Odekta, Irma, dan Pretty akan menyajikan warna kompetisi sendiri di kategori putri Borobudur Marathon. Mereka bersahabat di luar, tetapi tidak ketika di jalur lomba.
30 Nov 2024 19:19 WIB · Olahraga
MAGELANG, KOMPAS — Menjelang Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, panas api persaingan sudah terasa di kategori maraton putri nasional. Tiga perempuan super yang sudah berkali-kali mendominasi podium, kembali lagi tahun ini. Mereka adalah Odekta Elvina Naibaho, Irma Handayani, dan Pretty Sihite.
Ketiga pelari yang berteman dekat itu adalah ikon Borobudur Marathon. Pada edisi 2023, Odekta menembus peringkat ketiga kategori terbuka. Irma (juara) dan Pretty (pemenang kedua) mendominasi podium kategori nasional. Tidak ada pelari putri nasional yang melebihi catatan waktu mereka.
Persaingan sengit kembali terulang di Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024, September lalu. Odekta merebut emas, Irma meraih perak, sedangkan Pretty mendapat perunggu. ”Habis PON langsung lanjut Bomar. Istilahnya ini babak kedua karena podium (maraton) biasa itu-itu saja,” kata Odekta pada Sabtu (30/11/2024).
Mereka datang langsung mengikuti rapat teknis di Grand Artos Hotel and Convention Center, Magelang, Jateng, pada Sabtu sore. Para pelari elite diberikan informasi terkait lomba yang digelar pada Minggu pukul 04.30 WIB. Bara kompetisi sangat terasa dari keseriusan mereka dalam menanggapi hasil rapat.
Irma dan Odekta, duduk sebelahan, langsung menunjuk tangan ketika sesi pertanyaan dibuka. Mereka protes terkait penempatan botol minum spesial atlet elite di Kilometer 5-Kilometer 30. Menurut mereka, penempatan di Kilometer 5 tidak dibutuhkan dan berharap dipindah ke Kilometer 35. ”Lebih krusial menjelang finis,” kata Irma.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/19/d9f8d480-4423-4e16-bebe-b54d65d7e62f.jpg)
Sebelum Odekta, Irma merupakan pelari pertama yang bisa menembus podium kategori terbuka di Borobudur Marathon. Dia mencapai prestasi itu pada edisi 2019, saat menjadi pemenang ketiga. Adapun sejak Borobudur Marathon dikelola harian Kompas sejak 2017, baru Irma dan Odekta yang bisa menembus dominasi pelari asing.
Irma datang kembali tahun ini karena rindu dengan persaingan dan rute lomba. ”Ini bisa dibilang rute favorit aku. Rindu tanjakan 'landai' yang menyenangkan. Selain hadiah, cheering juga membuat jadi lebih semangat. Aku target bisa finis tiga jam pas,” kata pelari yang mencatat 3 jam 7 menit 41 detik pada tahun lalu itu.
Pada edisi terakhir, Odekta mampu finis dengan catatan 2 jam 52 menit 1 detik. Pelari pemusatan latihan nasional itu unggul belasan menit atas Irma dan Pretty. Meskipun begitu, hasil di lomba sebenarnya bisa berubah drastis. Odekta nyaris menyerah pada pertengahan lomba karena kram di kaki.
Irma berkata, sudah punya strategi khusus untuk lomba. ”Kami memang dekat, seperti soulmate, tetapi kalau pas lomba musuhan. Jadi, sudah ada strategi masing-masing. Kalau saya, tidak ada persiapan spesial. Hanya lebih berstrategi karena sudah tahu rute,” ujar pelari berusia 31 tahun tersebut.
Odekta membuka rahasia pertemanan dengan Irma dan Pretty. Mereka bisa sangat kompetitif saat lomba, tetapi langsung ”cair” lagi seusai finis. ”Kami selalu menekankan, kompetisi, ya, kompetisi, pertemanan, ya, pertemanan. Apalagi ini olahraga terukur, jadi profesional saja mengeluarkan kemampuan terbaik masing-masing,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/16/4d5c0ab2-17f6-4ffb-903c-778ccf9d4389.jpg)
Pretty, juara dua kali elite nasional putri edisi 2020 dan 2022, berpotensi mengejutkan. Persaingan dengan Irma juga akan berlangsung sengit. Dia hanya kalah 59 detik dari Irma pada edisi sebelumnya. Adapun pelari 27 tahun itu sempat mengalahkan Irma berturut-turut dalam edisi 2020 dan 2021.
Kesempatan lebih besar menanti Odekta. Dia kembali diunggulkan untuk bisa bersaing dengan para pelari asing. Tahun lalu, dia hanya terpaut kurang dari dua menit dibandingkan juara asal Kenya Sheila Chesang. Odekta tidak menargetkan juara, tetapi berjanji akan memberikan perlawanan jika ada peluang.
”Buat saya kompetisi itu tentang menantang diri. Siapa pun kompetitornya, orang Kenya atau cowok, juga tidak apa-apa asal bisa improve diri. Kalau mampu dan sedang fit, saya akan mencoba (bersaing dengan pelari asing). Saya tidak akan mencari aman. Saya tidak senang yang seperti itu, bukan tipe saya,” jelas Odekta.
Kekhawatiran terbesar dari ketiga wanita super itu adalah kondisi tubuh. Mereka belum berada dalam kebugaran 100 persen setelah bertarung di PON. Mereka sempat berlibur untuk memulihkan fisik dan mental, sebelum kembali bersiap menghadapi Borobudur Marathon.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/19/8cf2e667-7c57-4ce8-b142-2a3a2f7b3905_jpg.jpg)
Di kategori maraton putra, ambisi tinggi juga diperlihatkan oleh pelari nasional Rikki Martin Simbolin. Dia merupakan peraih juara nasional putra pada edisi 2023. ”Tahun lalu saya pertama kali ikut. Elevasinya ternyata tinggi. Tantangan sama tahun ini, tetapi saya sudah bersiap menghadapi pelari internasional dan menjadi juara lagi,” katanya.
Selama ini, kategori putra terbuka selalu didominasi oleh pelari internasional, terutama dari Kenya. Belum ada pelari Indonesia yang bisa menembus podium.
Ambisi Rikki untuk tampil lebih baik didukung dengan perkiraan cuaca jelang lomba. Suhu udara diperkirakan berkisar 29 derajat celsius, tidak sepanas tahun lalu yang mencapai 36 derajat celsius.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Nino Citra AnugrahantoEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase