha, semaksimal mungkin kami berjuang. Ini jadi pelajaran untuk ke depan,” kata Febriana.
Dalam final antara sesama pemain Thailand, emas tunggal putri diraih Ratchanok Intanon yang mengalahkan Supanida Katethong, 21-19, 21-7. Adapun emas ganda putra menjadi milik Ruttanapak Oupthong/Jhenicha Sudjaipraparat yang menang atas Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran, 22-20, 21-19.
Klasemen akhir bulu tangkis
1. Indonesia 3 emas, 3 perak, 4 perunggu
2. Thailand 3, 2, 1
3. Malaysia 1, 2, 6
4. Singapura 0, 0, 2
5. Vietnam 0, 0, 1
Peraih Medali Tim Indonesia
Emas :
Beregu putra
Alwi Farhan (tunggal putra)
Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahelvi Isfahani (ganda putra)
Perak :
Beregu putri
Mohammad Zaki Ubaidillah (tunggal putra)
Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari (ganda putri)
Perunggu :
Putri Kusuma Wardani (tunggal putri)
Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana (ganda putra)
Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum (ganda putri)
Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu (ganda campuran)
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Yulia Sapthiani, Fakhri Fadlurrohman dari Bangkok, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra