Perang Vietnam memang telah berakhir, tetapi derita korban penggunaan senjata Agen Oranye saat perang masih dirasakan hingga saat ini.
02 Mei 2025 06:29 WIB · Foto
Kekalahan Perancis di Vietnam tahun 1954, membuat perang baru di Vietnam. Perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan yang terpecah karena perbedaan ideologi. Vietnam Utara yang dikuasai Ho Chi Minh menjadikan Hanoi sebagai ibu kota, sedangkan Vietnam Selatan yang dikuasai Ngo Dinh Diem dengan ibu kota di Saigon.
Ho Chi Minh ingin menjadikan Vietnam negara komunis, sedangkan Ngo Dinh Diem ingin membangun negara ala Barat. Amerika Serikat segera mengirimkan bantuan untuk membantu Vietnam Selatan.
Belajar dari kekalahan Perancis, yang gagal mengatasi perang gerilya di hutan-hutan yang lebat, AS menyiapkan senjata baru. Vietkong yang terkenal lincah dan menguasai hutan belantara sebagai basis perjuangan serta tempat paling aman untuk bersembunyi menjadi momok bagi pasukan AS dan tentara Vietnam Selatan yang didukungnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/3d8a5113-7ce7-4bdf-9e98-d1353a2f4bfa_jpg.jpg)
Agen Oranye menjadi senjata militer lantas digunakan militer AS dalam Perang Vietnam (1961-1971). Cairan ini sebenarnya adalah herbisida, yaitu senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas gulma pengganggu tanaman utama. Namun Agen Oranye yang digunakan AS mengandung picloram dan asam cacodylic, sejenis senyawa yang menimbulkan efek kekeringan cepat pada dedaunan.
Pesawat-pesawat AS yang telah dimodifikasi agar bisa mengangkut ribuan liter Agen Oranye, hilir mudik menyemprotkan cairan ini di hutan-hutan lebat yang diduga menjadi tempat persembunyian tentara Vietnam Utara yang dibantu Vietkong.
Efek pertama cairan ini adalah merontokkan dedaunan hutan di Vietnam sehingga dapat mengetahui tempat persembunyian tentara Vietnam. Cairan ini juga disemprotkan di lahan pertanian di daerah yang dikuasai Vietnam Utara untuk menghancurkan persediaan logistik.
Saat perang, di seluruh Vietnam, pasukan AS menyemprotkan 72 juta liter bahan kimia penggugur daun selama perang untuk memerangi musuh. Lebih dari setengahnya adalah Agen Oranye, campuran herbisida. Vietnam telah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk membersihkan warisan perang yang beracun, tetapi pekerjaan itu masih jauh dari selesai.
Vietnam mengidentifikasi korban Agen Oranye dengan memeriksa riwayat keluarga, tempat tinggal mereka, dan daftar masalah kesehatan yang terkait dengan racun tersebut.
Kontaminasi itu juga merusak pertahanan alami Vietnam. Hampir setengah dari pohon bakau, yang melindungi pantai dari badai yang kuat, hancur. Sebagian besar hutan tropisnya rusak parah, sementara herbisida juga melarutkan nutrisi tanah di beberapa daerah Vietnam yang paling rentan terhadap iklim.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/375ad841-e76e-41ef-aed7-a7d1381625fe_jpg.jpg)
Dalam beberapa dekade setelah perang berakhir, negara yang sedang dalam pemulihan itu memagari lokasi-lokasi yang sangat terkontaminasi seperti bandara Da Nang dan mulai memberikan dukungan kepada keluarga-keluarga yang terdampak.
Membersihkan Agen Oranye membutuhkan biaya mahal dan menjadi pekerjaan yang berbahaya. Tanah yang sangat tercemar perlu digali dan dipanaskan dalam oven besar hingga suhu yang sangat tinggi, sementara tanah yang kurang terkontaminasi dapat dikubur di tempat pembuangan sampah yang aman.
Meskipun telah bekerja selama bertahun-tahun, masih sangat luas lokasi yang masih perlu dibersihkan, terutama di Da Nang, pangkalan udara tempat penyimpanan dan pengangkutan Agen Oranye.
Perang Vietnam berakhir dengan kekalahan Vietnam Selatan yang didukung AS pada tanggal 30 April 1975. Namun dampak panjang dari Agen Oranye ini adalah kerusakan lingkungan hutan di Vietnam yang menjadi kerusakan permanen. Selain kerusakan lingkungan yang sangat besar, Vietnam juga melaporkan bahwa sekitar 400.000 orang terbunuh atau cacat akibat paparan Agent Orange. Ribuan anak dilahirkan dengan kecacatan yang cukup serius.
Nguyen Thanh Hai, 34 tahun, adalah satu dari jutaan penyandang disabilitas yang terkait dengan Agen Oranye. Terlahir dengan tantangan perkembangan yang parah, ia berjuang keras untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dianggap remeh oleh orang lain, seperti mengancingkan kemeja biru yang dikenakannya saat pergi ke sekolah khusus di Da Nang, berlatih alfabet, menggambar bentuk, atau menyusun kalimat-kalimat sederhana.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/5ac8b5cd-cb53-4388-a888-27447632b926_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/80333b43-9af7-4c02-83ff-0fa2346a8da9_jpg.jpg)
Hai tumbuh besar di Da Nang, lokasi pangkalan udara AS. Ini menjadi salah satu lokasi yang paling besar dan luas mendapat dampak dari Agent Orange yang ditinggalkan selama beberapa dekade. Zat kimia ini meresap ke dalam makanan dan air di daerah-daerah hunian warga, salah satunya di desa tempat Hai tinggal. Zat ini berdampak pada penduduk dari generasi ke generasi.
“Mereka telah menjadi korban dua kali, pertama oleh perang dan konsekuensi yang mereka derita. Dan sekarang karena mereka tidak berdaya,” kata Chuck Searcy, seorang veteran Perang Vietnam AS yang telah bekerja pada program-program kemanusiaan sejak 1995, seperti dikutip Associated Press.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/ac38f9de-e835-432e-a809-2d50fb392dc2_jpg.jpg)
Perang vietnam memang telah berakhir 50 tahun lalu, namun bagi korban yang harus menanggung efek Agen Oranye, sejatinya perang itu masih berlangsung hingga hari ini.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari