Pertamina Geothermal Energy Sambut Peluang Pendanaan JETP

Pendanaan murah untuk pengembangan energi terbarukan dibutuhkan Indonesia untuk mempercepat pengurangan emisi gas rumah kaca.

27 Mar 2025 09:00 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk menyambut positif kelanjutan komitmen global untuk mendanai pengembangan energi terbarukan di Indonesia lewat skema Just Energy Transition Partnership (JETP). Platform itu diharapkan membantu mereka mengembangkan proyek panas bumi mencapai 1,8 gigawatt hingga 2033.

Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Yurizki Rio, Rabu (26/3/2025), menyampaikan apresiasinya atas upaya negara kaya melanjutkan JETP yang sempat terancam mandek.

Kekhawatiran soal macetnya JETP muncul tahun ini ketika Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump melepas Perjanjian Paris (Paris Agreement) dan mundur dari komitmen mendukung transisi energi di negara berkembang.

"Intinya, kalau ada akses ke pendanaan yang terkait transisi energi atau pendanaan hijau sehingga akhirnya bisa menurunkan pendanaan kami, kami pasti terbuka," kata Yurizki saat ditemui dalam acara "Media Briefing: Capaian Finansial 2024 dan Rencana Pengembangan di 2025" di Jakarta.

Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy, Yurizki Rio, di Jakarta, Rabu (26/3/2025).

Sebagai perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode PGEO, Yurizki optimistis Pertamina Geothermal Energy bisa mengupayakan pendanaan dari global melalui skema JETP untuk proyek mereka.

"Nanti, ke depannya, kalau JETP sudah terbuka lagi dan sudah mulai agresif lagi untuk membiayai proyek-proyek hijau, tentu kita akan kejar," ujarnya.

Awal pekan ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan, mundurnya AS tidak menghalangi komitmen Indonesia dan negara-negara yang tergabung dalam International Partners Group (IPG) untuk mencapai target emisi nol bersih.

Negara-negara itu seperti Jepang, Kanada, Denmark, Uni Eropa, Republik Federal Jerman, Republik Perancis, Norwegia, Republik Italia, Inggris Raya, dan Irlandia Utara. IPG bermitra dengan Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ) yang terbentuk pada 2021 untuk menjalankan JETP.

”Jadi, komitmen untuk JETP dilanjutkan dan targetnya adalah untuk mendukung transisi energi di Indonesia menuju net zero emission di tahun 2060 atau lebih cepat,” kata Airlangga dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Senin (24/3/2025).

Sejumlah peserta Jelajah Energi Sumatera Selatan yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR) mengunjungi area utama pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Lumut Balai milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Kamis (29/2/2024). Unit 1 PLTP Lumut Balai, dengan kapasitas 55 megawatt (MW) mulai beroperasi komersial pada 2019. Adapun unit 2, juga berkapasitas 55 MW, ditargetkan beroprerasi tahun ini.

Sejauh ini, pendanaan internasional yang masuk melalui JETP telah turun ke 54 proyek dalam negeri dengan total komitmen sebesar 1,1 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 18,15 triliun. Dari jumlah itu, sembilan proyek mendapatkan pendanaan dalam bentuk pinjaman atau ekuitas. Lalu, 45 proyek lainnya menerima hibah senilai 233 juta dollar AS.

Selain itu, Airlangga menuturkan, IPG juga telah mengamankan jaminan senilai 1 miliar dollar AS melalui Multilateral Development Banks (MDB) Guarantee untuk mempercepat pelaksanaan proyek transisi energi bersih.

Beberapa proyek di dalamnya termasuk pengembangan energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, elektrifikasi sejumlah sektor utama, serta inisiatif dekarbonisasi industri dan infrastruktur.

Pendanaan transisi energi melalui JETP dilakukan untuk mengejar target pengurangan emisi Indonesia sebesar 31,89 persen secara mandiri serta hingga 43 persen dengan dukungan finansial internasional pada 2030.

Pinjaman ringan

Sejauh ini, Pertamina Geothermal Energy juga sudah menerima berbagai pendanaan hijau dalam bentuk pinjaman dari lembaga keuangan internasional, seperti Bank Pembangunan Asia (ADB) hingga Bank Dunia.

Pendanaan itu disalurkan untuk empat proyek yang dijalankan Pertamina Geothermal Energy dengan kapasitas masing-masing 50-55 megawatt (MW) untuk tanggal operasi komersial (commercial operation date/COD) periode 2028-2031.

Petugas meninjau pipa-pipa uap di situs Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Unit 5 dan 6 yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) di Tompaso, Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat (30/7/2021). Pemanfaatan panas bumi untuk listrik pada 2020 hanya tumbuh 0,009 persen, turun jauh dari 12,9 persen pada 2019.

Pinjaman yang didapat terhitung ringan dengan bunga rendah dan tenor yang cukup panjang. "Itu kemarin kami pakai Green Book yang financial backers-nya adalah ADB dan World Bank. Itu lumayan, soft loan ditambah margin, tetapi tenor bisa 20-30 tahun," tutur Yurizki.

Pertamina Geothermal Energy juga mendapat pendanaan dari Japan International Cooperation Agency (JICA) sebesar 155 juta dollar AS pada 2022 untuk Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 di Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan.

Yurizki mengatakan, PLTP itu akan beroperasi secara komersial pada Juni 2025. Pinjaman untuk proyek itu memiliki tenor hingga tahun 2050 dengan bunga sekitar 5 persen.

Secara keseluruhan, Pertamina Geothermal Energy saat ini mengelola kapasitas terpasang 672,5 MW dari total potensi sumber daya panas bumi sekitar 3 GW milik perusahaan tersebut.

Perseroan itu juga terus mengembangkan kapasitas pembangkitnya guna mencapai target 1 GW dalam dua hingga tiga tahun ke depan serta target ekspansi kapasitas sampai 1,8 GW hingga 2033.

Untuk melakukan ekspansi itu, Pertamina Geothermal Energy berstrategi mengembangkan proyek-proyek quick wins, pengembangan ladang panas bumi (green field), serta strategi produksi produk hijau turunan panas bumi dan penguatan ekosistem di hilir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .