Sebagian besar korban adalah warga sipil dari komunitas Alawi, pendukung utama dinasti Assad. Sebagian dari mereka mulai mengungsi ke Lebanon.
09 Mar 2025 11:46 WIB · Internasional
BEIRUT, MINGGU — Jumlah korban akibat pertempuran dua hari antara aparat keamanan Suriah dan kelompok loyalis Presiden Bashar al-Assad melampaui 1.000 orang, Minggu (9/3/2025). Hal ini dilaporkan oleh Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah atau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), organisasi di London, Inggris, yang mengandalkan informasi jaringan narasumbernya di Suriah.
Kekerasan dua hari terakhir ini adalah yang terburuk sejak pecah perang saudara Suriah tahun 2011.
Menurut laporan SOHR, sebanyak 745 warga sipil terbunuh, sebagian besar ditembak dari jarak dekat. Selain mereka, sebanyak 125 aparat pemerintah, dan 148 anggota milisi pendukung Assad, juga tewas.
SOHR menambahkan, layanan listrik dan air minum terputus dari kota Latakia di pesisir barat Suriah, wilayah basis warga minoritas Alawit.
Kekerasan pecah sejak Kamis (6/3/2025), menjadi eskalasi utama sejak pemerintahan baru Suriah berkuasa awal Desember 2024. Pemerintah baru Suriah menyatakan, tindakan tengah diambil untuk menyikapi serangan sisa-sisa pasukan Assad. Damaskus menyalahkan ”tindakan-tindakan individu” dalam rangkaian kekerasan yang terjadi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/70c4bbc2ea5fef62993ec844d67ef70a-SYRIA_CONFLICT_128067874.jpg)
Pemerintahan baru Suriah saat ini didominasi oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham yang menggalang perlawanan menumbangkan rezim Bashar al-Assad, awal Desember 2024. Rangkaian pembunuhan balas dendam terjadi sejak Jumat ketika sekelompok laki-laki bersenjata loyalis pemerintahan baru menyerang kelompok minoritas Alawi.
Selama puluhan tahun, kelompok Alawi menjadi basis pendukung utama dinasti Assad. Kepada wartawan kantor berita Associated Press (AP), warga di desa-desa kelompok Alawi mengatakan, para laki-laki bersenjata menembaki warga Alawi di jalanan ataupun di depan rumah mereka. Banyak rumah warga Alawi di sejumlah daerah dijarah, lalu dibakar.
Informasi tersebut disampaikan dua warga di wilayah pantai barat Suriah dari tempat persembunyian. Mereka meminta namanya dirahasiakan karena khawatir akan keselamatan nyawanya. Saat ini ribuan warga Alawi melarikan diri ke pegunungan.
Adapun Ali Sheha (57), warga Distrik Baniya yang mengungsi bersama keluarganya sejak Jumat lalu, menuturkan, sekurangnya 20 warga Alawi tetangga dan temannya di Baniya dibunuh di rumah atau di kedai mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/542f3587375ec7e12a2bb8ed4664fd7e-Syria_128040884.jpg)
Sheha mengatakan, pembunuhan tersebut merupakan balas dendam terhadap komunitas Alawi terkait kekejaman rezim Assad pada masa lalu. Warga lainnya mengatakan, kelompok bersenjata—termasuk para petempur asing dan milisi dari desa-desa dan kota-kota lain—terlibat dalam serangan tersebut.
”Sangat mengerikan, mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan,” ujar Sheha yang melarikan diri sekitar 20 kilometer dari rumahnya.
Direktur SOHR Rami Abdurrahman mengatakan, pembunuhan balas dendam itu berakhir pada Sabtu pagi. ”Ini adalah salah satu pembantaian terburuk sepanjang konflik Suriah,” katanya.
Jumlah korban sebelumnya diperkirakan mencapai 600 orang. Angka tersebut terus bertambah.
Pemakaman empat anggota pasukan keamanan pemerintah di Al-Janoudiya, perdesaan di wilayah barat laut Suriah, digelar, Sabtu siang, setelah kontak senjata di daerah pesisir sekitar permukiman Alawi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/0ecb2f9c00f4383844ecc1eb6489d703-Syria_Clashes_128071345.jpg)
Kantor berita Suriah, SANA, mengutip sumber pejabat di Kementerian Pertahanan, mengklaim pasukan pemerintah mampu menguasai wilayah-wilayah yang pernah dikuasai loyalis Assad. ”Aparat keamanan menutup seluruh jalan darat ke provinsi-provinsi pesisir Suriah demi memulihkan keamanan,” kata pejabat tersebut.
Pada Sabtu pagi, sebanyak 31 korban pembunuhan balas dendam di Desa Tuwaym dikuburkan dalam kuburan massal setempat. Di antara korban terdapat sembilan anak dan empat perempuan yang juga dibunuh di desa tersebut.
Anggota parlemen Lebanon, Haidar Nasser, dari komunitas Alawi mengatakan, warga Alawi melarikan diri dari Suriah ke Lebanon. Dia tidak menjelaskan berapa banyak jumlah pengungsi itu.
Nasser mengungkapkan, banyak juga warga Alawi berlindung ke Pangkalan Udara Rusia di Hmeimim. Ia menambahkan, sejak tumbangnya Assad, banyak warga Alawi dipecat dari pekerjaan. Tentara Suriah dari sekte Alawi yang melaporkan diri untuk siap bertugas justru dibunuh.
Semasa Assad berkuasa, banyak pejabat militer dan keamanan berasal dari sekte Alawi. Pemerintah baru Assad menyalahkan kelompok loyalis Assad atas kekerasan yang terjadi belakangan ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/b2cf1de1ad813340256d212e08f4002c-SYRIA_CONFLICT_128067334.jpg)
Pemerintah Perancis, negara bekas penjajah Suriah, menyatakan keprihatinan yang terjadi di Suriah. Paris, Sabtu (8/3/2025), mengecam kekerasan di Suriah yang menyasar warga sipil karena perbedaan keyakinan dan para narapidana. Kecaman ini disampaikan setelah muncul kabar pembunuhan 500 warga Alawi di Suriah.
Dalam keterangan tertulis, Kementerian Luar Negeri Perancis mendesak pemerintah baru Suriah untuk membuka investigasi mandiri untuk mengungkap kejahatan tersebut dan para pelakunya dihukum.
Para pemimpin tiga gereja utama Suriah mengeluarkan pernyataan bersama, mengecam pembantaian terhadap warga sipil tak berdosa. ”Dalam beberapa hari terakhir terjadi eskalasi kekerasan, tindakan brutal, dan pembunuhan terhadap warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak,” demikian salah satu keterangan tertulis Gereja Suriah.
Maklumat tersebut ditandatangani Patriakh Gereja Ortodoks, Gereja Ortodok Suriah, dan Gereja Katolik Yunani Melkit. Kekerasan terjadi di daerah pusat hunian Sekte Alawi yang terjepit di tengah konflik pasukan pemerintah baru melawan kelompok bersenjata loyalis Assad.
Sebagian besar warga Kristiani Suriah mengungsi selama perang saudara yang pecah tahun 2011. Mereka masih tinggal di kantong-kantong hunian warga Kristiani di kota Latakia di pesisir Laut Tengah. Kota Latakia adalah pusat hunian warga Alawi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/66651f22dc65cbaf0f2802b0143643fb-SYRIA_CONFLICT_126251597.jpg)
”Gereja-gereja mengecam semua tindakan yang mengancam perdamaian dan membantai warga sipil. Kami meminta segera diakhirinya kekerasan yang sangat bertentangan dengan nilai kemanusiaan,” kata para pemimpin Gereja Suriah.
Pihak gereja mendorong segera diciptakan situasi kondusif untuk mencapai rekonsiliasi nasional Suriah. Gereja mendesak agar ditetapkan masa transisi dengan dasar kesetaraan dan kemitraan tulus terlepas dari ideologi dendam dan membedakan antarkelompok.
Pemimpin kelompok minoritas Druze Suriah, Sheikh Hikmat al-Hajri, juga mendesak diakhirinya kekerasan. ”Api kekerasan sektarian justru akan menghancurkan kita orang Suriah,” kata Hajri. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji