Salah satu semifinal tunggal putri Perancis Terbuka menjadi ”big match” setara final. Dua rival bertemu, Aryna Sabalenka dan Iga Swiatek.
05 Jun 2025 15:40 WIB · Olahraga
Petenis nomor satu dunia melawan juara bertahan. Ini menjadi ”tema” pertemuan Aryna Sabalenka dan Iga Swiatek pada semifinal tunggal putri Perancis Terbuka di Roland Garros, Paris, Perancis, Kamis (5/6/2025). Pertandingan di antara dua petenis yang telah membuat rivalitas di level atas itu akan lebih menarik dibandingkan semifinal lain yang mempertemukan Cori ”Coco” Gauff dan Lois Boisson.
Boisson adalah petenis ranking ke-361 dunia. Dia mendapat kesempatan bermain di Perancis Terbuka berkat wildcard yang diberikan Federasi Tenis Perancis karena merupakan petenis tuan rumah. Boisson ”merusak” peluang terjadinya semifinal ideal tunggal putri saat mengalahkan semifnalis Perancis Terbuka 2024, Mirra Andreeva, 7-6 (3), 6-3 pada perempat final, Rabu. Sebelum bertemu Andreeva yang menjadi unggulan keenam, Boisson menyingkirkan unggulan ketiga, Jessica Pegula, pada babak keempat.
Sementara itu, pada persaingan sesama petenis Amerika Serikat, Coco mengalahkan juara Australia Terbuka, Madison Keys. Sang senior dia kalahkan dengan skor 6-7 (4), 6-4, 6-1.
Laga Sabalenka melawan Swiatek sebenarnya bisa disebut final dini, apalagi jika dibandingkan dengan semifinal lain. Setelah bersaing untuk pertama kalinya pada penyisihan grup turnamen Final WTA 2021, mereka bersaing lebih intens sejak 2022. Dari 12 pertemuan, sepuluh berlangsung di semifinal atau final pada turnamen level WTA 500, 1000, Final WTA, hingga Grand Slam.
Swiatek menang dalam delapan pertemuan dan unggul 5-1 di lapangan tanah liat. Akan tetapi, Sabalenka memenangi pertemuan terakhir pada semifinal WTA 1000 Cincinnati 2024.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/05/6f3b4fb4-446a-4912-aba6-0a91d11c3c20_jpg.jpg)
Sabalenka juga unggul dalam persentase kemenangan pada tahun ini sebelum Perancis Terbuka. Dia menang 34 kali dari 40 pertandingan (85 persen). Sementara itu, Swiatek hanya memiliki persentase kemenangan 75 persen (27 kali menang, 9 kali kalah).
Catatan lainnya bagi Sabalenka pada 2025 adalah tiga gelar juara dari enam final. Sementara itu, Swiatek tak pernah lolos ke final, bahkan sejak menjuarai Perancis Terbuka 2024. Salah satu dari tiga gelar juara itu didapat Sabalenka dari turnamen pemanasan Perancis Terbuka, WTA 1000 Madrid setelah mengalahkan Coco di final.
Hal positif yang bisa dibawa Swiatek guna menghentikan target Sabalenka lolos ke final Perancis Terbuka untuk pertama kalinya adalah empat gelar juara yang diraihnya di Roland Garros. Gelar juara Perancis Terbuka 2020 bahkan menjadi gelar pertama bagi Swiatek dalam persaingan profesional. Setelah itu, dia menjadi juara dalam tiga tahun beruntun, 2022-2024.
Jika kembali juara, petenis Polandia berusia 23 tahun itu akan menjadi tunggal putri pertama yang menjuarai Perancis Terbuka empat kali beruntun dalam era Terbuka sejak 1968. Sebelumnya, hanya ada Suzanne Lenglen yang juara empat tahun berturut-turut, pada 1920-1923. Nama petenis Perancis itu, kemudian, digunakan untuk nama trofi juara tunggal putri Perancis Terbuka.
Untuk memasukkan namanya dalam catatan rekor tenis profesinal, Swiatek harus meredam kekuatan Sabalenka. Tiga kali juara Grand Slam di lapangan keras itu (Australia Terbuka 2023, 2024, dan AS Terbuka 2024) itu memiliki senjata pukulan powerfull, forehand, dan backhand, dari baseline. Gaya bermainnya memang tak begitu variatif, tetapi Sabalenka bisa konsisten menghantam pertahanan lawan dengan pukulan kerasnya dari perebutan poin pertama hingga terakhir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/05/27c3cb3f-8ed3-47ee-a6f6-923e2cfa4be1_jpg.jpg)
Setelah mengalahkan Zheng Qin Wen di perempat final, Sabalenka dengan percaya diri mengatakan bahwa groundstroke-nya lebih kencang dari Serena Williams. ”Sebenarnya, dalam perjalanan karier di fase ini, saya tidak peduli dengan gaya main saya. Namun, saya jelas lebih suka bermain dengan kekuatan. Saya pikir, pukulan Serena pun tidak sekuat saya saat kami berhadapan. Secara fisik, dia lebih baik dari saya, tetapi kekuatannya tidak lebih dari saya,” kata Sabalenka yang sekali bertemu Serena dan kalah pada babak keempat Australia Terbuka 2021 dengan skor 4-6, 6-2, 4-6.
Swiatek memiliki kemampuan untuk mengatasi permainan tersebut karena gaya bermainnnya begitu berbeda. Dia bisa bergerak dengan mulus dengan cara meluncur di lapangan tanah liat sambil melancarkan kombinasi pukulan panjang dan pendek. Dengan cara ini pulalah, Swiatek mengungguli Sabalenka di lapangan tanah liat.
”Saya tidak tahu apakah rivalitas kami bisa dikatakan meningkatkan level permainan saya, tetapi yang pasti, persaingan itu membuat kami sama-sama berkembang. Saya senang melawan petenis dengan gaya powerfull karena saya bisa menunjukkan hal lain,” kata Swiatek dalam laman resmi WTA.
Kenyamanan Swiatek bermain di Roland Garros terlihat pula dari statistik kemenangan. Sebelum memenangi lima babak pada 2025, petenis Polandia itu hanya dua kali kalah dari 35 pertandingan dalam partisipasi pada 2019-2024. Ditambah dengan kemenangan pada lima babak tahun ini, Swiatek tak pernah kalah dalam 37 pertandingan setelah dia memenangi set pertama.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/05/5f18c76e-c380-473a-b2d1-e17a3e13d7ca_jpg.jpg)
Sabalenka atau Swiatek, dengan latar belakang berbeda, bisa dinilai layak untuk menjadi finalis Perancis Terbuka, termasuk juara. Namun, ada Coco yang berada di paruh bawah undian yang juga pantas disejajarkan dengan mereka.
Coco akan menjalani semifinal Perancis Terbuka untuk ketiga kali dalam empat tahun terakhir setelah semifinal 2024 dan final 2022. Penampilannya di Perancis Terbuka juga lebih baik dibandingkan Grand Slam lain yang ditunjukkan dengan persentase kemenangan 80 persen.
Hanya penampilan di AS Terbuka (77 persen) yang bisa mendekati performanya di Roland Garros. Di lapangan keras Flushing Meadows, New York, Coco menjadi juara pada 2023 yang menjadi gelar Grand Slam pertama dan satu-satunya hingga saat ini.
Dalam masa persiapan tampil di Roland Garros, Coco selalu lolos ke final dalam turnamen tanah liat, WTA 1000 Madrid dan Roma. Di Madrid, dia kalah dari Sabalenka. Adapun pada perebutan gelar juara di Roma, petenis AS berusia 21 tahun itu dikalahkan Jasmine Paolini yang tersingkir di perempat final.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/05/a9f8eb03-8058-45b3-b345-a85847f6053b_jpg.jpg)
Boisson, yang akan dihadapinya untuk pertama kali, membuat kejutan terbesar pada tahun ini. Pada level Grand Slam, dia selalu tampil di Perancis Terbuka sejak 2021 karena mendapat wildcard. Petenis berusia 22 tahun itu masih tampil pada turnamen level ITF dan WTA 125. Satu gelar juaranya didapat dari WTA 125 Saint Malo, Perancis, pada 2024.
Walapun tak punya rekam jejak setinggi semifinalis lain, Boisson dipastikan mendapat dukungan sebagian besar penonton. Apalagi, Boisson menjadi semifinalis pertama dari Perancis setelah Marion Bartol di Perancis Terbuka 2011.
Meski demikian, Coco bersikap tenang tentang atmosfer yang akan dihadapinya melawan petenis tuan rumah. ”Saya melawan Paolini di Roma, Caroline (Garcia) dan Kristina (Mladenovic) di Perancis. Saya punya beberapa pengalaman menghadapi penonton yang tak akan mendukung saya. Itu justru yang saya nantikan,” kata petenis unggulan kedua tersebut.
Dukungan penonton untuk lawan seharusnya tak menjadi masalah bagi Coco, tetapi ada faktor lain yang harus menjadi perhatiannya. Coco mendapat winning ugly saat melawan Keys pada perempat final. Coco membuat 41 unforced error meski akhirnya menang.
(AFP/AP/Reuters)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul