Pertemuan itu batal menghasilkan kesepakatan mineral logam tanah jarang Ukraina-AS. Trump menekan Zelenskyy untuk gencatan senjata secepatnya.
01 Mar 2025 08:45 WIB · Internasional
WASHINGTON, SABTU — Pembicaraan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta wakilnya, JD Vance, berakhir dengan pertengkaran panas di depan media.
Pembicaraan itu berakhir tanpa kesepakatan. Trump menekan Zelenskyy untuk melakukan gencatan senjata secepatnya.
Setelah pertemuan panas di Ruang Oval di Gedung Putih, Jumat (28/2/2025) waktu setempat, Trump mengancam Zelenskyy untuk berdamai atau kehilangan dukungan AS di perang dengan Rusia. Namun ia meragukan Zelenskyy berniat damai.
”Dia bukan orang yang ingin berdamai,” kata Trump, beberapa jam setelah keduanya melakukan pertemuan yang kontroversial di Ruang Oval. ”Saya ingin gencatan senjata sekarang,” katanya menegaskan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/01/83fb2e40bb0dbe992ee155680d326484-AFP_36YW7LX.jpg)
Trump mengatakan, ia yakin Putin siap untuk perjanjian damai. Dalam perdebatan panas dengan Zelenskyy, Trump beberapa kali membela Putin. Menurut Trump, Putin telah banyak melalui kesulitan dalam perang yang telah berlangsung selama tiga tahun itu.
”Putin telah mengalami banyak kesulitan, dia mengalami pelecehan yang sangat keterlaluan,” kata Trump, merujuk pada penyelidikan selama masa jabatan pertama Trump terkait tuduhan kampanye pemilihannya tahun 2016 berkolusi dengan Moskwa.
”Kamu bisa melakukan gencatan senjata secepatnya, maka peluru akan langsung berhenti beterbangan dan orang-orangmu tak lagi terbunuh,” kata Trump sambil menuding-nuding Zelenskyy saat jumpa pers setelah pertemuan.
Zelenskyy tak mau kalah. Keduanya saling memotong pembicaraan satu sama lain dan bertengkar satu sama lain. Vance turut menekan Zelenskyy dengan mengatakan ia telah tidak hormat kepada AS di depan media-media AS. ”Apakah kamu sekali saja mengatakan terima kasih dalam rapat ini? Tidak,” kata Vance.
Setelah pertemuan, secara terpisah, Zelenskyy mengatakan, Ukraina tidak akan memasuki perundingan damai dengan Rusia sampai Ukraina memperoleh jaminan keamanan terhadap serangan lain. Zelenskyy menambahkan, pertikaian sengit hari Jumat dengan Presiden Donald Trump tidak baik untuk kedua belah pihak.
Pertemuan itu juga batal menghasilkan kesepakatan mineral logam tanah jarang Ukraina-AS. Zelenskyy sebenarnya datang diundang ke Gedung Putih untuk menandatangani kesepakatan yang berisi Ukraina mengirim logam tanah jarang itu ke AS. Kesepakatan tersebut dimaksudkan agar Trump tetap berpihak kepada Ukraina.
Saya ingin gencatan senjata sekarang.
Dalam perdebatan itu, Zelenskyy mengatakan bahwa Trump perlu memahami bahwa Ukraina tidak dapat mengubah sikap terhadap Rusia dalam sekejap.
”Negaramu berada dalam situasi sangat sulit, kamu tidak punya apa pun untuk mendikte AS,” kata Trump kepada Zelenskyy.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/01/972a1e66bbc3684952e50fd42719d1fe-AFP_36YU9QH.jpg)
Awal pertemuan sebenarnya berjalan sangat baik. Kedua pemimpin itu berjabat tangan dan bertukar sapa dengan sopan. Selama 40 menit pertama, mereka tampak berbicara dengan sopan santun.
Namun, setelah pertemuan, dalam beberapa menit, kesempatan berfoto diplomatik di Ruang Oval menjadi ajang pertengkaran sengit. Selama 11 menit, Zelenskyy dan Trump yang didukung Vance saling melontarkan pernyataan-pernyataan sengit.
Pertemuan yang seharusnya menjadi langkah menuju perdamaian antara Ukraina dan Rusia itu dalam sekejap berubah menjadi pertikaian sengit yang membuat nasib Kyiv semakin tak pasti tanpa dukungan AS.
Media-media AS menyebut pertengkaran Trump-Zelenskyy itu mungkin merupakan salah satu adegan paling luar biasa yang pernah terjadi di Ruang Oval yang selama ini dianggap sebagai jantung kepresidenan AS yang suci tempat para pemimpin Amerika menjamu rekan-rekan asing mereka.
Media AS, Axios, menyebut sejak awal Trump-Vance jengkel. Sebab, Zelenskyy tidak datang memakai jas. Zelenskyy tetap memakai seragam perang seperti dipakainya sejak Rusia menyerbu.
Axios dan The Washington Post juga melaporkan, Trump mempertimbangkan berhenti mengirim senjata ke Ukraina. Kemarahan selama pertemuan menjadi penyebabnya.
Pertikaian dimulai dengan pernyataan Vance yang menuduh Zelenskyy tidak bersyukur atas dukungan AS. Pernyataan ini terlontar menjawab Zelenskyy yang mempertanyakan seruan Vance untuk diplomasi dengan Moskwa.
”Saya pikir Anda tidak sopan datang ke Ruang Oval dan mengajukan gugatan di depan media Amerika,” kata Vance, yang duduk di sofa dekat kedua pemimpin itu.
Saat suhu meningkat, Zelenskyy melipat tangannya dan bertanya kepada Vance apakah dia pernah ke Ukraina dan mengetahui kondisinya secara langsung. Vance yang marah menjawab bahwa Zelenskyy tengah memimpin tur propaganda. Trump terpancing dan membela Vance.
Ketika Zelenskyy mengatakan bahwa meskipun berada di seberang lautan dari Eropa, AS akan merasakan dampak jika tidak membantu Kyiv. ”Jangan beri tahu kami apa yang akan kami rasakan,” kata Trump, meninggikan suaranya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/01/ffd7b6f0cc7e41b928acd25c190cc83e-cc7b81d8e75346509e5c1da324521ba9_0_38bbbfcbac1141069841f11d9e27cace.jpg)
Setelah itu, pertengkaran sengit terjadi. Ketegangan Zelenskyy-Trump telah menggelegak sejak Trump berbicara dengan Putin pada 12 Februari 2025. Sejak itu, Trump telah menghina Zelenskyy sebagai diktator tanpa pemilu dan menuduhnya tak mau damai.
”Anda mempertaruhkan nyawa jutaan orang. Anda mempertaruhkan Perang Dunia III, dan apa yang Anda lakukan sangat tidak menghormati negara ini,” kata Trump dalam perdebatan di Ruang Oval.
Dengan wajah merah dan geram, Trump menuding-nuding ke arah Zelenskyy. Bahkan, Trump menepis lengan atas Zelenskyy saat keduanya saling potong pembicaraan.
Ketika Zelenskyy bertanya apakah dia bisa menjawab, Trump mengatakan tidak. ”Tidak, tidak, Anda sudah banyak bicara. Negara Anda tidak menang,” katanya.
Saat pertengkaran berlanjut, wartawan dengan panik memfilmkan dan mengetuk telepon mereka, sementara seorang diplomat Ukraina membenamkan kepalanya di tangannya. ”Kamu akan membuat kesepakatan atau kami keluar,” kata Trump kepada Zelenskky.
Ia kemudian menghentikan pertemuan dan wartawan diminta keluar. Sekitar satu jam kemudian, Zelenskyy tiba-tiba meninggalkan Gedung Putih dan upacara penandatanganan kesepakatan mineral dibatalkan.
Di Moskwa, Kremlin menggosok tangannya dan memuji sikap keras Trump terhadap Zelenskyy.
Para pemimpin Eropa menyatakan dukungan dan menunjukkan solidaritas untuk Zelenskyy. Dalam waktu singkat, para perdana menteri dan presiden di benua itu mengunggah dukungan mereka di media sosia.
Meskipun mereka tidak secara langsung mengkritik Presiden AS, komentar mereka memperjelas bahwa mereka mendukung Kyiv. Hal ini semakin memperdalam keretakan besar antara AS dan Eropa yang dulunya bersekutu erat dalam mendukung Ukraina.
”Ada agresor: Rusia. Ada orang-orang yang diserang: Ukraina,” kata Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam unggahannya di X.
”Hormat kepada mereka yang, sejak awal, telah berjuang. Karena mereka berjuang untuk martabat mereka, kemerdekaan mereka, untuk anak-anak mereka, dan untuk keamanan Eropa,” ujar Macron yang baru beberapa hari sebelumnya bertemu Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/25/c6489f679181995b0e57291918ed683a-AFP_36YL4PY.jpg)
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk merupakan salah satu orang pertama yang menunjukkan dukungannya untuk Zelenskyy dan Ukraina di media sosial. ”Anda tidak sendirian,” katanya.
Dua pejabat tinggi Uni Eropa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa juga mengunggah dukungannya.
”Martabat Anda menghormati keberanian rakyat Ukraina. Tetap kuat, berani, tak kenal takut. Anda tidak pernah sendirian. Kami akan terus bekerja sama dengan Anda untuk perdamaian yang adil dan abadi,” kata mereka.
Dari Berlin, Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan tidak seorang pun menginginkan perdamaian lebih dari rakyat Ukraina.
Adapun pemimpin konservatif Jerman Friedrich Merz, calon pengganti Scholz setelah partainya memenangi pemilihan umum Minggu lalu, juga memberikan dukungan.
”Kami mendukung Ukraina di masa-masa baik dan masa-masa sulit. Kita tidak boleh menyamakan agresor dan korban dalam perang yang mengerikan ini,” katanya.
Di Italia, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengusulkan jalan tengah. Ia menyarankan konferensi tingkat tinggi bagi AS, negara-negara Eropa, dan sekutu untuk membahas cara menghadapi tantangan besar saat ini, dimulai dengan Ukraina.
”Setiap perpecahan di Barat membuat kita semua lebih lemah dan menguntungkan mereka yang ingin melihat kemunduran peradaban kita,” kata Meloni yang mendukung Ukraina tapi juga dekat dengan Trump.
Sebaliknya, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas secara blak-blakan menyatakan bahwa Washington tidak dapat lagi memimpin dunia bebas.
”Hari ini menjadi jelas bahwa dunia bebas membutuhkan pemimpin baru. Terserah kita, orang Eropa, untuk menerima tantangan ini,” katanya.
Kallas menyatakan akan meningkatkan dukungan kepada Ukraina sehingga mereka dapat terus melawan agresor.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/25/d8ad7db55c18d3eec7f35bde18be7fdf-Russia_Ukraine_War_127751080.jpg)
Pemimpin dari Belgia, Kroasia, Republik Ceko, Estonia, Finlandia, Irlandia, Latvia, Lituania, Luksemburg, Belanda, Portugal, Slovenia, Spanyol, dan Swedia juga termasuk di antara mereka yang menyatakan dukungan untuk Ukraina.
Namun, Perdana Menteri nasionalis Hongaria Viktor Orban, sekutu Trump, bersikap sebaliknya. Ia mendukung Trump. ”Orang kuat menciptakan perdamaian, orang lemah menciptakan perang,” tulisnya di X.
”Hari ini Presiden @realDonaldTrump berdiri dengan berani untuk perdamaian. Meskipun sulit bagi banyak orang untuk menerimanya. Terima kasih, Tuan Presiden!” katanya.
Glenn Diesen, pengajar kajian politik luar negeri Rusia pada University of South-Eastern di Norwegia, menyebut pertemuan itu sebagai bencana diplomasi. "Pertemuan Trump dan Zelenskyy menunjukkan alasan diplomasi masalah sensitif sebaiknya dilakukan secara tertutup," ujarnya.
Perbedaan pendapat di antara pemimpin negara wajar terjadi. Hal yang tak wajar, menunjukkan perdebatan dan perbedaan itu di hadapan umum.
Sejak awal, pertemuan itu jelas diketahui akan membahas isu sensitif. Salah satu sebabnya, tuntutan Ukraina agar AS memberi jaminan keamanan. Tanpa jaminan itu, Ukraina tak mau merundingkan perdamaian dengan Rusia. "Jaminan itu bisa mencegah Rusia melanggar gencatan senjata," kata dia.
Seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap mengatakan ke The Washington Post bahwa ada upaya meredakan ketegangan sebelum pertemuan. Sayangnya, upaya malah berantakan karena pertemuan jadi ajang pertengkaran dua presiden ditambah seorang wapres.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari