Tantangan pertahanan udara kini bukan lagi sekadar menghadapi pesawat tempur konvensional. Ancaman juga datang dari rudal hipersonik.
21 Nov 2025 10:20 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Hendra A Setyawan
Suasana hening di anjungan Kapal Perang Republik Indonesia bisa berubah menjadi neraka hanya dalam sekejap mata. Bayangkan sebuah skenario, di tengah patroli sunyi, radar tiba-tiba menangkap anomali. Bukan kapal musuh yang terlihat mata, melainkan sebuah titik kecil yang melesat menyusuri permukaan laut dengan kecepatan mengerikan.
Itu adalah rudal Krypton. Kecepatannya mencapai 3,5 Mach atau 3,5 kali kecepatan suara. Meski diluncurkan dari jarak ratusan kilometer, posisinya baru terdeteksi radar kapal saat jaraknya sudah terlalu dekat karena tertutup lengkung bumi.
Di titik kritis itu, komandan dan awak kapal tidak punya waktu untuk berdiskusi, apalagi berdebat. ”Waktu yang dimiliki untuk bisa mendeteksinya (dan merespons) itu hanya 30 sampai 45 detik saja,” ujar Kepala Staf Komando Armada I Laksamana Pertama (Laksma) Arif Badrudin.
Dalam tempo sesingkat itu, seluruh awak harus mengaktifkan alarm tanda bahaya, berlari ke pos masing-masing, menyiapkan sistem senjata, dan menembak jatuh ancaman tersebut. Jika meleset atau terlambat satu detik saja, taruhannya adalah nyawa seluruh kru. ”Itu antara hidup dan mati,” kata Arif.
Gambaran mencekam tersebut dipaparkan Arif dalam webinar ”Defending the Archipelago”, Rabu (19/11/2025). Menurut dia, hal itu bukanlah adegan film aksi, melainkan contoh realitas ancaman pertempuran laut modern yang semakin asimetris dan mematikan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/02/07c59605-7ed5-424d-a492-27921a391643_jpg.jpg)
Tantangan pertahanan udara (anti-air warfare/AAW) Indonesia kini bukan lagi sekadar menghadapi pesawat tempur konvensional. Pengajar keamanan dan pertahanan dari Universitas Pertamina, Ian Montratama, mengingatkan bahwa ancaman telah berevolusi menjadi rudal hipersonik yang kecepatannya bahkan di atas 5 Mach atau mencapai 10 kali kecepatan suara.
Senjata mematikan ini kian sulit ditangkal karena karakternya yang tidak lagi mengikuti lintasan parabola (balistik) biasa, melainkan bisa meluncur (glide) dan bermanuver menghindari radar. Ironisnya, upaya menangkal ancaman ini membutuhkan biaya yang mencekik anggaran negara.
Waktu yang dimiliki untuk bisa mendeteksinya (dan merespons) itu hanya 30 sampai 45 detik saja.
”Harga sekali intercept atau engagement diperkirakan antara 50 juta sampai mendekati 300 juta dollar AS (antara Rp 835,73 miliar sampai Rp 5 triliun) untuk satu rudal,” tuturnya.
Secara ekonomi, mustahil Indonesia membangun ”pagar betis” rudal di semua titik. Indonesia pun, menurut Ian, tidak bisa sekadar meniru sistem pertahanan benua seperti Amerika Serikat atau Rusia. Sebagai negara kepulauan, radar berbasis darat memiliki banyak titik buta (gap filler) yang harus ditambal oleh kapal perang berkemampuan pertahanan udara mumpuni.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/01/15/IMG-20200115-WA0012_1579075935_jpg.jpg)
Namun, secanggih apa pun kapal yang dikerahkan untuk menambal celah itu, kapal tersebut akan tumpul jika beroperasi sendirian. Persoalan krusial lain yang membayangi TNI AL adalah integrasi sistem.
Laksma Arif menyoroti risiko pembelian alutsista dari beragam negara yang sering kali berakhir menjadi sistem stand-alone atau berdiri sendiri. Tanpa integrasi, kapal-kapal perang kita tidak bisa saling ”berbicara” secara otomatis, memperlambat respons di saat detik-detik sangat berharga.
Di sinilah pentingnya interoperabilitas. Ian Montratama menegaskan bahwa alutsista modern harus mampu berbagi data sensor (sharing data) secara real-time untuk membangun kesadaran situasional yang utuh. Tanpa koneksi ini, armada tempur kita ibarat pulau-pulau yang terisolasi di tengah samudra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/08/11/9e11816a-5546-45e5-a08e-b170531b1f5a_jpg.jpg)
Kenzie Ryvantya dari organisasi masyarakat sipil PeduliHankam mengibaratkan situasi yang mengabaikan interoperabilitas itu seperti tugas kelompok tanpa adanya ”Group Chat”. ”Masing-masing anggota kelompok mengerjakan bagiannya tanpa mengetahui apa yang teman-temannya kerjakan,” ujarnya.
Dalam pertempuran laut modern, ketiadaan data link yang aman bisa berakibat fatal. Kapal A mungkin tidak melihat musuh karena tertutup pulau, padahal kapal B di sebelahnya melihat jelas. Tanpa data link sebagai tulang punggung sistem senjata terpadu, informasi itu tidak sampai dan celah pertahanan pun terbuka lebar.
Ketika radar kapal memiliki keterbatasan jarak pandang akibat lengkung bumi, Indonesia harus mulai melirik matra keempat, yaitu luar angkasa. CEO Antarexxa Space Global Ann Cammaro mengingatkan bahwa pertahanan udara modern adalah perpaduan tiga elemen yaitu sea, sky, and space atau laut, langit, dan luar angkasa.
Satelit bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ”mata” dan ”otak” yang krusial. Dengan satelit dan kecerdasan buatan (AI), pola serangan musuh bisa dibaca dan diprediksi jauh sebelum mereka memasuki jangkauan radar kapal.
”Tanpa space (satelit), dua domain lainnya (laut dan udara) itu kayak cuma sibuk memadamkan api, tapi mereka enggak tahu sumber apinya ada di mana,” ujar Ann.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/04/9c54b5319c1c4e75dbb2c309b32d16d4-250204_beidou.jpg)
Namun, Ann juga mewanti-wanti ancaman alam yang sering luput dari kalkulasi strategi militer. Contohnya, cuaca antariksa. Badai matahari (solar storm) dapat mengacaukan sistem navigasi dan komunikasi satelit secara total. Tanpa kesadaran situasi antariksa (space situational awareness), sistem pertahanan tercanggih pun bisa buta arah, membuat rudal meleset atau gagal mencapai sasaran.
Yang juga harus jadi atensi, modernisasi ini bukan hanya soal teknologi, melainkan juga keberlanjutan logistik.
Kenzie menyoroti tantangan teknis seperti pengisian ulang munisi peluncur vertikal (vertical launch system/VLS) di kapal perang. Saat ini, banyak kapal harus kembali ke pelabuhan hanya untuk mengisi ulang rudal, sebuah jeda waktu yang berbahaya dalam perang berintensitas tinggi.
Pada akhirnya, ”perisai udara” adalah soal harga diri dan kedaulatan. Kenzie menutup dengan sebuah anekdot getir tentang betapa rentannya langit Nusantara saat ini. Ketika ditanya apakah pesawat asing bisa melintas di wilayah Indonesia dalam situasi darurat, ia mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat masih menjabat Menteri Pertahanan. ”Dia (pesawat asing) lewat saja kita belum tentu tahu, apalagi mencegahnya,” katanya mengutip Prabowo.
Jika 30 detik adalah waktu yang memisahkan antara keselamatan dan kehancuran di laut, maka investasi pada integrasi sistem dan teknologi deteksi dini bukan lagi sekadar pilihan belanja, melainkan keharusan yang mendesak untuk menjamin kedaulatan negara.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti