Pertalite Hitam dan Menyengat, Warga Kendari Laporkan Dugaan Pengoplosan

Sejumlah kendaraan di Kendari mogok massal setelah mengisi bahan bakar Pertalite di SPBU Pertamina. Pertalite diduga dioplos karena berwarna hitam dan menyengat.

05 Mar 2025 09:58 WIB · Nusantara

Oleh Saiful Rijal Yunus

KENDARI, KOMPAS — Sejumlah kendaraan milik masyarakat di Kendari, Sulawesi Tenggara, mogok massal setelah pengisian bahan bakar Pertalite di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum wilayah ini. Pertalite diketahui berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau menyengat. Pertamina dan pihak terkait masih mendalami kejadian ini.

Pada Selasa (4/3/2025) malam, ratusan pengendara ojek daring secara bersamaan mengalami kerusakaan kendaraan. Motor yang baru saja diisi bahan bakar Pertalite tersebut bermasalah hingga tidak bisa dikendarai. Pengendara pun menguras tangki bahan bakar secara mandiri.

Nunung (43), salah seorang pengendara ojek daring, menuturkan, pada Selasa siang ia mengisi Pertalite di salah satu stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di Kendari sebanyak Rp 30.000. Ia rencananya kembali keliling untuk mencari penumpang.

Namun, tidak berselang lama, motornya mulai ”ngadat” dan sulit dikendarai. Motor juga berkali-kali mati saat sedang berjalan. ”Awalnya saya kira mesin motor saya bermasalah, tapi setelah lihat teman-teman yang lain juga sama. Dan, semuanya baru saja mengisi Pertalite di SPBU,” katanya.

Ia lalu menguras isi tangki bahan bakar kendaraannya. Setelah dikeluarkan, Pertalite yang baru saja dibeli tersebut tampak berwarna hijau gelap, tidak seperti warna Pertalite pada umumnya. Bau yang keluar juga sangat menyengat.

”Baunya seperti tiner, yang campuran cat,” kata Bara (37), pengemudi ojek daring lainnya. ”Motor saya juga sama, mogok setelah isi Pertalite,” ujarnya.

Sejauh ini, tutur Bara, ratusan hingga ribuan rekannya telah mengalami hal yang sama, utamanya setelah mengisi kendaraan dengan Pertalite. Mereka lalu bersama-sama ke Polresta Kendari untuk melaporkan kejadian itu.

Sebab, sebagai orang yang bekerja dengan mengandalkan motor, hal ini telah sangat merugikan dirinya. Selain rugi karena membuang bahan bakar, ia juga tidak tahu dampak jangka panjang yang bisa terjadi pada motornya.

”Harus diungkap apa sebenarnya yang terjadi. Karena bukan cuma di satu SPBU, tapi di banyak tempat pengisian. Jadi, apakah dari asalnya atau bagaimana? Apakah dioplos, dicampur sesuatu? Ini yang kami tidak tahu. Yang pasti ini bukan Pertalite yang biasanya,” tuturnya.

Atas kejadian ini, ratusan pengemudi ojek daring mendatangi Polresta Kendari. Mereka melaporkan kejadian ini dan menuntut adanya penyelidikan.

Pengendara menunjukkan Pertalite yang baru saja dikeluarkan dari motornya karena mogok, Selasa (4/3/2025) malam, di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ratusan pengendara mengalami mati mesin setelah mengisi bahan bakar Pertalite yang berwarna gelap dan berbau menyengat.

Ahmad (28), warga Kendari lainnya, juga merasakan hal yang sama. Beberapa saat setelah mengisi bahan bakar Pertalite, motornya lalu ”ngadat” dan sulit dikendarai. Hal itu baru ia alami kali ini.

”Saya sebelumnya isi Pertamax. Tapi, karena adanya kasus korupsi Pertamina, jadi isi Pertalite. Giliran ganti ke Pertalite, malah kena oplosan juga. Kacau betul,” ucapnya mengeluh.

Quote

Saya sebelumnya isi Pertamax. Tapi, karena adanya kasus korupsi Pertamina, jadi isi Pertalite. Giliran ganti ke Pertalite, malah kena oplosan juga. Kacau betul.

Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Fahrougi Andriani Sumampouw menuturkan, menyikapi dugaan ketidaksesuaian kualitas Pertalite di Kendari, Pertamina telah menerjunkan tim quality control. Tim ini diturunkan untuk mengecek langsung di lapangan, termasuk di SPBU yang menerima suplai Pertalite.

Koordinasi juga terus dilakukan dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), penegak hukum, serta pihak independen untuk memastikan hasil uji kualitas bahan bakar dilakukan secara transparan dan akurat. Uji sampel akan segera dilakukan bersama dengan instansi terkait guna memberikan kepastian kepada masyarakat.

Sejumlah pengendara ojek daring di Kendari, Sulawesi Tenggara, menguras tangki bahan bakar setelah motor mereka mogok massal, Selasa (4/3/2025) malam. Kejadian ini terjadi bersamaan setelah mereka mengisi bahan bakar jenis Pertalite di SPBU.

”Pertamina juga membuka saluran pengaduan bagi masyarakat yang mengalami kendala terkait produk BBM. Pengaduan dapat disampaikan melalui SPBU terdekat, kantor layanan Pertamina di wilayah Sulawesi Tenggara, atau Call Center Pertamina 135 yang siap melayani 24 jam. Kami juga mengimbau masyarakat untuk selalu membeli BBM di SPBU resmi Pertamina guna memastikan kualitas dan keamanan bahan bakar yang digunakan,” kata Fahrougi dalam keterangan resminya.

Ia mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menunggu hasil investigasi resmi yang akan segera disampaikan. Pertamina akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan memastikan setiap langkah yang diambil sesuai dengan regulasi yang berlaku.


Kerabat Kerja

Penulis:

Saiful Rijal Yunus
 | 

Editor:

Rini Kustiasih