Laga kontra Ceko menjadi penentu nasib Afrika Selatan di Piala Dunia 2026. Jika ingin terus menjaga harapan yang kembali menyala dari penggemar, mereka wajib menang.
17 Jun 2026 19:09 WIB · Olahraga
AP Photo/Ricardo Mazalan
GEORGIA, RABU — Penggemar Afrika Selatan kembali menjadi ”Bafana Bafana”, merasa bersatu lagi dengan tim mereka, karena percaya langkah di Piala Dunia 2026 akan lebih jauh. Harapan yang kembali menyala itu akan menemui kenyataannya pada laga kontra Ceko.
Afrika Selatan akan menghadapi Ceko dalam pertandingan lanjutan Grup A Piala Dunia 2026 di Stadion Atlanta, Georgia, AS, Kamis (18/6/2026) pukul 23.00 WIB. Duel ini krusial bagi kedua tim yang sama-sama terluka pada laga perdana itu.
Afrika Selatan, yang menempati posisi buncit klasemen Grup A dengan nol poin, membutuhkan kemenangan pertama untuk menjaga peluang lolos ke fase gugur. Kendati sama-sama kalah pada pertandingan perdana, Afrika Selatan kalah selisih gol dari Ceko yang menempati posisi ketiga.
”Setelah melihat level kompetisi ini, kami akan kembali lebih kuat. Kami akan mempersiapkan diri dengan intensitas yang lebih tinggi dan terus bekerja keras,” kata kapten tim sekaligus kiper Ronwen Williams.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/5c762b8ca765a92ece6d17da394fe853-wires_photo_10.jpg)
Afrika Selatan kembali ke Piala Dunia sejak menjadi tuan rumah pada tahun 2010. Pada dua edisi setelah menjadi tuan rumah itu, yaitu pada 2018 dan 2022, Afrika Selatan gagal lolos.
Norika Naidoo, salah seorang penggemar Afrika Selatan, mengatakan, masyarakat di negaranya sempat berada di titik apatis jika berbicara soal tim sepak bola nasional mereka. Menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 sebenarnya memunculkan suasana dan pengalaman luar biasa bagi para penggemar.
Namun, serangkaian hasil buruk dan kegagalan bertahun-tahun setelahnya, termasuk pada kualifikasi Piala Dunia, memantik sikap apatis itu. Maka, ketika Afrika Selatan bisa kembali tampil di panggung tertinggi itu, harapan para penggemar kembali menyala. Mereka kembali menjadi bagian dari ”Bafana Bafana”, julukan tim tersebut.
Kepercayaan itu sebenarnya muncul bertahap, dimulai dari keberhasilan mengalahkan Mesir yang diperkuat Mohamed Salah di Piala Afrika 2019. Dua tahun kemudian, penunjukan pelatih asal Belgia dan pemenang Piala Afrika bersama Kamerun, Hugo Broos, juga turut menambah kepercayaan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/bb85a2466d3974950902b0317bc4b561-20260617_GKT_Ceko_vs_Afrika_Selatan_mumed.jpg)
Lalu, raihan tiket ke Piala Dunia 2026 menjadi puncaknya. Pendukung Afrika Selatan lainnya, Emilio Hartogh, mengatakan, para pendukung kembali percaya dan mencintai timnya.
”Negara ini terobsesi dengan olahraga dan orang-orang yang mewakilinya. Tetapi, kami membutuhkan sesuatu yang nyata untuk didukung. Ketika itu terjadi, kita mengatakan, ’Bafana kaofela’, yang berarti, ’Kami semua adalah Bafana Bafana’,” ujar Hartogh kepada The Athletic.
Piala Dunia 2026 adalah panggung keempat bagi Afrika Selatan di level tersebut. Mereka belum pernah lolos dari babak grup pada tiga edisi terakhir. Namun, ada keyakinan di dalam hati para penggemar bahwa rekor tersebut mungkin akan berubah kali ini.
Hartogh menilai, suasana tim saat ini berbeda. Efek yang muncul terasa lebih baik karena menyamai momen ketika Afrika Selatan menjadi tuan rumah 16 tahun lalu.
”Ini mirip dengan tahun 2010 ketika kemungkinan tampak begitu besar sehingga laporan menunjukkan kejahatan di seluruh negeri telah menurun secara signifikan. Ini menunjukkan betapa pentingnya sepak bola di Afrika Selatan,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/12/aa386b9c3712bfa13ebfd3ba8629e84b-wires_photo_2026_06_12T051723.354.jpg)
Keyakinan dan harapan para penggemar belum menemui kenyataan pada pertandingan pertama kontra tuan rumah Meksiko. Selain kalah 0-2, Afrika Selatan juga harus menelan pil pahit dengan kehilangan dua pemainnya, Sphephelo Sithole dan Themba Zwane, yang menjadi bagian dari ”hujan” kartu merah dalam pertandingan itu.
Di sisi lain, Ceko juga datang dengan ambisi untuk menang. Ceko telah menunggu lebih lama untuk tampil di Piala Dunia ketimbang Afrika Selatan. Penampilan terakhir mereka sebelumnya adalah 20 tahun lalu.
Pada laga pertama kontra Korea Selatan, Ceko bermain pragmatis dan mengandalkan bola mati untuk menciptakan peluang berbahaya. Meski unggul lebih dulu, Ceko kemudian kalah 1-2.
Bek Ceko, Jarslav Zeleny, bahkan mengatakan bahwa pertandingan melawan Afrika Selatan harus dimenangi karena laga selanjutnya lebih berat karena melawan tuan rumah. ”Melawan Afrika Selatan, kami harus melakukannya dengan benar,” kata bek Jaroslav Zeleny.
”Meksiko mungkin akan menjadi tantangan yang lebih sulit setelah ini. Jadi, kami harus memberikan segalanya dalam pertandingan melawan Afrika Selatan dan memastikan kita memenanginya,” ujarnya lagi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto