Masih banyak potensi pariwisata di gugus-gugus pulau Raja Ampat yang belum digali. Jejaknya bisa sirna apabila pertambangan nikel terus dilanjutkan.
07 Jun 2025 17:55 WIB · Nusantara
AMBON, KOMPAS – Pariwisata harus menjadi pijakan utama dalam pengembangan kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Kesejahteraan masyarakat lokal dinilai lebih baik dengan membangun sektor tersebut. Pertambangan nikel harus berhenti karena dapat menghilangkan berbagai potensi pariwisata pulau-pulau kecil yang belum dikembangkan di Raja Ampat.
Pendiri Yayasan Inovasi Pariwisata Indonesia, Taufan Rahmadi, menjelaskan, pengembangan pariwisata berkelanjutan tidak bisa dilakukan secara parsial karena banyak potensi di Raja Ampat yang belum dikembangkan. Hal ini untuk menanggapi pernyataan pemerintah yang menyebut kawasan pertambangan nikel berada jauh dari kawasan pariwisata dan Geopark Raja Ampat.
Padahal, pengembangan pariwisata tidak hanya berfokus pada zona administrasi resmi. Raja Ampat lebih luas dari sekadar kawasan Geopark Raja Ampat atau wilayah Piaynemo yang sering masuk dalam promosi dan iklan pariwisata.
Ia menyebutkan, banyak pulau lain di luar kawasan inti pariwisata Raja Ampat yang punya potensi besar. Pulau Kawei yang kini dieksplorasi, contohnya, memiliki potensi terumbu karang yang indah sehingga dapat dikembangkan menjadi wisata penyelaman bawah air.
”Jangan hanya melihat Raja Ampat sebagai zona pariwisata yang dipetakan dalam promosi resmi saja. Ada banyak pulau yang belum diketahui potensi besarnya. Ini perlu dijaga. Bila pertambangan berlanjut, potensi tersebut tidak akan pernah diketahui dan akan hilang,” ucapnya, dihubungi dari Ambon, Maluku, Sabtu (7/6/2025).
Potensi Raja Ampat sebagai wisata bahari harus terus dikembangkan. Taufan menjelaskan, potensi yang dimiliki menjadi modal besar Raja Ampat untuk jadi kawasan pariwisata kelas dunia. ”Raja Ampat punya semua potensi untuk menjadi pusat keunggulan pariwisata dunia. Ini mengapa perlu ada moratorium pertambangan untuk menjaganya,” ujar Taufan.
Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sorong Malamoi Torianus Kalami menjelaskan, masyarakat lokal di wilayah Papua Barat Daya, khususnya Raja Ampat, banyak yang bekerja sebagai petani ataupun nelayan. Sejak pariwisata menggeliat, masyarakat mulai terjun ke sektor tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/7f1cd59e1b8a9539f4c7919e15a19c93-GP0SU5K04.jpg)
Kekayaan keanekaragaman hayati di Raja Ampat begitu besar. Di daratan ini terdapat 874 spesies tumbuhan, 9 di antaranya spesies endemik dan ada 6 spesies yang dilindungi. Ada pula 114 spesies binatang melata, dengan 5 di antaranya hanya bisa ditemukan di Raja Ampat.
Selanjutnya, ada 274 spesies burung, dengan 6 spesies endemik dan 8 spesies adalah hewan yang diliindungi. Ada pula 47 spesies mamalia, dengan 1 spesies endemik dan 3 spesies dilindungi.
Kekayaan bawah lautnya juga besar. Di kawasan Raja Ampat terdapat 540 jenis terumbu karang atau sekitar 75 persen dari jenis terumbu karang dunia. Taufan menambahkan, pertambangan nikel hanya akan bertahan 10-20 tahun, tetapi pariwisata bisa menghidupi warga dalam waktu yang lebih panjang.
Jika pertambangan dilanjutkan, meski di luar kawasan pariwisata, ruang hidup warga akan terputus. Ia pun menegaskan, pulau-pulau tersebut punya manfaat bagi warga, khususnya di sektor perikanan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/25/a5e69533-67ea-457c-8101-d0b412fe767b_jpg.jpg)
Tori juga menyebutkan, status geopark yang diterima wilayah Raja Ampat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pun kini menjadi tidak berarti. Hal ini karena aktivitas pertambangan masih diizinkan berjalan.
”Pulau kecil itu berbeda dengan pulau besar. Bila sudah rusak, sulit untuk merevitalisasinya karena pada dasarnya luas lahan terbatas. Bila sudah dikeruk, tanah yang ada di atas dibuang ke mana, kita tidak tahu,” tuturnya.
Pulau kecil itu berbeda dengan pulau besar. Bila sudah rusak, sulit untuk merevitalisasinya karena pada dasarnya luas lahan terbatas.
Menteri Pariwisata Widiyanti menjelaskan, kekuatan masa depan Raja Ampat berada pada kelestarian laut, budaya, dan masyarakatnya sehingga perlu dijaga sebaik-baiknya. Untuk itu, diperlukan upaya perlindungan jangka panjang.
Dalam pertemuan dengan Dewan Ekonomi Nasional, Widiyanti menjelaskan, pihaknya mendorong Raja Ampat untuk menjadi kawasan ekonomi khusus yang fokus pada pariwisata yang berkualitas. Pengembangannya pun harus berpihak kepada masyarakat dan lingkungan.
”Pengembangan pariwisata di Raja Ampat memerlukan fondasi utama, berupa kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Dalam pembangunan kawasan Raja Ampat ke depan, seluruh arah kebijakan akan berpedoman pada prinsip keberlanjutan, keadilan sosial, dan ketahanan ekosistem,” ujarnya.
Penulis:
Raynard Kristian Bonanio PardedeEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul